Matahari pagi baru saja mengintip di balik deretan gedung-gedung tinggi perkotaan Surabaya, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah kaca jendela ruang administrasi utama Grand Syariah Residence. Di dalam ruangan ber-AC yang tertata rapi itu, suasana pagi yang biasanya diisi dengan suara ketukan kibor komputer dan dering telepon mendadak berubah menjadi arena interogasi kecil yang mendebarkan bagi sang direktur operasional, Kirana.
Kirana duduk di balik meja kerjanya dengan mengenakan kemeja formal berwarna putih bersih yang dipadu dengan kerudung abu-abu muda berlipat rapi. Di hadapannya, dua orang wanita muda tengah berdiri dan duduk merapat—Zhafira, adiknya kandungnya yang usil, serta Gamila, sahabat karib sekaligus staf ahli keuangan proyek yang baru datang dari kantor pusat untuk melakukan audit mendadak minggu ini.
"Eh, tunggu dulu, Mbak Kirana. Pulpen hitam kesayangan saya mana ya? Kemarin perasaan saya letakkan di dekat tumpukan map laporan keuangan blok timur," gerutu Zhafira sambil mondar-mandir di depan meja kakaknya, mencari-cari alat tulis miliknya yang entah terselip di mana.
Kirana, yang sejak tadi sibuk memeriksa lembar manifest pengiriman semen, menunjuk sekilas ke arah laci meja di sebelah kanannya tanpa mendongakkan kepala. "Coba cek di dalam laci kecil sebelah kanan itu, Zhaf. Kemarin sepertinya terselip di bawah tumpukan klip kertas."
Tanpa pikir panjang, Zhafira langsung menarik laci meja tersebut. Namun, di dalam laci yang biasanya digunakan untuk menyimpan berkas penting itu, mata jeli Zhafira tidak hanya menangkap keberadaan pulpen yang dicarinya. Di bawah tumpukan map, menyembul secarik ujung kertas polio berwarna putih kekuningan dengan goresan tulisan tangan yang sangat rapi dan khas.
°˖✧✿✧˖°
"Eh? Kertas apa ini? Kenapa disembunyikan rapi banget di dalam laci khusus?" tanya Zhafira dengan alis terangkat sebelah, rasa penasaran langsung merajai benaknya. Tanpa menunggu izin dari kakaknya, tangan lincah Zhafira langsung menarik kertas polio tersebut keluar dari persembunyiannya.
Kirana yang mendengarnya langsung mendongakkan kepala, dan darah di tubuhnya seketika berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk ketika melihat benda apa yang sedang dipegang oleh adiknya. "Zhafira! Jangan dipegang! Letakkan kembali ke tempatnya!" seru Kirana panik, spontan bangkit dari kursi kerjanya untuk merebut kertas tersebut.
Namun, Zhafira dengan sigap melompat mundur ke belakang, menghindar dari jangkauan tangan kakaknya sambil membentangkan kertas polio itu lebar-lebar di udara. Matanya dengan cepat memindai barisan kalimat puitis yang tertulis di atas kertas tersebut.
"Wah, wah, wah! Apa ini?!" pekik Zhafira dengan nada suara yang sengaja dibesar-besarkan, membuat Gamila yang sedari tadi duduk di sofa sudut ruangan langsung menoleh tertarik. "Coba kita baca baris pertamanya... 'Kau tempat berteduh dalam keletihan, kau tempat berhibur dalam kesedihan...' Astaga! Ini puisi cinta!"
"Zhafira, kembalikan! Jangan dibaca!" wajah Kirana berubah merah padam hingga ke pangkal telinganya, rasa malu dan panik bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Ia merasa seluruh pertahanan privasinya runtuh dalam hitungan detik.
Gamila, yang penasaran setengah mati mendengar kata 'puisi cinta', langsung berdiri dari sofa dan berlari kecil menghampiri Zhafira. "Mana, Zhaf? Coba lihat! Puisi dari siapa sampai membuat Direktur Kirana kita yang terkenal dingin dan galak ini kelihatan panik begini?"
°˖✧✿✧˖°
"Sini, Gam! Kita baca bareng-bareng!" seru Zhafira girang sambil mendekatkan kertas polio itu ke hadapan sahabat mereka.
Gamila membelalakkan matanya membaca bait demi bait puisi yang tertulis di kertas tersebut. Bibirnya bergetar menahan tawa geli sekaligus kekaguman yang mendadak membuncah. "Ya ampun, Kirana! Puisi ini manis banget! 'Manisnya madu tak semanis senyummu... Halusnya sutra tak sehalus budimu...' Tunggu sebentar, tulisan tangan ini... rapi banget!"
Gamila menatap tajam ke arah Kirana yang kini berdiri kaku di samping meja kerjanya dengan napas memburu dan wajah semerah tomat. Gamila menyipitkan matanya penuh selidik, lalu bersorak heboh di dalam ruangan ber-AC itu.
"Wah, Kirana! Jadi kuli puitis itu benar-benar mengirimkan surat cinta islami untukmu?!" goda Gamila dengan suara nyaring penuh kemenangan. "Pantas saja beberapa hari terakhir ini kamu kelihatan sering senyum-senyum sendiri kalau habis dari gudang logistik!"
"Kalian berdua, kecilkan suara kalian!" desis Kirana panik, buru-buru melangkah maju dan merampas kertas puisi itu dari tangan adiknya dengan gerakan kilat. Ia melirik cemas ke arah pintu kaca ruangan yang tertutup rapat, takut kalau-kalau ada staf administrasi lain di luar sana yang mendengar suara mereka. "Kalau sampai percakapan ini didengar oleh staf lain di luar, mau ditaruh di mana muka saya sebagai direktur operasional di proyek ini?"
Zhafira tergelak puas melihat kepanikan sang kakak, lalu melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum usil. "Makanya, kalau menyimpan barang bukti kejahatan romantis itu jangan di laci kantor, Mbak! Simpan saja di dalam brankas besi kalau perlu! Ngaku deh, puisi ini pasti dari Rian kan? Si buruh logistik ganteng yang kemarin mengantar laporan mingguan itu!"