Matahari pagi di atas kawasan konstruksi Grand Syariah Residence baru saja meninggi, memancarkan sinar hangat yang menembus jendela kaca besar kantor lapangan. Di dalam ruangan ber-AC yang sejuk itu, suasana tampak sibuk namun tegang. Kirana Zhafran duduk di balik meja kerjanya dengan dahi yang berkerut dalam, menatap layar komputer jinjing di hadapannya sambil memegang selembar laporan cetak biru pengiriman material dari vendor luar.
Beberapa lembar nota kuning berisi rekapitulasi pasokan bata ringan menumpuk berserakan di atas meja. Kirana menghela napas panjang, merapikan jilbab syar'i berwarna hijau salvia yang ia kenakan, lalu memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut puyeng. Sudah hampir satu jam ia berkutat dengan angka-angka tersebut, namun ada kejanggalan besar yang sama sekali tidak masuk akal dalam neraca inventaris mingguan.
"Aneh sekali..." gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati. "Total volume fisik bata ringan yang tertumpuk di gudang barat tidak sinkron dengan jumlah kubikasi yang ditagihkan oleh vendor utama. Ada selisih angka yang sangat besar, tapi di mana letak kesalahannya?"
Di sudut ruangan, Zhafira dan Gamila—dua staf administrasi yang juga sahabat karib Kirana—turut sibuk memeriksa ulang berkas-berkas dari arsip lama. Mereka berdua ikut merasa cemas melihat atasan mereka tampak begitu kelelahan memikirkan selisih anggaran yang melibatkan nominal ratusan juta rupiah tersebut.
"Bagaimana, Kirana? Apakah laporan dari vendor PT Sinar Beton itu masih bermasalah?" tanya Zhafira sambil melangkah mendekat membawa secangkir teh hangat.
Kirana menggelengkan kepalanya lesu, menerima cangkir teh tersebut. "Iya, Fira. Ada selisih perhitungan yang nilainya cukup signifikan. Kalau ini tidak segera ditemukan penyebabnya, kita bisa mengalami kerugian material atau salah catat dalam laporan audit pusat akhir bulan nanti. Padahal staf administrasi kita sudah memeriksanya dua kali."
Tepat pada saat ketegangan itu menyelimuti ruangan, pintu kayu berbingkai kaca diketuk dari luar dengan sopan. Tiga kali ketukan ringan yang berirama rapi.
"Masuk," jawab Kirana tanpa mendongak, masih fokus menatap deretan angka di layar komputernya.
Pintu terbuka perlahan, memunculkan sosok Arga—yang mengenakan kemeja flanel kotak-kotak berdebu tipis dan helm proyek putih di bawah lengannya. Ia datang membawa bundel nota fisik harian untuk diserahkan ke bagian logistik.
°˖✧✿✧˖°
Arga melangkah masuk dengan tenang, menjaga pandangannya tetap santun sesuai aturan etika kerja. Namun, begitu ia mendekati meja utama, langkah kakinya sedikit melambat saat melihat ekspresi wajah Kirana yang tampak sangat kelelahan dan penuh beban pikiran. Kerutan di dahi Kirana yang biasanya selalu tenang itu tertangkap jelas oleh penglihatan Arga.
"Selamat pagi, Nona Kirana, Zhafira, dan Gamila," sapa Arga dengan suara baritone yang tenang, meletakkan setumpuk nota fisik harian di sudut meja administrasi.
"Pagi juga, Rian," jawab Gamila singkat sambil membereskan map arsip.
Arga hendak membalikkan badan untuk keluar dari ruangan, namun ekor matanya tanpa sengaja menangkap tampilan layar monitor laptop Kirana yang menampilkan tabel rekapitulasi kubikasi bata ringan, bersanding dengan lembaran nota kuning yang bertuliskan formula manual. Sebagai lulusan pascasarjana manajemen konstruksi dan bisnis internasional dari Universitas Gazi di Ankara, Turki—dengan spesifikasi keahlian analisis rantai pasok logistik global—otak Arga secara otomatis langsung melakukan pemindaian visual terhadap deretan angka tersebut dalam hitungan detik.
Ia melihat ada kejanggalan mencolok pada rumus perkalian koefisien konversi satuan volume yang digunakan oleh sistem pencatatan manual vendor tersebut.
Arga berhenti melangkah. Ia tahu betul risiko jika ia terlalu mencampuri urusan manajerial tingkat tinggi, namun melihat wanita yang dicintainya tampak begitu puyeng dan tertekan, nalurinya sebagai seorang ahli strategi bisnis langsung terpanggil.
"Maaf mengganggu konsentrasi Nona Kirana..." ucap Arga dengan nada ragu-ragu yang dibuat-buat agar terdengar seperti buruh biasa, namun cukup jelas untuk menarik perhatian. "Saya melihat Nona sepertinya sedang menghadapi masalah pelik dengan laporan inventaris itu."
Kirana mendongakkan kepalanya, menatap Arga dengan sebelah alis terangkat. Meskipun ia adalah seorang atasan, ia tidak pernah meremehkan masukan dari siapapun, termasuk staf lapangan. "Iya, Rian. Ada selisih kubikasi bata ringan dari vendor yang membuat laporan kita berantakan. Staf kami sudah memeriksa berulang kali, tapi rumusnya selalu tidak klop."
°˖✧✿✧˖°