Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Oase di Tengah Lelahnya Lapangan

Surabaya sedang berada di puncak musim panas yang paling ganas. Udara di kawasan Megaproyek Grand Syariah Residence terasa begitu padat, panas, dan seolah membakar kulit siapa saja yang berani berdiri di bawah terik matahari tanpa pelindung. Aspal jalanan proyek mengepulkan hawa panas yang menyengat, sementara debu-debu halus berterbangan setiap kali ada kendaraan berat yang melintas. Di tengah kawah aktivitas konstruksi yang bergemuruh itu, Arga—yang masih menyandang identitas samaran sebagai Rian, buruh logistik lapangan—sedang memeras keringat secara harfiah.

Sejak pukul tujuh pagi tadi, tidak ada detik yang terbuang percuma. Arga harus memantau proses pembongkaran muatan dua truk tronton besar yang membawa besi beton berukuran masif untuk kerangka lantai tiga blok utama. Otot-otot di bahu dan lengannya menegang kaku, menahan beban fisik yang luar biasa berat di bawah suhu udara yang nyaris mencapai empat puluh derajat Celsius. Pelipisnya basah kuyup oleh cucuran keringat yang mengalir deras, menyatu dengan debu proyek yang menempel di wajahnya yang kusam. Napasnya memburu, dan setiap embusan udara terasa kering di tenggorokan.

"Woy, Rian! Tambah lagi besi penyangga untuk sisi timur! Jangan sampai truk pengangkut berikutnya antre terlalu lama di gerbang!" teriak Mandor Jono dari kejauhan sambil melambaikan selembar daftar manifest barang.

"Baik, Pak! Sebentar lagi pengait katrol selesai dipasang!" balas Arga dengan suara serak, mengerahkan sisa-sisa tenaga di tubuhnya untuk menarik tuas pengaman besi pengikat kargo.

Meskipun kelelahan fisik mulai merongrong seluruh persendiannya, Arga tetap bergerak cekatan. Baginya, bekerja sebagai buruh harian bukan lagi sekadar pelarian dari takdir kelam keluarga Fardhan Group, melainkan sebuah bentuk pemurnian jiwa. Namun, hari ini, panasnya terik matahari Surabaya benar-benar menguji batas ketahanan tubuhnya. Pandangannya sempat berkunang-kunang sejenak ketika ia mengangkat balok besi ukuran sedang ke atas bahunya, memaksa dirinya untuk berhenti sedetik dan menarik napas dalam-dalam demi menjaga keseimbangan.

Di saat rasa penat dan letih bekerja mencapai puncaknya, dari kejauhan, pintu kaca kantor lapangan utama perlahan terbuka. Sosok wanita berbusana formal rapi dengan kerudung senada melangkah keluar ke area terik lapangan, membawa sebuah nampan plastik besar berisi beberapa botol air mineral dingin yang masih diselimuti bulir-bulir air embun.

°˖✧✿✧˖°

Kehadiran sosok itu seketika menarik perhatian para pekerja kasar yang sedang beristirahat sejenak di dekat tumpukan sak semen. Dialah Kirana, direktur operasional muda yang selama ini dikenal sangat perfeksionis, namun di balik ketegasannya ternyata menyimpan kepedulian yang luar biasa besar terhadap kesejahteraan para buruh lapangan.

Kirana melangkah mendekati area pembongkaran muatan besi tempat Arga berada. Langkah kakinya tampak anggun di antara genangan debu dan batu kerikil proyek, ditemani oleh seorang staf logistik junior yang membantu membawakan sisa botol minuman. Para tukang senior langsung berhenti bekerja, merendahkan kepala hormat dan menyambut kedatangan sang direktur muda dengan senyuman lebar di wajah mereka yang berlumuran peluh.

"Selamat siang, semuanya," sapa Kirana dengan suara lembut namun cukup jelas terdengar di tengah deru mesin pemotong keramik di sudut bangunan. "Melihat cuaca hari ini yang sangat panas, saya meminta pihak logistik menyiapkan air dingin untuk kalian semua. Silakan diambil dulu untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan pekerjaan."

"Wah, terima kasih banyak, Bu Kirana! Perhatian banget sama kita-kita yang lagi kepanasan di bawah terik matahari ini," seru Pak Karno, tukang senior bertubuh kurus, sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil dan menerima sebotol air dingin dari tangan sang direktur.

Kirana tersenyum ramah, senyuman tulus yang jarang sekali terlihat oleh para petinggi kantor pusat, namun selalu mampu menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya di lapangan. "Sama-sama, Pak Karno. Pastikan kalian minum yang cukup agar tidak ada yang dehidrasi di tengah cuaca ekstrem seperti ini. Kesehatan para pekerja adalah prioritas utama proyek kita."

Dari jarak beberapa meter di dekat tumpukan besi beton, Arga menghentikan gerakannya. Ia berdiri tegak dengan napas yang masih memburu, menatap lurus ke arah Kirana yang sedang membagikan botol air kepada para pekerja dengan penuh kesabaran. Meskipun wajah wanita itu juga tampak lelah menanggung beban tekanan korporasi dan masalah keluarga yang pelik, Kirana tetap memilih untuk berbagi energi positif kepada orang-orang kecil di sekitarnya.

°˖✧✿✧˖°

Kirana berjalan perlahan mendekati sisi timur tempat Arga berdiri. Begitu ia menyadari keberadaan pemuda berkaus kotor berlumuran debu semen itu di dekat tumpukan besi, langkahnya terhenti sejenak. Sorot mata mereka langsung bertemu di udara, menembus jarak dan kebisingan aktivitas proyek yang mengelilingi mereka.

Ada kilat kekhawatiran yang samar di dalam mata Kirana saat melihat pelipis Arga yang basah kuyup oleh keringat dan debu tebal yang menempel di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa kepada staf pendampingnya, Kirana melangkah mendekati Arga secara khusus, membawa satu botol air mineral dingin yang masih tertutup rapat di atas telapak tangannya.

"Kamu terlihat sangat kelelahan, Rian," ucap Kirana pelan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar wajar di hadapan para pekerja lain yang sedang memperhatikan mereka dari jarak dekat. "Pastikan kamu tidak memaksakan diri jika tubuhmu sudah memberikan sinyal untuk beristirahat."

Lihat selengkapnya