Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Alibi yang Menyelamatkan

Suasana di lantai atas proyek konstruksi yang sedang direnovasi itu mendadak terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, meskipun deru mesin pemotong besi masih terdengar sayup-sayup dari lantai bawah. Angin sore yang membawa debu halus berhembus pelan melintasi kerangka beton bangunan, menerpa ujung jilbab syar'i Kirana yang berwarna navy gelap. Di hadapannya, Arga—yang masih mengenakan rompi kuli bangunan kusam dan helm proyek kuning dengan nama samaran Rian—berdiri tegak menahan debar jantung yang mendadak berpacu lebih cepat dari batas normal.

Pertanyaan tajam yang meluncur dari bibir Kirana beberapa detik lalu masih menggantung di udara, mengusik ketenangan yang sedari tadi coba dijaga oleh Arga. Tatapan mata Kirana yang jernih dan penuh selidik menembus celah-celah debu tipis di wajah Arga, seolah sedang membedah setiap lapis kebohongan kecil yang terpaksa dibangun demi kelancaran misi penyamaran ini.

"Tunggu sebentar, Mas Rian," ucap Kirana sekali lagi, mengulangi kalimat yang membuat tenggorokan Arga mendadak terasa kering. "Cara kamu melafalkan istilah teknis manajemen dan pengawasan struktur tadi... rasanya mustahil keluar begitu saja dari seorang pekerja kasar harian yang hanya mengandalkan tenaga fisik di lapangan. Siapa sebenarnya kamu, dan dari mana kamu mendapatkan wawasan seluas itu?"

Arga menelan ludahnya secara perlahan. Otaknya berputar bagai mesin jet yang bekerja di ambang batas maksimal. Jika ia salah memberikan argumen, seluruh penyamaran yang telah ia bangun berbulan-bulan untuk membongkar sindikat korupsi internal di perusahaannya sendiri bisa runtuh seketika di hadapan wanita yang paling ia kagumi di dunia ini.

"Saya... ah, saya hanya seorang pekerja yang suka memerhatikan cara para insinyur bekerja, Nona," jawab Arga dengan suara yang sengaja dibuat agak tercekat, berusaha mempertahankan intonasi khas Rian si kuli bangunan. Namun, sebelum Kirana sempat melontarkan pertanyaan susulan yang lebih mendalam, sebuah insiden mengejutkan mendadak terjadi di sudut barat lorong lantai tersebut.

Brak! Prang!

Suara benturan keras ember seng yang menghantam lantai beton disusul oleh hamburan puluhan batu bata merah yang menggelinding bebas membuat seluruh orang yang berada di dekat sana terperanjat kaget.

"Aduh, ampun! Sialan, licin banget!" teriak sebuah suara suara serak yang sangat dikenali oleh Arga dari arah tumpukan material.

Itu adalah Gazhi. Sahabat sekaligus tangan kanan kepercayaan Arga tersebut sengaja menjatuhkan seluruh muatan gerobaknya demi menciptakan gangguan fisik yang masif. Dalam sekejap, perhatian Siska sang asisten pribadi dan para pengawas proyek yang berdiri di sekitar sana langsung teralihkan ke arah sumber suara.

"Ada apa di sana?! Siapa yang ceroboh menjatuhkan material?!" seru Siska dengan nada terkejut, spontan menoleh ke arah kegaduhan tersebut sambil melangkah beberapa langkah menjauhi posisi Arga dan Kirana.

Kirana, yang semula fokus sepenuhnya menatap mata Arga, ikut teralihkan perhatiannya oleh suara bising di ujung lorong. Alis halusnya berkerut cemas melihat hamburan batu bata dan tumpukan semen yang berantakan. "Siska, cek ke sana! Pastikan tidak ada pekerja yang terluka akibat kecerobohan itu," instruksi Kirana cepat kepada asistennya.

"Baik, Nona!" balas Siska, lalu bergegas berlari kecil menghampiri Gazhi yang sedang terduduk pura-pura mengusap lututnya di tengah tumpukan batu bata.

Di saat momentum pengalihan perhatian yang tercipta berkat kecerdikan Gazhi itulah, Arga langsung mendapatkan celah waktu yang sangat berharga untuk menarik napas dalam-dalam dan merangkai alibi penyelamat yang paling logis.

Meskipun situasi di sekitar mereka mulai sibuk oleh suara teguran pengawas kepada Gazhi, Arga tahu ia harus segera memberikan jawaban yang masuk akal sebelum Kirana kembali memusatkan seluruh perhatian tajamnya kepada dirinya.

"Maafkan kelengahan rekan kami di sana, Nona," ucap Arga dengan nada yang kini terdengar lebih tenang dan terkontrol, berusaha mengembalikan fokus Kirana. "Mengenai pertanyaan Anda tentang cara saya berbicara tadi... sebenarnya ada cerita di balik itu semua."

