Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Tutur Kata Selembut Doa

Angin kencang yang membawa pusaran debu tebal dan serpihan pasir halus mendadak menerjang area proyek lantai atas, menciptakan kepanikan sesaat bagi para pekerja yang sedang beraktivitas. Langit yang semula cerah seketika berubah menjadi kelabu tertutup tirai debu yang pekat. Di tengah kekacauan kecil akibat badai angin musim itu, Arga—yang menyamar sebagai buruh kasar bernama Rian—bergerak cepat melindungi peralatan ukur utama agar tidak tertimpa reruntuhan material ringan.

Namun, di sudut lain platform terbuka, Kirana yang siang itu tengah melakukan inspeksi mendadak bersama asistennya sempat terperangkap oleh terjangan angin puyuh yang cukup kuat. Masker pelindungnya nyaris terlepas, dan matanya terpejam rapat menghindari serbuan butiran debu tajam yang beterbangan bebas di udara.

Melihat situasi tersebut, tanpa memikirkan identitas samarannya, Arga melangkah sigap menembus kepulan debu. Dengan tubuh tegapnya, ia berdiri di sisi arah datangnya angin, menggunakan tubuh dan rompi proyeknya sebagai perisai pelindung untuk menahan terpaan badai pasir yang mengarah langsung ke tempat Kirana berdiri.

"Nona, menunduklah dan lindungi mata Anda!" seru Arga dengan suara berat yang sengaja sedikit disamarkan, namun tetap terdengar tegas di tengah deru angin.

Kirana yang sempat terhuyung karena kencangnya dorongan udara, merasakan sebuah dinding kokoh berupa punggung dan bahu seorang buruh lapangan yang dengan sukarela melindunginya dari terjangan debu. Beberapa detik berlalu dalam ketegangan, hingga akhirnya pusaran angin kencang itu berangsur-angsur melemah dan berlalu meninggalkan sisa-sisa debu putih yang beterbangan perlahan di udara lantai bangunan.

Suasana di sekitar area proyek kembali senyap, menyisakan deru napas berat dari para pekerja yang siaga. Kirana perlahan membuka matanya, merapikan sedikit jilbab syar'inya yang agak berantakan, lalu mendongak untuk melihat siapa sosok buruh berhati mulia yang telah melindunginya.

"Ya Allah... terima kasih banyak, Mas Rian," ucap Kirana dengan napas yang masih sedikit tersengal, menatap sosok di hadapannya dengan sorot mata penuh rasa syukur yang mendalam.

Arga mundur selangkah secara sopan, menundukkan kepalanya sejenak untuk menjaga jarak profesional antara seorang direktur utama dan kuli bangunan harian. "Sama-sama, Nona. Sudah kewajiban kita semua untuk saling menjaga keselamatan di area kerja ini," jawab Arga dengan nada rendah yang diatur senatural mungkin.

Namun, saat Kirana mengamati wajah Arga lebih dekat, ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Mas Rian... mata sebelah kanan Anda memerah dan berair cukup parah. Pasti ada banyak debu halus yang masuk ke dalam mata Anda saat melindungi saya tadi, kan?" tanya Kirana dengan nada suara yang mencerminkan rasa bersalah sekaligus kepedulian tulus yang luar biasa.

Arga sempat mengerjap beberapa kali, merasakan perih yang cukup menyengat di permukaan bola matanya akibat terjangan partikel semen dan pasir halus. "Ah, tidak apa-apa, Nona. Ini hanya kemasukan debu biasa. Nanti juga sembuh sendiri setelah dibasuh air bersih," jawab Arga berusaha tersenyum tipis untuk menepis kekhawatiran sang direktur utama.

"Jangan dianggap remeh, debu semen itu bisa menyebabkan iritasi kornea jika dibiarkan," balas Kirana cepat, tidak mau membantah. Ia kemudian menoleh ke arah Siska, asisten pribadinya yang baru saja menyusul dari arah tangga darurat. "Siska, cepat ambilkan sebotol air mineral steril dan tisu bersih dari tas logistik sekarang juga!"

"Baik, Nona Kirana!" jawab Siska sigap, lalu segera merogoh tas punggungnya dan menyerahkan sebotol air mineral baru yang masih tersegel rapat kepada atasannya.

