Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Ujian Logat dan Pertolongan Gazhi

Angin malam yang berembus pelan di atas dak beton lantai paling atas bangunan proyek perumahan elit itu membawa kesejukan yang menenangkan setelah seharian disengat terik matahari Surabaya. Cahaya lampu sorot proyek yang berpendar terang memantulkan bayangan panjang Kirana dan Arga yang berdiri berjarak kurang dari satu meter. Suasana senja yang romantis dan kontemplatif perlahan-lahan berubah menjadi keheningan yang sarat akan kedekatan emosional, terutama setelah kalimat bermakna mendalam terucap dari bibir sang direktur muda mengenai kekayaan jiwa di balik kesederhanaan hidup.

Kirana masih menatap lekat-lekat sosok buruh harian di hadapannya dengan seulas senyuman tipis yang menghiasi bibirnya. Ada ketulusan yang teramat sangat di dalam sorot mata gadis itu, seolah ia sedang berbicara dengan seorang sahabat lama yang paling ia percaya, bukan dengan seorang pekerja kasar bawahan di proyek konstruksi.

"Kamu tahu, Mas Rian..." suara Kirana memecah keheningan malam dengan nada yang begitu lembut, bergesek pelan bersama desau angin. "Setiap kali aku berada di tempat tinggi seperti ini, memandangi kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan, pikiranku selalu melayang jauh menembus batas benua. Aku teringat masa-masa kuliahku beberapa tahun lalu di Kairo."

Arga, yang tadinya masih terhanyut dalam resonansi kata-kata Kirana tentang 'jiwa yang kaya', seketika tersadar. Ia menoleh pelan, menatap wajah Kirana yang tampak menerawang indah membayangkan kenangan masa lalu di Mesir.

"Kairo...?" ulangi Arga dengan nada suara rendah, berusaha menjaga karakternya sebagai Rian sang kuli harian.

"Ya, Kairo," lanjut Kirana dengan binar mata yang berbinar-binar penuh kerinduan. "Kota seribu menara yang penuh dengan sejarah peradaban Islam yang agung. Masa-masa ketika aku menimba ilmu hukum muamalah di Universitas Al-Azhar adalah masa paling berharga dalam hidupku. Suasana akademisnya, ketenangan malam di tepi Sungai Nil, deru debu kota yang berpadu dengan aroma rempah pasar tradisional, hingga diskusi-diskusi filosofis bersama para ulama dan sesama mahasiswa rantau... semuanya meninggalkan jejak yang begitu mendalam di hatiku."

Arga mendengarkan penuturan itu dengan saksama. Di dalam hatinya, sebuah senyuman simpul tercipta. Ia tahu betul bagaimana atmosfer Kairo yang diceritakan oleh Kirana, karena dunia akademis internasional adalah bagian dari lingkaran hidup yang sangat akrab dengannya sebelum ia memutuskan mengambil studi lanjutan di tempat lain.

"Pasti sangat luar biasa bisa menuntut ilmu di kota bersejarah seperti itu, Ibu Kirana," ucap Arga dengan nada pelan dan terukur. "Kairo bukan sekadar tempat belajar, melainkan kawah candradimuka yang membentuk karakter keteguhan hati seseorang dalam menegakkan keadilan dan kejujuran."

Kirana menoleh kaget, menatap Arga dengan pandangan penuh kekaguman yang semakin menjadi-jadi. "Kamu bahkan memahami arti mendalam dari atmosfer Kairo hanya dari cerita singkatku, Mas Rian? Sungguh, semakin lama aku berbicara denganmu, semakin aku merasa bahwa wawasan dan cara berpikirmu jauh melampaui batasan profesi yang sedang kamu jalani saat ini."

Pujian tulus yang keluar dari bibir Kirana itu justru membuat Arga harus mengerem keras lidahnya sendiri. Ia menyadari bahwa ia mulai terlena dalam obrolan intelektual tersebut. Sebagai seorang pria yang pernah mengenyam pendidikan pascasarjana bergengsi di Eropa, merespons wacana akademis global adalah hal yang sangat biasa baginya. Namun, dalam balutan rompi kuli kasar berdebu, ia harus ekstra waspada agar tidak kelepasan menggunakan diksi-diksi kelas tinggi yang tidak lazim diucapkan oleh buruh harian biasa.

Terbawa oleh suasana puitis malam itu serta kenangan masa lalunya sendiri di kancah pendidikan internasional, Arga tanpa sadar mulai terseret arus percakapan yang lebih dalam. Udara malam yang dingin dan tatapan mata Kirana yang begitu menghanyutkan membuat benteng pertahanan kewaspadaannya sedikit mengendur.