Kirana, yang sempat menoleh ke arah kegaduhan, kembali mengalihkan pandangannya kepada Arga. Tatapannya masih menyiratkan rasa penasaran yang belum tuntas, namun ia memilih mendengarkan penjelasan sang kuli bangunan dengan sabar. "Cerita apa maksudmu, Mas Rian?" tanyanya lembut.

Arga merapatkan kedua tangannya di depan dada, memasang ekspresi seorang pekerja lapangan yang jujur namun memiliki latar belakang kisah hidup yang tidak biasa. "Dulu, sebelum saya merantau ke Surabaya dan bekerja sebagai buruh harian di proyek ini, paman saya adalah seorang pemborong bangunan skala kecil di kota asal saya. Beliau sering meninggalkan buku-buku catatan teknik sipil, cetak biru bangunan, dan jurnal manajemen konstruksi di rumah."

Arga menghentikan sejenak ucapannya, menatap lurus ke dalam manik mata Kirana dengan tatapan yang dibuat selugas mungkin agar tampak meyakinkan. "Karena saya sejak kecil punya ketertarikan besar pada dunia arsitektur, saya sering membaca buku-buku milik paman saya itu di waktu senggang. Ditambah lagi, dalam beberapa tahun terakhir ini, saya sering menghabiskan malam dengan menonton berbagai video edukasi teknik sipil dan manajemen proyek gratis di internet menggunakan ponsel murah pinjaman."

Alasan otodidak yang dirangkum Arga meluncur begitu mulus dari bibirnya, dibalut oleh intonasi suara yang terdengar jujur dan rendah hati. Di dalam dunia konstruksi modern, bukanlah hal yang sepenuhnya mustahil jika ada seorang pekerja lapangan tingkat bawah yang gemar belajar secara mandiri melalui literatur lama dan internet.

Kirana mendengarkan penjelasan tersebut dengan seksama. Alis halusnya perlahan mengendur, dan ketegangan di wajahnya berangsur-angsur mencair. Ia mengangguk-angguk kecil, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh pemuda di hadapannya itu.

"Begitu ya..." gumam Kirana pelan, nada suaranya terdengar jauh lebih lunak. "Jadi kamu belajar secara mandiri melalui buku-bukan pamanmu dan internet? Itu adalah bentuk semangat belajar yang luar biasa, Mas Rian. Di zaman sekarang, sedikit sekali buruh harian yang mau meluangkan waktu senggangnya untuk memperkaya wawasan tentang dunia teknik dan manajemen bangunan."

Arga sedikit mengembuskan napas lega di dalam hatinya, merasakan beban berat di pundaknya mendadak terangkat separuh. "Hanya sekadar hobi membaca saja, Nona. Supaya saya tidak hanya tahu cara mengangkat batu dan mencangkul semen, tapi juga mengerti untuk apa bangunan itu berdiri kokoh," jawab Arga dengan senyuman tipis yang tampak sangat natural di balik debu tipis yang menempel di pipinya.

Dari kejauhan, Gazhi yang berdiri di samping Siska sambil pura-pura merapikan batu bata sempat melirik sekilas ke arah Arga, memberikan kedipan mata cepat seolah menyampaikan pesan keberhasilan atas alibi yang baru saja dieksekusi dengan sempurna.

Meskipun Kirana tampak mengangguk dan menerima alasan yang diberikan oleh Arga, nurani dan kecerdasan alami yang melekat pada diri sang pewaris korporasi itu tidak serta merta membuat rasa penasarannya lenyap begitu saja. Bagi Kirana, ada sesuatu yang terasa ganjil dan tidak sepenuhnya klop di balik sosok Rian. Kecerdasan, ketenangan sikap, dan cara pemuda itu menyusun kalimat terlalu matang dan alami untuk ukuran seorang pembelajar otodidak biasa yang hanya bekerja sebagai kuli harian di proyek konstruksi yang keras ini.

"Meskipun belajar secara otodidak dari internet dan buku lama," ucap Kirana pelan sambil menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Arga, "ketajaman analisis dan pilihan kosakata yang kamu gunakan tadi memiliki standar kedisiplinan intelektual yang tinggi, Mas Rian. Jarang sekali ada orang yang bisa merangkum filosofi manajemen konstruksi sekokoh itu secara spontan."

Arga kembali merasakan debar kecil di dadanya. Ia menyadari bahwa membohongi seorang perempuan cerdas lulusan Universitas Al-Azhar Kairo bukanlah perkara mudah. Kirana memiliki kepekaan batin dan ketajaman berpikir yang mampu menembus lapisan sandiwara tertipis sekalipun.

Lihat selengkapnya