Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Laporan Mata-Mata Sahabat

Mentari pagi di kota Surabaya memancarkan bias keemasan yang menembus kaca jendela ruang arsip lantai dua kantor proyek. Suasana pagi itu terasa begitu sibuk dengan deru kendaraan proyek yang berlalu-lalang di luar pelataran. Namun, di dalam ruangan yang dipenuhi tumpukan map biru dan gulungan cetak biru arsitektur tersebut, atmosfernya mendadak berubah menjadi sangat interaktif dan dipenuhi gelak tawa kecil dua orang wanita muda yang mengenakan rompi keselamatan di atas kemeja rapi mereka.

Zhafira melangkah masuk dari koridor dengan membawa dua cangkir keramik berisi teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Di belakangnya, Gamila berjalan sambil menenteng beberapa bendel laporan audit logistik mingguan dengan senyuman penuh misteri tersungging di bibirnya. Kedua sahabat karib sekaligus rekan kerja setia Kirana itu sudah saling bertukar pandang penuh arti sejak mereka berpapasan di ruang pantry tadi.

"Pagi, Direktur muda kita yang sepertinya semalam tidur nyenyak sekali karena mimpi indah," sapa Zhafira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menggoda. Ia meletakkan cangkir teh hangat itu tepat di atas meja kayu di hadapan Kirana yang tengah fokus memeriksa layar komputer jinjing.

Kirana mendongakkan kepalanya, mengerjap beberapa kali karena terkejut melihat kedua sahabatnya sudah berdiri mengelilingi mejanya dengan sorot mata penuh selidik. "Pagi juga, Zhafira, Gamila. Ada apa ini tumben sekali pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri? Jangan bilang laporan audit logistik minggu ini ada yang berantakan lagi."

"Laporan audit aman terkendali, Kirana sayang. Tapi gosip di kalangan kuli lapangan dan anak-anak gudang sepertinya jauh lebih menarik untuk dibahas hari ini," balas Gamila sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menyunggingkan senyuman jahil yang membuat Kirana langsung merasa salah tingkah.

Kirana mengernyitkan dahi, menutup layar laptopnya separuh. "Gosip apa lagi yang kalian dengar dari lapangan? Jangan percaya omongan anak-anak gudang, mereka suka melebih-lebihkan."

Zhafira tertawa kecil, menarik kursi kerja lipat lalu mendudukinya tepat di sebelah meja Kirana. "Melebih-lebihkan bagaimana? Seluruh kru proyek kemarin siang melihat sendiri bagaimana seorang pengawas logistik yang biasanya terkenal kaku dan dingin itu rela berdiri setengah jam di bawah hujan gerimis demi memayungi sang putri pemilik perusahaan."

Mendengar godaan telak tersebut, semburat merah jambu langsung merayap naik ke kedua pipi Kirana. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak tampak semakin salah tingkah di hadapan dua sahabat karibnya itu. "Kalian ini ada-ada saja... Kemarin itu sekadar urusan profesional pengawasan tapak proyek agar dokumen tidak basah terkena air hujan. Tidak ada hubungan khususnya sama sekali."

"Ah, alasan klasik pengawas logistik dan direktur proyek," timpal Gamila cepat dengan nada bercanda. "Dan omong-omong soal Mas Rian... kami berdua juga mengamati sesuatu yang sangat spesifik selama berminggu-minggu ini."

Kirana menghela napas pendek, mengangkat cangkir teh hangatnya untuk menyesap sedikit cairan manis di dalamnya guna meredakan debar jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. "Mengamati apa lagi kalian berdua? Jangan mulai membuat teori aneh-aneh tentang aku dan Mas Rian."

Zhafira dan Gamila saling bertukar pandang sejenak, lalu Zhafira kembali menatap Kirana dengan sorot mata yang kini sedikit lebih serius namun tetap menyunggingkan senyuman hangat.

"Begini, Kirana," kata Zhafira memulai dengan nada persuasi. "Sebagai sahabat setiamu, kami selalu memerhatikan gerak-gerik orang-orang di sekitarmu. Terutama Mas Rian—pria misterius yang datang dari Jakarta untuk mengawasi proyek kita ini. Kamu tahu sendiri bagaimana karakternya yang sangat pendiam dan tidak mudah akrab dengan siapa pun di kantor."

