Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

di Bawah Hujan Surabaya

Langit kota Surabaya pada sore hari itu mendadak berubah gelap gulita dalam hitungan menit. Awan kumulonimbus yang pekat menggayut rendah di atas kawasan proyek Grand Syariah Residence, menutupi sinar keemasan matahari sore dengan tirai kelabu yang tebal. Suhu udara yang tadinya panas menyengat perlahan-lahan menurun digantikan oleh embusan angin dingin yang menderu kencang, mengguncang dedaunan pohon perindang dan menerbangkan debu-debu halus di pelataran bangunan utama.

Di dalam kantor lapangan, aktivitas pekerjaan konstruksi mulai dihentikan lebih awal demi keselamatan para pekerja. Para mandor dan buruh harian bergegas membereskan alat-alat kerja mereka, mengamankan karung-karung semen ke dalam gudang tertutup, lalu membubarkan diri menuju barak dan tempat tinggal masing-masing sebelum badai benar-benar tumpah ke bumi.

Di ruang administrasi utama, Kirana Zhafran berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah gerbang utama proyek. Ia mengenakan gamis syar'i berbahan katun jepang berwarna hijau salvia dengan jilbab lebar senada yang menutupi dada. Di tangannya, ia memegang seikat bendel dokumen laporan keuangan bulanan yang harus segera ia bawa pulang ke kantor pusat malam ini.

Tiba-tiba, suara gemuruh petir mengguntur hebat disusul oleh deru air yang jatuh begitu deras dari langit. Hujan lebat disertai angin kencang mengguyur kawasan Surabaya dengan intensitas tinggi, menciptakan kabut air putih yang membatasi jarak pandang hanya dalam beberapa meter saja. Genangan air langsung terbentuk dengan cepat di sepanjang pelataran paving block proyek.

Kirana menghela napas panjang, memperhatikan derasnya curah hujan di luar sana sambil melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore lewat seperempat. Ponsel di dalam tasnya berdering pelan; sebuah pesan singkat masuk dari sopir jemputan pribadinya yang mengabarkan bahwa mobil sedan kantor terjebak macet total akibat banjir setinggi mata kaki di jalan protokol utama kota.

°˖✧✿✧˖°

"Ya Allah, bagaimana ini..." gumam Kirana cemas di dalam hati, memandang bendel dokumen penting di tangannya. Jika lembaran-lembaran kertas laporan keuangan itu sampai terkena cipratan air hujan sedikit saja, data penting yang disusun berhari-hari bisa rusak total.

Di sisi lain koridor kantor, Zhafira dan Gamila yang sudah terlebih dahulu bersiap mengenakan jas hujan plastik melangkah mendekati Kirana dengan raut wajah khawatir.

"Kirana, kamu mau pulang bagaimana ini? Sopir jemputanmu tertahan banjir di jalan raya utama, kan?" tanya Zhafira sambil merapikan tudung jas hujan hijaunya. "Kalau menunggu reda, sepertinya hujan ini bakal berlangsung lama sekali."

Kirana mengangguk pelan, tersenyum tipis untuk menenangkan kekhawatiran sahabatnya. "Tidak apa-apa, Fira, Mila. Kalian berdua duluan saja pakai payung kalian. Aku akan menunggu di lobi sampai mobil jemputan bisa menembus jalanan proyek."

"Yakin tidak mau ikut kami menerobos ke pos depan?" tawar Gamila ragu-ragu. "Sayang sekali kalau berkas pentingmu basah kuyup."

"Sudah, sana kalian jalan duluan sebelum gerbang semakin tergenang," jawab Kirana lembut.

Zhafira dan Gamila akhirnya melambaikan tangan, berjalan menerobos tirai air hujan menuju area parkir motor. Kirana pun melangkah pelan keluar dari ruang administrasi menuju teras lobi kantor lapangan yang terbuka, berniat menunggu di bawah naungan atap kanopi sambil memeluk erat bendel dokumen penting di dadanya.

Namun, baru beberapa detik ia berdiri di tepi lobi, embusan angin kencang membawa serta cipratan air hujan yang cukup deras membasahi sebagian lantai tempat ia berdiri, mengancam keselamatan berkas-berkas di tangannya.

°˖✧✿✧˖°

Di saat Kirana tengah merasa kebingungan dan terjebak di sudut lobi, dari arah koridor samping gudang logistik muncul sesosok pemuda mengenakan kemeja flanel gelap berdebu, rompi keselamatan oranye, dan helm putih proyek yang dijepit di bawah lengannya. Dialah Arga, yang baru saja selesai memastikan seluruh terpal penutup semen di gudang terikat dengan aman sebelum badai menerjang.

Begitu melihat sosok Kirana berdiri seorang diri di ujung teras lobi dengan raut wajah cemas dan gamis bagian bawahnya yang mulai terkena cipratan air hujan, langkah Arga seketika terhenti. Tanpa berpikir dua kali, pemuda itu langsung berbalik arah menuju pos satpam terdekat.

Lihat selengkapnya