Suasana di ruang administrasi kantor proyek pusat Surabaya pada pagi hari itu tampak begitu sibuk. Lembaran-lembaran kertas laporan keuangan, nota pembelian material bangunan, dan arsip kepegawaian berserakan di atas meja kerja kayu jati yang panjang. Di balik tumpukan dokumen tersebut, Zhafira dan Gamila duduk berdampingan dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa penasaran yang teramat dalam. Keduanya baru saja menyelesaikan rekapitulasi data bulanan, namun pikiran mereka sama sekali tidak tertuju pada angka-angka pengeluaran beton atau inventaris besi cor.
Perhatian kedua wanita itu tersita sepenuhnya pada satu nama yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi pusat perbincangan rahasia di antara para staf administrasi: Rian, sang staf logistik lapangan yang belakangan sering berinteraksi langsung dengan sang direktur operasional, Kirana.
"Kamu tidak merasa ada yang aneh, Zhafira?" bisik Gamila sambil melirik ke arah pintu kaca ruang administrasi yang tertutup rapat, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka. Gamila merapikan letak kacamatanya, lalu mendekatkan kursi kerjanya ke arah Zhafira. "Cara Rian berbicara, cara dia memegang pulpen, bahkan gestur tubuhnya saat menyerahkan laporan sama sekali tidak mencerminkan seorang staf logistik lulusan baru atau pekerja kasar lapangan biasa."
Zhafira menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengetik di atas kibor komputer. Ia menoleh ke arah Gamila dengan tatapan menyelidik. "Kamu juga menyadarinya, mila? Aku pikir cuma aku saja yang merasa janggal. Coba kamu ingat-ingat saat insiden audit minggu lalu. Waktu kepala pengawas lapangan salah menyebutkan spesifikasi besi baja ringan, Rian langsung mengoreksinya dengan istilah-istilah teknik sipil tingkat tinggi yang bahkan jarang dipahami oleh mandor senior kita."
"Benar sekali!" seru Gamila bersemangat, meski suaranya tetap ia jaga agar tidak terdengar ke luar ruangan. "Dan bukan cuma itu. Kalau kamu perhatikan dompet atau jam tangan yang sesekali tidak sengaja terlihat saat dia merogoh saku, mereknya bukan barang yang biasa dibeli oleh staf logistik bergaji standar. Ada sesuatu yang ditutupinya. Dia menyamar, Zhafira. Aku yakin seratus persen!"
Kecurigaan itu bukanlah tanpa alasan. Sebagai staf administrasi yang bertugas mengelola data kepegawaian dan administrasi umum, Zhafira dan Gamila memiliki akses tidak langsung terhadap berkas-berkas arsip karyawan. Namun, ketika mereka mencoba menelusuri riwayat ijazah dan latar belakang pendidikan Rian di dalam sistem database internal perusahaan, data tersebut tampak sangat minim, seolah-olah sengaja dibatasi atau dilindungi oleh hak akses tingkat tinggi yang hanya bisa dibuka oleh jajaran direksi utama.
"Kalau data aslinya dikunci rapat di server pusat, itu artinya identitas aslinya benar-benar disembunyikan dari kita semua," kata Zhafira dengan nada serius, jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara perlahan. "Bayangkan saja, kenapa seorang pria dengan gestur dan wibawa seperti itu mau memakai rompi kusam dan turun langsung mengurus tumpukan semen di lapangan terbuka? Pasti ada motif besar di baliknya."
"Atau... jangan-jangan dia adalah mata-mata dari dewan komisaris pusat yang sengaja dikirim untuk mengawasi kinerja internal kita?" duga Gamila dengan mata membelalak lebar, memikirkan berbagai skenario konspirasi yang sering ia baca dalam novel-novel misteri kantor.
"Atau mungkin kisah percintaan rahasia?" timpal Zhafira tersenyum penuh selidik. "Kamu ingat kan betapa seringnya dia dipanggil khusus ke ruang kerja Bu Kirana dengan alasan urusan logistik yang tidak masuk akal lamanya? Jangan-jangan Rian ini sedang mendekati bos besar kita dengan cara yang sangat elegan."
Gamila menggelengkan kepalanya pelan, tertawa kecil. "Kalau benar begitu, nyali Rian luar biasa besar. Tapi bagaimanapun juga, teka-teki ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Sebagai detektif amatir dari ruang administrasi, kita harus mencari tahu siapa sebenarnya sosok Rian di balik seragam kusam itu."
"Ide bagus," jawab Zhafira mantap. "Kita harus menyusun rencana investigasi kecil-kecilan mulai hari ini."
Rencana penyelidikan rahasia pun mulai dirumuskan di balik meja arsip ruang administrasi. Zhafira dan Gamila membagi tugas layaknya detektif profesional dalam film-film detektif swasta. Zhafira bertugas untuk memeriksa kembali arsip fisik dokumen pendaftaran pegawai baru yang masuk melalui jalur khusus setahun terakhir, sementara Gamila bertugas memantau pergerakan harian Rian di lapangan serta mencatat siapa saja orang penting yang pernah menemuinya secara diam-diam.
"Bagaimana kalau kita mulai dari berkas lamaran fisiknya di lemari arsip lama?" usul Zhafira sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menuju lemari besi besar di sudut ruangan yang berisi dokumen-dokumen arsip tahun sebelumnya.
