Suasana di dalam kantor lapangan proyek Grand Syariah Residence pada siang hari itu terasa sedikit lebih tenang setelah hiruk-pikuk pemeriksaan laporan keuangan dan logistik selesai dikoordinasikan. Di ruang administrasi utama, kipas angin dinding berputar pelan menghembuskan udara sejuk yang berpadu dengan aroma wangi kopi hitam tubruk racikan Gamila. Di balik meja kerja berbingkai kayu jati, Zhafira dan Gamila duduk berdampingan sambil menatap layar monitor komputer, namun perhatian mereka sesekali terarah ke luar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pelataran proyek.
Dari balik tirai jendela kantor lapangan yang transparan, Zhafira dan Gamila sejak beberapa hari terakhir secara saksama mengamati dinamika interaksi yang terjadi di antara Kirana Zhafran dan sang staf logistik harian, Rian Ardiansyah. Sebagai dua orang sahabat karib yang sudah mengenal Kirana sejak masa kuliah di Kairo, Mesir, mereka berdua bukanlah gadis yang mudah dibohongi oleh alasan-alasan profesionalitas kerja semata.
"Mila, coba kamu lihat ke arah tumpukan batako blok barat sana," bisik Zhafira pelan sambil menyenggol lengan Gamila dengan sikunya, matanya menyipit penuh selidik. "Itu si Rian baru saja mengantar nota harian, dan lihat bagaimana cara Kirana menatapnya saat pemuda itu berjalan keluar. Tatapan matanya tidak seperti seorang bos yang sedang mengevaluasi bawahan, kan?"
Gamila mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia melihat sosok Rian—dengan kemeja flanel kotak-kotak berdebu dan helm putihnya—berjalan sopan menunduk menjauhi pintu kantor, sementara Kirana di dalam ruangan tampak diam terpaku sejenak memandangi kepergian pemuda tersebut dengan senyuman tipis yang tertahan di bibirnya.
"Kamu benar, Fira," jawab Gamila pelan sambil menyesap teh hangatnya. "Bukan cuma itu saja. Kalau kita perhatikan dari insiden badai debu minggu lalu, insiden sapu tangan, sampai kejadian rumus logistik tadi pagi... ada sesuatu yang tidak biasa di antara mereka berdua. Rian itu selalu siaga menjaga keselamatan Kirana secara refleks, tapi hebatnya dia selalu menjaga jarak dan tidak pernah melanggar batas-batas syariat—tidak pernah berduaan di tempat sepi, tidak pernah bersentuhan fisik sedikit pun."
°˖✧✿✧˖°
Zhafira mengangguk setuju, melipat kedua tangannya di atas meja kerja dengan ekspresi wajah penuh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. "Nah, itu dia poin utamanya! Seorang buruh kasar harian tidak mungkin punya sikap sebersih dan sehormat itu kalau dia bukan berasal dari kalangan terdidik yang punya prinsip kuat. Dan yang paling penting, Kirana yang biasanya sangat dingin dan rasional kalau menghadapi staf kantor, mendadak berubah menjadi gadis yang sangat puitis dan salah tingkah setiap kali Rian ada di dekatnya."
Di sisi lain ruangan, Kirana yang baru saja keluar dari ruang arsip membawa bendel dokumen tambahan merasa punggungnya mendadak agak meremang. Ia menyadari betul bahwa kedua sahabat karibnya itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh selidik dan senyuman penuh makna yang amat mencurigakan.
Kirana menarik napas dalam-dalam, merapikan jilbab syar'i berwarna hijau salvia yang ia kenakan, lalu berjalan menghampiri meja kerja Zhafira dan Gamila dengan langkah anggun yang dibuat-buat setenang mungkin.
"Kalian berdua ini kenapa dari tadi senyam-senyum sendiri melihat ke arah luar jendela?" tanya Kirana mencoba memasang ekspresi wajah paling formal dan datar, menutupi debar jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih kencang. "Apakah laporan inventaris batako untuk divisi logistik sore ini belum kalian selesaikan?"
Zhafira dan Gamila saling berpandangan sekilas, lalu tersenyum lebar secara bersamaan. Pancingan halus sudah disiapkan untuk menjebak sahabat kesayangan mereka tersebut di area pantry kantor.
°˖✧✿✧˖°
"Laporan inventaris batako sudah beres seratus persen, Bos Besar Kirana tercinta," sahut Zhafira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan secara manja. Ia berdiri dari kursinya lalu merangkul pundak Kirana dengan akrab. "Tapi jujur saja, konsentrasi kami berdua dari tadi buyar bukan karena angka-angka laporan logistik di komputer, melainkan karena drama romantis tanpa naskah yang sedang tayang langsung di depan jendela kantor kita setiap hari."
Mendengar kata 'drama romantis', pipi Kirana mendadak merona merah seketika. Ia mencoba melepaskan rangkulan Zhafira dengan lembut sambil berpura-pura merapikan tumpukan kertas di meja.