"Kairo memang memiliki magisnya sendiri, Bu," balas Arga, suaranya mengalir begitu saja dengan intonasi yang tenang dan elegan. "Namun, setiap kota besar di dunia selalu menyimpan kontras peradabannya masing-masing. Keindahan malam di tepian sungai Nil tentu luar biasa, tetapi ketenangan spiritual dan estetika arsitektur klasik yang berpadu dengan modernitas juga bisa ditemukan di belahan dunia lain... seperti halnya pesona kota-kota tua di kawasan lintas benua."

Kirana mengerutkan keningnya samar, mendengarkan cara bertutur kata Arga yang mendadak terdengar sangat fasih, tertata rapi, dan sama sekali tidak mencerminkan gaya bicara seorang buruh bangunan lokal.

"Misalnya...?" tanya Kirana penasaran, matanya menyipit menyelami ekspresi wajah Arga di balik temaram lampu sorot. "Di belahan dunia mana lagi yang kamu maksud, Mas Rian?"

Tanpa menyadari bahaya yang mengintai di balik kata-katanya sendiri, Arga terdorong oleh kenangan masa kuliah pascasarjana-nya di Turki beberapa tahun silam. Bayangan tentang keindahan malam di Selat Bosporus yang membelah benua Asia dan Eropa tiba-tiba berkelebat sangat jelas di dalam benaknya.

"Misalnya... keindahan malam di Selat Bosporus, Turki," ucap Arga lancar, bahkan tanpa sadar ia sedikit mendongakkan kepalanya membayangkan pemandangan jembatan megah yang menghubungkan dua daratan besar dunia tersebut. "Ketika lampu-lampu kota Istanbul menyala gemerlap memantulkan bayangan di atas air laut yang biru gelap, ditemani tiupan angin selat yang membawa kesejukan sejarah kekaisaran silam... Bir milletin ruhu, onun geçmişindeki derin köklerde gizlidir—jiwa sebuah bangsa tersembunyi dalam akar masa lalunya yang begitu dalam."

Tanpa sengaja, Arga melafalkan sebuah kalimat peribahasa berbahasa Turki dengan lafal, intonasi, dan aksen yang begitu sempurna, fasih, tanpa ada sedikit pun keraguan atau kesalahan lidah.

Seketika itu juga, suasana di atas dak beton mendadak menjadi sangat sunyi.

Kirana tertegun membeku di tempatnya berdiri. Kedua matanya membelalak lebar menatap sosok Arga di hadapannya. Kalimat bahasa asing tingkat tinggi yang diucapkan dengan pelafalan sefasih itu bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai oleh sembarang orang—terlebih lagi oleh seorang buruh bangunan harian lulusan lokal yang tadi pagi ia duga hanyalah anak muda desa dari pedalaman Jawa Barat.

Jantung Arga langsung berdegup kencang menghantam dinding dadanya seketika ia menyadari apa baru saja ia ucapkan. Darahnya terasa membeku di tempat. Kebodohan luar biasa! Batin Arga menjerit keras menyadari ia baru saja menjatuhkan perangkapnya sendiri akibat terlalu terlena dalam obrolan filosofis bersama Kirana.

Kirana melangkah pelan mendekati Arga, tatapan matanya berubah tajam, penuh selidik, dan diliputi oleh keheranan yang teramat sangat. Wanita itu meneliti setiap inci postur tubuh dan gerak-gerik sang buruh harian di depannya dengan pandangan seorang analis yang menemukan kejanggalan besar.

"Mas Rian..." bisik Kirana dengan nada suara pelan namun menuntut penjelasan yang tegas. "Bahasa apa itu tadi? Dan bagaimana bisa seorang buruh bangunan harian di proyek Surabaya ini melafalkan kalimat bahasa Turki dengan aksen dan kefasihan senatural itu?"

Arga menelan ludahnya yang terasa kering. Tenggorokannya mendadak tercekat. Ia membuka mulutnya, mencoba mencari alasan atau kilah darurat yang masuk akal untuk menyelamatkan diri dari interogasi mendadak tersebut, namun otaknya mendadak terasa kosong melompong.

"Saya... itu..." ucap Arga terbata-bata sengaja dibuat-buat untuk menyamarkan kepanikannya. "Waktu itu... saya pernah... eh, mendengarnya dari... dari internet, Bu."

"Jangan mengelak, Mas Rian," potong Kirana cepat, sorot matanya semakin menajam penuh selidik, menembus bayangan helm proyek yang dikenakan Arga. "Pelafalan dan intonasi lidahmu tadi bukanlah sesuatu yang bisa ditirukan hanya dari sekadar mendengarkan video acak di internet. Itu adalah kefasihan seseorang yang benar-benar pernah tinggal, hidup, dan mendalami kultur bahasa tersebut secara langsung."

Lihat selengkapnya