"Iya, betul," sambung Gamila memperkuat argumen sahabatnya. "Dia selalu bersikap sangat profesional, menjaga jarak, dan berbicara seperlunya saja dengan para staf lain. Tapi kalau kamu perhatikan saat dia berhadapan langsung denganmu... Mas Rian selalu menundukkan pandangannya saat berbicara, menunjukkan rasa hormat yang luar biasa tinggi. Namun, sorot matanya ketika mencuri-curi pandang ke arahmu tidak pernah bisa berbohong. Ada rasa kagum, perhatian yang tulus, dan kekhawatiran mendalam yang terpancar jelas di sana."

Pipi Kirana semakin merona merah mendengar analisis mendalam yang dilontarkan oleh Gamila. Jantungnya bergemuruh hebat di dalam dada. Apa yang diucapkan oleh kedua sahabatnya itu memang benar adanya. Selama berbulan-bulan bekerja bersama di bawah terik matahari dan debu proyek Surabaya, Rian memang selalu memperlakukannya dengan cara yang sangat istimewa—bukan sebagai seorang bawahan kepada atasan, melainkan sebagai seorang wanita yang dijaga kehormatan dan kenyamanannya dengan penuh kelembutan.

"Kalian ini pintar sekali merangkai cerita romantis," ucap Kirana mencoba berkelit sambil tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya. "Mas Rian itu hanya menjalankan tugas profesionalnya sebagai pengawas lapangan yang baik. Tidak lebih dan tidak kurang."

"Halah, profesional katamu!" cibir Zhafira gemas sambil mencolek pelan lengan Kirana. "Mana ada profesional logistik yang rela meminjamkan jaket tebalnya saat kamu kedinginan di pos pengawas waktu itu? Mana ada pengawas profesional yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan kamu makan siang tepat waktu di tengah kesibukan audit? Kirana, kami bukan anak kecil yang bisa kamu tipu dengan alasan profesionalisme kerja."

Gamila mengangguk setuju dengan ekspresi wajah yang mulai serius. "Kami tahu Mas Rian adalah pria yang baik, bertanggung jawab, dan memiliki integritas yang tinggi. Kami tidak keberatan sama sekali jika memang ada kedekatan spesial di antara kalian berdua. Justru kami ikut senang melihat ada pria tulus yang memperhatikanmu seperti itu."

Mendengar dukungan terselubung dari kedua sahabatnya, hati Kirana sebenarnya merasa sangat tersentuh dan hangat. Namun, seketika itu juga, kesadaran tentang realitas rumit yang melingkupi keluarganya kembali menghantam benaknya. Ia tidak ingin terlalu jauh hanyut dalam euforia perasaan kagum tersebut, mengingat badai besar yang telah menanti di hadapan mereka.

Kirana menarik napas dalam-dalam, meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja, lalu menatap bergantian ke arah Zhafira dan Gamila dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi jauh lebih tenang namun tegas.

"Sudahlah, Zhafira, Gamila... hentikan godaan ini," ucap Kirana dengan suara lembut namun serius. "Kalian tahu persis bagaimana batasan hubungan kerja di antara kami. Menggosipkan kedekatan personal seperti ini di lingkungan kantor tidak ada gunanya, dan aku takut pembicaraan kita justru menjurus ke arah ghibah yang tidak bermanfaat."

Zhafira sedikit tertegun melihat perubahan ekspresi sahabatnya yang mendadak serius. Ia tahu betul bahwa Kirana adalah sosok wanita yang sangat menjaga prinsip agama dan etika moral dalam setiap tindakan serta ucapannya.

"Baiklah, Kirana. Kami minta maaf kalau gurauan kami tadi membuatmu tidak nyaman," kata Zhafira melunak, merubah posisi duduknya menjadi sedikit lebih condong ke depan meja. "Tapi sebagai sahabat setiamu, bukan niat kami untuk berghibah atau ikut campur terlalu jauh ke dalam urusan pribadimu. Kami hanya mencemaskan satu hal yang sangat krusial."

Lihat selengkapnya