Kirana menerima botol tersebut, membuka segel tutupnya dengan cepat, lalu melangkah lebih dekat ke hadapan Arga. Meskipun jarak mereka hanya terpaut setengah meter, wibawa dan keanggunan Kirana sama sekali tidak luntur oleh suasana lapangan yang kotor dan berdebu.

"Mas Rian, duduklah sebentar di bangku kayu itu. Biar saya bantu membersihkan mata Anda," ucap Kirana dengan nada penuh kelembutan yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun yang mendengarnya.

Arga tertegun sejenak. Menatap manik mata Kirana yang memancarkan ketulusan murni tanpa ada sedikit pun kepalsuan korporasi membuat debar di dadanya berpacu jauh lebih cepat daripada saat ia menghadapi badai angin tadi. Rasa perih yang mendadak menyerang matanya seolah kehilangan daya cengkeramannya, kalah oleh kehangatan perhatian yang diberikan oleh wanita mulia tersebut.

"Terima kasih banyak atas perhatiannya, Nona. Tapi sungguh, saya bisa membersihkannya sendiri," ucap Arga sopan sambil menerima botol air mineral dari tangan Kirana. Sentuhan sekilas antara jemari mereka mengirimkan sengatan halus yang langsung menjalar ke seluruh aliran darah Arga.

"Tidak apa-apa, silakan gunakan air bersih itu untuk membasuh mata Anda secara perlahan," kata Kirana sambil meletakkan beberapa lembar tisu higienis di atas telapak tangan Arga. "Saya merasa punya utang budi karena Anda tadi mempertaruhkan keselamatan diri sendiri untuk melindungi saya dari terjangan debu tadi."

Arga tersenyum tipis, rasa perih di matanya hilang seketika mendengar suara lembut Kirana yang bagaikan obat penawar letih yang paling mujarab di dunia ini. "Sudah tugas saya memastikan keamanan manajemen, Mbak," jawab Arga formal namun tulus, tanpa sadar melunturkan sedikit lapisan sandiwara perannya sebagai buruh kasar.

Begitu kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya, Arga langsung tersadar akan kekonyolan kecil yang baru saja ia perbuat. Ia menggunakan kata ganti "Mbak" dan menyebut kata "manajemen" dengan artikulasi yang terlalu rapi untuk ukuran seorang kuli bangunan harian yang seharusnya memanggil atasannya dengan sebutan "Nona" secara kaku.

Di hadapannya, Kirana mendadak tertegun di tempatnya. Alis halusnya yang berbalut jilbab syar'i berwarna navy itu berkerut tajam. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arga dengan pandangan menyelidik yang penuh tanda tanya besar. Diksi kata "manajemen" yang diucapkan Rian begitu fasih, elegan, dan penuh percaya diri—sama sekali tidak mencerminkan cara berbicara para buruh kasar yang biasa bekerja mengangkat semen dan besi di lantai proyek.

"Tunggu sebentar..." bisik Kirana pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati namun penuh selidik. "Apa yang baru saja kamu katakan, Mas Rian? Mengapa cara kamu melafalkan kata 'manajemen' terdengar begitu... tidak biasa bagi seorang pekerja lapangan?"

Arga merasakan aliran darahnya berdesir dingin. Ia harus segera memutar otak untuk menyelamatkan penyamarannya agar tidak runtuh di tengah jalan sebelum seluruh bukti kecurangan internal perusahaan berhasil diserahkan secara resmi kepada wanita di hadapannya ini.

"Ah... maksud saya, eh... kepengurusan di lapangan ini, Nona," ralat Arga cepat dengan sedikit mengubah nada suaranya agar kembali terdengar agak serak seperti ciri khas Rian sang kuli bangunan. "Maksud saya, sebagai pekerja yang sering ikut mengawasi jalannya logistik kecil-kecilan, saya sering mendengar istilah-istilah itu dari para pengawas senior seperti Pak Darma."

Kirana masih mematung, menatap Arga lekat-lekat seolah ia sedang mencoba membaca setiap garis wajah yang tertutup debu tipis dan keringat di pelipis pemuda itu. Ada intuisi tajam di dalam diri Kirana yang menolak percaya begitu saja pada alasan klise tersebut. Sorot mata Arga yang tajam, postur tubuhnya yang tegak meskipun mengenakan pakaian kuli yang kusam, serta cara bicaranya yang sempat lepas kendali tadi menyimpan teka-teki besar yang sangat mengusik rasa penasarannya.

Lihat selengkapnya