Malam di kota Surabaya merayap pelan, membawa keheningan yang kian pekat setelah seharian disibukkan oleh deru mesin molen dan debu proyek pembangunan perumahan elit. Di dalam kamar kontrakan yang sederhana dan berukuran sempit, sebuah lampu meja berpendar kuning remang-remang, menyinari meja kayu kecil tempat Arga duduk termenung. Di hadapannya, selembar kertas putih kosong dan sebatang pulpen tergeletak begitu saja. Pria itu menatap lurus ke depan, sementara pikirannya melayang jauh menembus dinding kamar, tertuju pada satu sosok wanita yang dalam beberapa pekan terakhir telah mengubah poros hidupnya secara drastis—Kirana.
Sejak malam di mana ia akhirnya membuka sebagian tabir identitasnya di hadapan Kirana, gelora di dalam dada Arga justru semakin tak terbendung. Perasaan kagum, hormat, dan rasa cinta yang selama ini ia redam rapat-rapat di balik rompi lapangan kusam kini mendesak untuk keluar, mencari bentuk ekspresinya sendiri. Sebagai seorang pria yang terbiasa dengan analisis logistik, laporan korporasi, dan strategi bisnis yang kaku, Arga tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona seorang wanita yang memimpin proyek dengan ketegasan sekaligus kelembutan luar biasa.
"Aku tidak bisa lagi membendungnya..." bisik Arga lirih di dalam kesunyian kamarnya, memecah sepi malam yang ditemani oleh deru kipas angin tua di sudut ruangan.
Ia meraih pulpen hitamnya. Jemarinya bergerak perlahan di atas permukaan kertas putih kosong itu, merangkai kata demi kata yang lahir langsung dari lubuk hatinya yang paling dalam. Bukan lagi laporan inventarisasi besi beton, bukan pula catatan audit logistik yang dingin, melainkan sebuah curahan rasa yang teramat tulus. Arga mulai menuliskan bait-bait puisi pertamanya—sebuah bentuk kekaguman yang tertuang dalam bahasa sastra yang indah, elegan, dan penuh makna tersembunyi.
Di sisi lain kota, di dalam kamarnya yang beraroma lavender, Kirana tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan tablet menyala di pangkuannya. Namun, pikirannya sama sekali tidak fokus pada laporan keuangan yang terpampang di layar. Wajahnya masih sering merona setiap kali ia mengingat kejadian di ruang kerja kantor proyek tempo hari, ketika sang pemuda berrompi lapangan yang selama ini ia kenal sebagai Rian berdiri tegap dan menyebutkan nama aslinya: Arga.
Nama itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, memberikan kehangatan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kirana menyadari bahwa dinding pembatas yang selama ini ia yakini sebagai profesionalisme kerja telah runtuh oleh ketulusan budi pekerti dan integritas moral yang ditunjukkan oleh pria tersebut.
"Arga..." gumam Kirana pelan, nama itu terasa begitu pas diucapkan, seolah memang itulah takdir yang selama ini ia nantikan di balik kesederhanaan sang staf logistik.
Keesokan paginya, matahari menerobos celah-celah jendela proyek dengan sinarnya yang hangat. Arga bersiap seperti biasa mengenakan rompi lapangan dan helm kuning keselamatan, namun di dalam saku dadanya, tersimpan secarik kertas kecil yang telah dilipat rapi—sebuah karya tulis rahasia yang ia ciptakan khusus untuk wanita yang menguasai pikirannya siang dan malam.
Pukul sembilan pagi, aktivitas di area kantor administrasi proyek berjalan dengan ritme yang cepat dan teratur. Para staf hilir mudik membawa berkas, sementara para pengawas lapangan sibuk berkoordinasi melalui sambungan rádiopancing. Di ruang logistik, Arga menyelesaikan tugas verifikasi nota pembelian semen gelombang pertama sebelum ia harus membawanya ke ruang direktur operasional untuk ditandatangani oleh Kirana.
Jantung Arga berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia tahu apa yang dilakukannya adalah sebuah bentuk kenekatan yang melanggar batas formalitas pekerjaan. Namun, dorongan rasa rindu dan kekaguman yang teramat kuat membuat akal sehatnya seolah menyerah pada keindahan perasaan tersebut.
"Apakah ini terlalu berlebihan...?" batin Arga sejenak ragu, menatap lipatan kertas kecil di saku rompinya. "Bagaimana jika dia marah dan menganggapku tidak profesional?"
