Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Angin Malam dan Secangkir Madu

Angin malam Kota Surabaya yang biasanya panas dan pengap mendadak terasa sedikit lebih sejuk ketika jarum jam di dinding ruang administrasi utama Grand Syariah Residence menunjuk tepat pukul delapan malam. Suasana kompleks megaproyek perumahan elit tersebut sudah lama sunyi dari deru mesin molen, benturan besi kerangka bangunan, dan teriakan instruksi para pengawas lapangan. Yang tersisa hanyalah bunyi jangkrik dari semak-semak liar di sisi pagar seng proyek serta pantulan cahaya lampu sorot kuning yang menyoroti tumpukan sak semen dan tumpukan besi beton basah.

Di dalam bangunan kantor lapangan yang setengah permanen, aroma teh melati hangat bercampur harum manis madu murni menguar lembut dari arah sudut pantry kecil. Di ruangan itulah Kirana—putri pemilik utama Zhafran Group yang menjabat sebagai direktur operasional—tengah berdiri termenung di depan meja dapur kecil sambil memegang teko kaca bening. Di hadapannya terletak sebuah cangkir keramik putih bersih yang mengepulkan uap tipis, minuman yang awalnya ia racik khusus dengan penuh ketulusan untuk menyambut kedatangan sang ayah tercinta.

"Bagaimana, Mbak? Jadi datang tidak Ayah ke kantor proyek malam ini?" tanya Zhafira, adik kandungnya yang baru saja melangkah masuk ke dalam pantry sambil membawa setumpuk map laporan keuangan audit bulanan. Wajah gadis muda itu tampak kelelahan setelah seharian mendampingi kunjungan inspeksi mendadak ke blok timur.

Kirana menghela napas pelan, meletakkan teko kaca di atas meja marmer imitasi dengan gerakan lesu. Ia merapikan ujung kerudung pastelnya yang sedikit bergeser sebelum menjawab pertanyaan adiknya. "Tidak jadi, Zhaf. Beliau tadi mengirim pesan singkat mengatakan bahwa pertemuannya dengan para investor utama di hotel pusat molor sampai malam, jadi inspeksi malam ke proyek dibatalkan."

"Wah, padahal akbar sekali persiapannya dari siang tadi," gerutu Zhafira sambil mendengus kecil dan menarik kursi plastik di dekat meja makan mini. "Mandor Jono bahkan sampai menyuruh anak buahnya mengecat ulang pagar posko utama agar terlihat sempurna di mata Ayah."

"Sudahlah, yang penting semua pekerjaan hari ini memang sudah diselesaikan dengan baik sesuai standar operasional," balas Kirana menenangkan adiknya, meskipun ada secercah rasa hampa yang berkelebat di dalam dadanya. Ia sudah menyiapkan waktu khusus malam ini untuk berbicara empat mata dengan sang ayah mengenai tekanan perjodohan bisnis keluarga Hartono yang kian mencekik lehernya, namun kesempatan itu kembali hilang ditelan kesibukan korporat.

Zhafira melirik ke arah cangkir keramik berisi teh madu hangat yang masih mengepulkan uap di atas meja, lalu menatap kakaknya dengan alis terangkat penuh rasa ingin tahu. "Lalu, bagaimana dengan teh madu spesial yang sengaja Kakak racik pakai madu hutan asli dari lemari khusus itu? Sayang sekali kalau dibuang begitu saja. Dingin-dingin begini paling enak diminum selagi hangat."

°˖✧✿✧˖°

Kirana menatap cangkir teh madu buatan tangannya sendiri, lalu beralih memandang Zhafira dengan tatapan ragu. "Iya ya... kalau dibiarkan sampai dingin tentu rasanya jadi tidak enak lagi. Padahal aku meraciknya khusus dengan takaran madu kesukaan Ayah."

Zhafira mendadak tersenyum usil, sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya untuk mencairkan suasana muram yang menyelimuti sang kakak sejak sore tadi. Ia berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Kirana pelan. "Begini saja, Mbak. Daripada mubazir terbuang sia-sia, lebih baik teh hangat ini diberikan kepada pekerja lembur yang masih membereskan arsip logistik di gudang luar. Kasihan mereka, tadi sore bekerja di bawah terik matahari yang membakar kulit sampai hampir dehidrasi."

"Pekerja lembur?" kening Kirana mengerut samar, merasa sedikit canggung memberikan minuman racikan khusus direktur kepada buruh kasar lapangan. "Memangnya siapa yang masih lembur di gudang selarut ini?"

"Siapa lagi kalau bukan Rian, staf logistik baru yang terkenal paling gigih itu," jawab Zhafira tanpa ragu sedikit pun. "Tadi aku melihatnya masih mondar-mandir merapikan manifest pengiriman besi beton di gudang luar seorang diri. Berikan saja padanya, Mbak. Anggap saja itu bentuk apresiasi kecil dari manajemen atas kerja kerasnya seharian penuh."

Kirana terdiam sejenak, merasakan degupan jantungnya sedikit berpacu lebih cepat setiap kali nama pemuda berkaus kotor itu disebut. Ada memori pertemuan sore tadi di dekat tumpukan besi yang kembali berkelebat di kepalanya—tatapan mata tajam penuh ketulusan yang berhasil meruntuhkan separuh pertahanan mentalnya di tengah badai keputusasaan hidup.

"Baiklah," ucap Kirana akhirnya dengan suara lembut, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak merayap di dadanya. Ia mendorong cangkir keramik hangat itu ke arah Zhafira. "Tolong antarkan cangkir ini ke gudang luar untuknya, Zhaf. Katakan ini dari persediaan pantry kantor."

"Kenapa harus aku yang mengantar? Kakak saja yang antar sendiri sana!" ledek Zhafira sambil terkikik geli melihat pipi kakaknya yang tiba-tiba merona merah muda. "Mumpung suasana sepi, siapa tahu percakapan kalian bisa sedikit mengurangi beban stres perjodohan dari keluarga Hartono itu."

"Zhafira! Jangan sembarangan bicara!" protes Kirana setengah berbisik dengan wajah semakin merona malu, namun adiknya sudah kadung tertawa kecil sambil melangkah mundur keluar dari pantry.

°˖✧✿✧˖°

Tidak lama setelah Zhafira meninggalkan pantry, langkah kaki gadis itu kembali terdengar mendekat, namun kali ini ia berjalan seorang diri tanpa membawa cangkir keramik di tangannya. Kirana yang sedang merapikan lembar dokumen di meja langsung menoleh tajam ke arah adiknya dengan pandangan penuh tanda tanya.

Lihat selengkapnya