
Desiran angin malam Kota Surabaya berhembus perlahan melintasi pelataran megaproyek Grand Syariah Residence yang kini telah sepi dari hiruk-pikuk aktivitas para pekerja konstruksi. Lampu-lampu sorot proyek yang dipasang tinggi di setiap sudut pagar kawat menyala terang, memantulkan bayangan panjang beton-beton fondasi yang berdiri megah di bawah langit malam yang bersih tanpa awan. Suasana di sekitar area proyek terasa begitu tenang, kontras dengan gemuruh badai perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dada dua orang manusia yang tanpa sengaja dipertemukan oleh takdir di tempat ini.
Di dalam bangunan musala darurat proyek yang berdindingkan papan kayu lapis, suara kumandang ikomah baru saja reda. Di ruang utama yang beralaskan karpet hijau tipis, Arga—yang masih mengenakan atribut kerjanya sebagai staf logistik—melipat sajadah usang tempat ia menunaikan salat isya berjamaah bersama beberapa pekerja harian lainnya. Setelah para buruh dan mandor berangsur-angsur meninggalkan musala untuk kembali ke barak istirahat masing-masing, Arga memilih untuk duduk sejenak di teras depan musala, menenangkan pikirannya yang dipenuhi oleh peringatan keras dari Daffa dan Gazhi malam sebelumnya.
Tanpa ia duga, dari arah koridor kantor administrasi utama yang terletak tidak jauh dari sana, sesosok wanita berbalut abaya hitam dengan kerudung abu-abu panjang tampak berjalan pelan seorang diri. Itu adalah Kirana. Sang direktur operasional muda rupanya juga baru selesai menunaikan salat isya di bilik khusus wanita di samping musala proyek, memanfaatkan ketenangan malam untuk meredupkan penat setelah seharian berkutat dengan tumpukan dokumen audit keuangan yang kian menumpuk.
Langkah kaki Kirana terhenti seketika ketika matanya menangkap sosok seorang pria berdiri tegap di dekat tangga teras musala, memandangi hamparan langit malam Surabaya dengan sorot mata yang penuh perenungan. Cahaya lampu sorot proyek yang temaram menyinari separuh wajah pria itu, mempertegas garis rahang yang kokoh dan ketenangan luar biasa yang sama sekali tidak mencerminkan profil seorang buruh lapangan biasa.
°˖✧✿✧˖°
"Rian...?" panggil Kirana pelan, suaranya nyaris berbisik namun cukup jelas memecah kesunyian malam di antara deretan material bangunan.
Arga tersentak kecil dari lamunannya. Ia menolehkan kepala, dan begitu mendapati wanita yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya kini berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya, debar jantungnya mendadak berpacu lebih cepat. Ia segera menegakkan posisinya, menundukkan pandangannya sejenak sebagai bentuk adab, lalu menatap lurus kembali ke arah mata Kirana yang tampak sayu menyimpan kelelahan batin yang amat dalam.
"Selamat malam, Bu Kirana," sapa Arga dengan suara rendah yang begitu menenangkan, sebuah nada suara yang selalu berhasil meruntuhkan tembok pertahanan emosional sang direktur muda. "Belum kembali ke tempat tinggal? Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Lingkungan proyek sudah mulai sepi dan tidak aman jika ditinggal terlalu larut."
Kirana melangkah mendekat perlahan, merapatkan jaket kainnya untuk menghalau angin malam yang mulai terasa dingin. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, "Saya sengaja menyelesaikan laporan audit keuangan triwulan ini lebih awal supaya besok pagi tidak tertumpuk dengan jadwal pertemuan penting dengan pihak kantor pusat."
Kirana terdiam sejenak, lalu menatap tajam ke dalam mata pria di hadapannya. Ada keraguan yang bergelayut di benaknya, namun desakan rasa rindu dan beban batin yang menghimpit dadanya membuatnya tidak sanggup lagi menjaga jarak profesional yang kaku di antara mereka. "Kamu sendiri, Rian? Kenapa belum kembali ke barak logistik? Masih ada urusan pekerjaan yang belum selesai?"
Arga menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan makna. "Tidak ada urusan pekerjaan, Bu. Saya hanya sedang menikmati ketenangan malam... dan memikirkan banyak hal."
"Memikirkan apa?" tanya Kirana spontan, rasa penasarannya mengalahkan rasa canggung yang biasanya ia pelihara.
Arga menatap lurus tepat ke dalam bola mata Kirana, menciptakan jarak pandang yang begitu intim tanpa menyentuh. "Memikirkan tentang keberanian, tentang takdir... dan tentang bagaimana cara menjaga sesuatu yang berharga agar tidak direbut oleh keadaan."
°˖✧✿✧˖°
Mendengar kalimat itu, napas Kirana seketika tertahan di tenggorokannya. Kalimat sederhana tersebut mengandung beban emosional yang sangat dalam, seolah-olah ditujukan langsung untuk meruntuhkan seluruh pertahanan hidup yang selama ini ia bangun di balik jabatan tingginya. Bayangan mengenai rencana pertunangan paksa dengan keluarga Hartono yang didesak oleh orang tuanya tiba-tiba berkelebat kembali di benaknya, menghadirkan rasa sesak yang luar biasa perih.
Kirana menundukkan pandangannya, menatap lantai semen teras musala yang berdebu tipis. Suaranya terdengar bergetar halus ketika ia kembali bersuara. "Keadaan terkadang jauh lebih kuat daripada keinginan kita sendiri, Rian. Kita hidup di dunia di mana pilihan-pilihan hidup tidak pernah benar-benar berada di tangan kita... terutama bagi seseorang yang lahir di tengah keluarga besar korporat."