Namun, keraguan itu seketika sirna ketika ia teringat pada senyuman tulus Kirana di bawah rerintisan hujan beberapa hari lalu. Arga melipat kertas kecil itu semakin tipis, lalu menyelipkannya dengan sangat hati-hati di antara lembar-lembar nota pembelian semen yang dijepit di dalam map merah tua. Kertas itu diletakkan sedemikian rupa sehingga menjadi hal pertama yang akan dilihat oleh siapa pun yang membuka map tersebut.
"Bismillah," ucap Arga pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya.
Ia mengambil map merah berisi nota pembelian dan laporan material itu, lalu melangkah keluar dari ruang logistik menuju koridor lantai dua tempat ruang kerja utama Kirana berada. Setiap langkah kakinya terasa lebih berat dari hari-hari biasa, seolah ia sedang membawa beban rahasia yang siap meledak kapan saja.
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Kirana, Arga mengetuk pintu dengan ritme yang sopan dan teratur seperti biasa.
Tok... tok... tok.
"Masuk," terdengar suara Kirana dari dalam, tenang dan berwibawa.
Arga membuka pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang sejuk ber-AC. Sesuai dengan komitmen batasan suci dan etika profesional yang selalu ia jaga, Arga berhenti pada jarak dua meter dari meja kerja Kirana. Ia tidak mendekat, melainkan menundukkan pandangannya sejenak dengan penuh hormat.
"Selamat pagi, Bu Kirana," ucap Arga dengan suara baritonnya yang tenang. "Berikut adalah laporan verifikasi nota pembelian semen dan material bangunan untuk proyek tahap kedua."
Kirana, yang sedang sibuk meneliti grafik pengeluaran di layar monitor komputernya, mengalihkan pandangannya ke arah Arga. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman hangat yang hanya diberikan khusus untuk pria di hadapannya itu.
"Letakkan saja di atas meja, Arga," jawab Kirana, sengaja menyebut nama asli pria itu dengan nada suara yang sedikit melembut.
Mendengar namanya disebut langsung oleh Kirana di dalam ruang kerja, ada desiran kehangatan yang merambat di dada Arga. Ia melangkah maju satu langkah kecil, meletakkan map merah tua itu tepat di sudut meja kerja Kirana dengan sangat hati-hati, lalu segera mundur kembali ke posisi semula sambil menundukkan pandangannya.
"Semua nota sudah diverifikasi keasliannya dan sesuai dengan fisik barang di gudang, Bu," laporan Arga disampaikan secara profesional, berusaha menutupi gejolak debar di dadanya.
"Baik, terima kasih banyak atas kerja kerasmu," balas Kirana, menatap sekilas map merah tersebut sebelum kembali fokus pada lembar kerja di hadapannya. "Nanti siang akan saya periksa kelengkapannya."
Arga mengangguk sopan, lalu berpamitan mundur dan meninggalkan ruang kerja Kirana, menutup pintu rapat-rapat dari luar. Sesaat setelah pintu tertutup, suasana di dalam ruangan kembali hening. Kirana menarik napas perlahan, menyandarkan punggungnya sejenak ke kursi kerjanya untuk merilekskan otot lehernya yang penat setelah berjam-jam menatap layar monitor.
Pandangannya beralih ke atas meja, tertuju pada map merah tua berisi nota pembelian semen yang baru saja diantarkan oleh Arga. Dengan gerakan jemari yang anggun, Kirana membuka sampul map tersebut untuk mulai memeriksa satu per satu dokumen finansial di dalamnya.
Namun, begitu sampul map itu terbuka lebar, pandangannya langsung terpaku pada sebuah objek asing yang terselip di antara lembar nota pertama.
Secarik kertas putih kecil, dilipat dengan rapi, dengan tulisan tangan berbentuk huruf balok yang sangat khas dan tegas—tulisan tangan yang sudah sangat ia kenali sebagai milik Arga.
Jantung Kirana mendadak berdegup kencang menghantam dinding dadanya. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan. Ia mengerjap-ngerjap matanya sejenak, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah sebuah halusinasi akibat kelelahan bekerja. Kertas kecil itu benar-benar ada di sana, terselip manis di antara deretan angka-angka finansial proyek yang kaku.
Dengan jemari yang sedikit bergetar karena rasa penasaran dan debar emosi yang meluap-luap, Kirana mengulurkan tangannya, mengambil secarik kertas kecil tersebut dari sela-sela dokumen. Ia mengangkatnya perlahan, membuka lipatannya, dan membaca barisan kalimat yang tertera di atasnya dengan saksama.