"Bagus. Coba cari map kuning atas nama Rian Pratama. Seharusnya ada salinan surat pengantar dari instansi atau universitas tempat asalnya," balas Gamila sambil terus memantau situasi di luar lewat celah tirai jendela kaca.
Zhafira membuka kunci lemari besi tersebut dengan hati-hati. Suara derit besi tua bergesekan terdengar samar di tengah kesunyian ruang administrasi. Ia mulai merunut satu per satu tumpukan map arsip berdasarkan abjad nama karyawan. Setelah beberapa menit mencari dengan teliti, jemarinya akhirnya berhenti pada sebuah map berwarna kuning kusam bertuliskan nama Rian Pratama.
"Ketemu!" seru Zhafira dengan nada tertahan, menarik map tersebut keluar dari tumpukan arsip.
Gamila segera beranjak dari tempat duduknya, mendekati Zhafira dengan rasa penasaran yang memuncak. Keduanya membuka map tersebut di atas meja, membentangkan lembar demi lembar dokumen persyaratan administrasi yang dilampirkan saat sang pemuda pertama kali melamar pekerjaan di proyek perumahan tersebut.
Namun, begitu mereka membaca isi lembar demi lembar dokumen tersebut, dahi Zhafira dan Gamila justru berkerut dalam. Kejanggalan demi kejanggalan langsung terlihat jelas di depan mata mereka.
"Tunggu dulu... perhatikan surat keterangan domisili ini," kata Gamila sambil menunjuk salah satu lembar surat dengan ujung pulpennya. "Alamat yang dicantumkan di sini adalah sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan pinggiran kota. Tapi cap stempel kelurahan dan tanda tangan legalisirnya terlihat sangat bersih, hampir seperti dibuat secara instan tanpa melalui prosedur birokrasi standar."
"Dan lihat pasfoto lamarannya," timpal Zhafira, mendekatkan matanya ke arah foto ukuran 4x6 yang terlampir di formulir. "Meskipun potongan rambutnya dibuat sederhana dan ia mengenakan kemeja polos biasa, struktur tulang wajah, tatapan mata, dan garis rahangnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pemuda pencari kerja biasa. Ada aura ketegasan dan karisma kelas atas yang gagal disembunyikan oleh foto formal itu."
Gamila mengangguk setuju, merasa semakin yakin dengan hipotesis awal mereka berdua. "Belum lagi surat referensi kerja dari perusahaan sebelumnya. Perusahaan itu adalah sebuah korporasi besar di bidang investasi properti skala nasional, bukan perusahaan kontraktor kecil. Kenapa lulusan universitas terkemuka dengan portofolio sehebat itu mau melamar sebagai staf logistik lapangan biasa dengan posisi rendahan?"
"Artinya, penyamaran ini disengaja," tegas Zhafira menyimpulkan. "Rian sedang menyembunyikan identitas aslinya demi tujuan tertentu di proyek ini."
Di tengah keseriusan mereka membedah dokumen arsip, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang administrasi.
Tok... tok... tok.
Seketika itu juga, Zhafira dan Gamila tersentak kaget. Dengan gerakan kilat, Zhafira menutup map kuning arsip tersebut dan menyembunyikannya di bawah tumpukan kertas laporan keuangan agar tidak terlihat oleh orang yang datang.
"Masuk!" panggil Gamila dengan suara yang diatur agar terdengar tenang dan senormal mungkin.
Pintu terbuka, dan Siska—asisten pribadi direktur operasional—melangkah masuk ke dalam ruangan membawa beberapa berkas nota tambahan dari lantai atas.
Siska berdiri di dekat pintu dengan ekspresi wajahnya yang selalu tampak profesional, dingin, dan kaku. Ia menatap Zhafira dan Gamila secara bergantian, seolah mengukur apakah kedua staf administrasi itu sedang bekerja dengan benar atau justru sedang bergosip seperti biasa.
"Pagi, Zhafira, Gamila. Apakah rekapitulasi data inventaris material untuk audit besok pagi sudah selesai?" tanya Siska dengan nada suara yang tegas dan berwibawa.
Zhafira segera berdiri dari kursinya, berusaha menutupi rasa gugup di wajahnya dengan senyuman ramah. "Pagi, Mbak Siska. Semua rekapitulasi data sudah hampir rampung. Tinggal tahap pengecekan akhir saldo kas kecil yang sedang dikerjakan oleh Gamila."
"Bagus. Pastikan tidak ada satupun selisih angka sekecil apapun. Besok pagi dewan komisaris pusat dan direksi utama akan langsung turun tangan memimpin rapat audit lapangan," pesan Siska mengingatkan dengan sorot mata tajam. "Oh ya, apakah staf logistik lapangan bernama Rian sudah menyerahkan seluruh nota fisik asli pembelian semen gelombang terakhir?"
Mendengar nama Rian disebut secara langsung oleh asisten pribadi direktur, Zhafira dan Gamila saling bertukar pandang sekilas. Sinyal-sinyal rahasia berkelebat di antara mata mereka berdua.
"Um... laporan dari Rian baru saja dikirimkan tadi pagi lewat map logistik, Mbak," jawab Gamila dengan hati-hati. "Semua berkasnya sudah kami satukan di map merah khusus."