Suasana di dalam rumah kontrakan sempit yang terletak di perkampungan padat penduduk pinggiran Kota Surabaya terasa begitu kontras dengan kemegahan kawasan megaproyek Grand Syariah Residence. Lampu neon berwatt kecil yang tergantung di langit-langit ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang redup, menerangi meja kayu tua tempat berserakan tumpukan kertas kalkulasi anggaran, kuitansi belanja harian, dan sebuah laptop berukuran sedang yang layarnya masih menyala terang. Di sinilah Arga—yang di siang hari menyamar sebagai Rian, buruh logistik kasar—menghabiskan malam-malam panjangnya untuk menyusun strategi rahasia membongkar praktik kecurangan internal Fardhan Group dari akar rumput.
Namun, malam ini, fokus di dalam kontrakan tersebut sama sekali tidak tertuju pada lembar laporan audit atau rekam jejak keuangan korporasi. Suasana di dalam ruangan mendadak terasa kaku dan penuh ketegangan ketika Daffa, asisten pribadi sekaligus sahabat setia Arga, menutup keras map keuangan di hadapannya dengan ekspresi wajah yang menyiratkan kekhawatiran mendalam. Di sudut ruangan, Gazhi—pengawal pribadi bertubuh tegap yang bertindak sebagai pengawas keamanan mereka selama di Surabaya—bersandar diam di dekat dinding sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam ke arah Arga yang sedang duduk di tepi tempat tidur lipat.
Arga tidak menyadari tatapan serius dari kedua orang kepercayaan setianya itu. Ia justru sedang duduk termenung sambil menatap lurus ke arah dinding triplek usang, namun bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan lamunan manis—sebuah senyuman yang akhir-akhir ini sering muncul tanpa disadari setiap kali ia mengenang secangkir teh madu hangat dan bait-bait puisi yang ia selipkan di pantry kantor proyek.
Daffa menghela napas panjang, suaranya memecah keheningan malam yang terasa pengap. "Bos... saya tahu proyek pembangunan Grand Syariah Residence ini sedang berjalan lancar sesuai rencana kita. Tapi jujur saja, akhir-akhir ini saya dan Gazhi mulai merasa sangat cemas melihat perubahan sikap Bos setiap kali pulang dari lapangan."
Arga tersentak pelan dari lamunannya. Ia menolehkan kepala, menatap Daffa dan Gazhi dengan kening sedikit berkerut. "Perubahan sikap apa maksudmu, Daffa? Saya rasa saya tetap fokus menjalankan tugas pengawasan logistik seperti biasa."
"Fokus?" potong Gazhi dengan suara beratnya, melangkah mendekati meja kerja kecil tempat Daffa duduk. "Bos, kemarin siang staf logistik lain sempat melaporkan bahwa Bos menghabiskan waktu cukup lama mengobrol berdua dengan Bu Kirana, sang direktur operasional, di pos logistik saat jam istirahat. Bahkan, gosip murahan di kalangan buruh mulai berbisik-bisik soal perhatian khusus yang sering diberikan oleh direktur muda itu kepada buruh bernama Rian."
Arga terdiam seketika. Rona wajahnya berubah sedikit kaku, menyadari bahwa gerak-geriknya bersama Kirana di lapangan ternyata tidak sepenuhnya luput dari pengamatan mata orang-orang di sekitarnya. "Itu hanya obrolan profesional biasa mengenai operasional material proyek, Gazhi. Tidak lebih."
"Profesional?" Daffa menggelengkan kepalanya pelan, nada suaranya terdengar frustrasi. "Bos boleh saja menipu Mandor Jono, para pengawas lapangan, bahkan seluruh jajaran direksi Zhafran Group dengan penyamaran nama Rian Ardiansyah. Tapi Bos tidak bisa menipu kami yang sudah bertahun-tahun melayani keluarga Fardhan. Senyuman yang baru saja terukir di bibir Bos saat melamun tadi... itu bukan senyuman seorang buruh logistik yang sedang memikirkan semen atau bata ringan. Itu adalah senyuman seorang pria yang sedang mabuk kepayang!"
°˖✧✿✧˖°
Kata-kata telak dari Daffa itu menghantam telinga Arga bagaikan sambaran petir di siang bolong. Arga bangkit berdiri dari tempat tidur lipatnya, menatap kedua sahabat setianya dengan sorot mata yang mulai menajam. "Kalian berdua sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi saya."
"Kami tidak berniat mencampuri urusan pribadi Bos jika hal itu tidak mengancam seluruh misi besar yang sudah kita pertaruhkan sejak awal!" sahut Daffa dengan suara tegas, tidak mau kalah argumen. Ia membuka kembali map keuangan dan menunjuk angka-angka di atas kertas. "Bos ingat apa tujuan utama kita meninggalkan kemewahan Jakarta dan datang ke Surabaya? Tujuan kita adalah melarikan diri dari perjodohan paksa yang diatur oleh keluarga besar, sekaligus menyelamatkan nama baik perusahaan dari intrik kotor paman kita sendiri. Tapi kalau Bos malah jatuh cinta setengah mati dengan putri pemilik proyek di sini, taruhannya bukan lagi sekadar penyamaran yang gagal!"
Gazhi mengangguk membenarkan ucapan Daffa. "Betul sekali, Bos. Cinta memang manis seperti madu, tapi kalau sampai identitas asli Bos terbongkar dan hubungan emosional itu terendus oleh ayah Bos—Pak Fardhan—akibat ulah persaingan bisnis keluarga, dampaknya akan sangat menghancurkan. Bos tahu sendiri betapa kejamnya cara kerja ayah Bos. Beliau bisa menghancurkan perusahaan keluarga Kirana—Zhafran Group—dalam sekejap mata hanya dengan kekuatan monopoli bisnis dan jaringan perbankan yang beliau pegang."
Mendengar nama sang ayah disebut, Arga terhenyak. Napasnya mendadak terasa berat. Kalimat-kalimat peringatan itu mendarat tepat di titik terlemah hatinya, mengingatkannya pada jurang pemisah yang menganga lebar di antara dunia mereka.
°˖✧✿✧˖°
Arga mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba menahan gejolak emosi yang mendadak bergolak hebat di dalam dadanya. Ia berjalan pelan menghampiri jendela kecil kontrakan yang terbuka, menatap keluar ke arah kegelapan malam perkampungan padat penduduk.
"Kalian pikir aku tidak memikirkan semua itu, Daffa? Gazhi?" suara Arga terdengar serak, sarat akan beban batin yang teramat berat. "Setiap detik aku berada di lapangan, aku sadar siapa diriku dan siapa Kirana. Aku tahu persis bahwa di hadapan hukum dunia korporasi, Rian si buruh logistik tidak memiliki hak apapun untuk berdiri sejajar dengan seorang putri direktur utama Zhafran Group."
"Lalu kenapa Bos masih terus membiarkan kedekatan itu semakin dalam?" cecar Daffa dengan nada suara yang melunak, menyiratkan rasa khawatir yang tulus terhadap keselamatan bos sekaligus sahabatnya itu. "Kemarin laporan dari mata-mata kita di kantor pusat Zhafran Group menyebutkan bahwa keluarga besar mereka sedang merundingkan jadwal resmi acara lamaran antara Kirana dengan anak dari keluarga konglomerat Hartono. Tekanan terhadap Kirana semakin hari semakin gila."