Matahari baru saja naik sepenggalah di atas kompleks perkantoran proyek pembangunan perumahan elit Surabaya, memancarkan cahaya terik yang membakar pelataran semen dan tumpukan besi beton. Di dalam ruang administrasi yang sejuk ber-AC, suasana kerja mendadak terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Zhafira mondar-mandir di dekat mesin pembuat kopi pantry sambil membawa secarik catatan kecil penuh coretan rumus dan istilah teknis sipil tingkat tinggi. Di meja kerjanya, Gamila duduk menyilangkan tangan dengan senyuman penuh rencana licik di wajahnya.
"Kamu yakin rencana ini bakal berhasil, Zhafira?" tanya Gamila ragu-ragu sambil merapikan letak kacamatanya. "Bagaimana kalau dia mengelak atau justru melaporkan kita berdua ke bagian HRD karena dianggap menginterogasi staf lain?"
Zhafira berhenti melangkah, menoleh ke arah sahabatnya dengan kilatan mata penuh rasa penasaran yang teramat besar. "Tenang saja, Mila. Semalem aku tidak sengaja melihat profil rahasia di server pusat itu. Ingat kan? Dia bukan sembarang staf logistik. Dia adalah Arga Bimantara, sang direktur utama grup korporasi pusat! Jadi, mustahil seorang bos besar berpendidikan tinggi lulusan universitas top dunia kebingungan menghadapi pertanyaan akademis dasar teknik sipil."
"Tapi tetap saja rasanya nekat banget," balas Gamila memperingatkan. "Kalau sampai dia tahu kita berdua meretas database dan sengaja menjebaknya di pantry, karier kita bisa langsung tamat hari ini juga."
"Makanya kita harus pura-pura tidak sengaja," kata Zhafira meyakinkan. "Kita akan memancingnya ke pantry dengan dalih meminta bantuan pengecekan ulang perhitungan struktur fondasi beton untuk laporan audit siang ini. Begitu dia masuk ke dalam perangkap, aku akan meluncurkan rentetan pertanyaan akademis paling rumit yang hanya dikuasai oleh sarjana teknik tingkat lanjut atau direktur utama perusahaan konstruksi."
Gamila mengangguk pelan, meskipun debar jantungnya berdegup kencang karena rasa ngeri bercampur penasaran. "Baiklah. Kalau begitu jalankan rencanamu sekarang. Sebentar lagi jam istirahat pagi, biasanya Rian... maksudku, Pak Arga... akan mengambil air mineral di pantry."
Di ruang logistik yang terletak tidak jauh dari ruang administrasi, Arga duduk di balik meja kerjanya sambil memeriksa lembar rekapitulasi nota pembelian material baja. Meskipun semalam ia baru saja menyerahkan amplop puisi utuh kepada Kirana dan hatinya dipenuhi oleh kedamaian batin, ia tetap harus menjaga profesionalismenya sebagai seorang "staf logistik lapangan" selama jam kerja formal berlangsung.
"Pagi, Arga!" sapa Gazhi sambil meletakkan setumpuk map arsip baru di atas meja. "Kelihatan santai banget mukanya hari ini. Ada angin apa nih?"
"Tidak ada apa-apa, Gzh. Hanya merapikan sisa laporan audit kemarin," jawab Arga tenang, menyembunyikan senyuman kecil di balik lembar dokumen.
Tiba-tiba, pintu ruang logistik diketuk pelan dari luar. Zhafira menjulurkan kepalanya dengan senyuman ramah yang tampak sedikit dibuat-buat. "Permisi, Kak Rian. Boleh minta tolong sebentar? Ada beberapa data perhitungan volume beton di laporan gudang belakang yang rasanya keliru. Kalau Kak Rian ada waktu luang, bisa tolong jelaskan sebentar di pantry sambil minum kopi?"
Arga mendongakkan kepala, menatap Zhafira yang berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang menyembunyikan sejuta rahasia. Sebagai seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa membaca gerak-gerik psikologis karyawan, Arga langsung menangkap gelagat aneh dari cara Zhafira berbicara dan tersenyum. Namun, ia memilih untuk tetap tenang dan mengikuti alur permainan kecil yang sedang disiapkan oleh staf administrasi tersebut.
"Tentu saja, Zhafira. Mari kita lihat apa yang keliru dari perhitungan laporan itu," jawab Arga dengan suara baritonnya yang tenang. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja lapangannya, lalu berjalan mengikuti langkah Zhafira menuju ruang pantry kecil di ujung koridor administrasi.
Gazhi dan Daffa yang duduk di meja sebelah saling bertukar pandang dengan alis terangkat tinggi. "Wah, ditraktir ngobrol sama mbak administrasi nih, Bos!" bisik Gazhi menggoda dengan nada tertahan. Daffa tertawa kecil, mengira itu hanyalah urusan pekerjaan administrasi biasa.
Sesampainya di ruang pantry yang bersih dan beraroma harum kopi segar, Zhafira mempersilakan Arga masuk terlebih dahulu. Di dalam pantry, Gamila sudah menunggu di dekat meja kecil sambil memegang cangkir kosong, pura-pura sibuk mencatat sesuatu di atas selembar kertas catatan.
"Silakan duduk, Kak Rian," kata Zhafira ramah namun penuh selidik, menutup pintu pantry rapat-rapat dari dalam untuk menjaga privasi percakapan mereka.
Arga duduk di kursi plastik kecil di dekat meja pantry. Ia menatap kedua gadis itu dengan tatapan lurus yang tenang, tidak menunjukkan rasa gugup sedikit pun. "Ada hal apa yang ingin didiskusikan soal laporan beton, Zhafira? Silakan tunjukkan bagian mana yang menurut kalian keliru."
Zhafira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian di dalam dadanya. Ia meletakkan catatan kecil berisi rumus-rumus teknik sipil tepat di hadapan Arga. "Begini, Kak Rian. Kemarin waktu kami merekapitulasi data volume pengecoran fondasi gedung utama, ada beberapa variabel koefisien kuat tekan beton bertulang yang rasanya membingungkan. Berdasarkan analisis regresi linier sederhana, bagaimana cara kita menentukan batas toleransi lendutan balok baja tanpa mengabaikan faktor momen lentur maksimum?"
Begitu Zhafira melontarkan pertanyaan akademis tingkat lanjut tersebut, suasana di dalam pantry mendadak menjadi hening. Gamila menahan napasnya, mengarahkan pandangan tajam ke arah Arga untuk melihat bagaimana reaksi sang staf logistik lapangan menanggapi pertanyaan yang biasanya hanya diajukan kepada insinyur struktur senior atau konsultan teknik sipil.
Arga tidak langsung menjawab. Ia menatap lembar catatan di hadapannya sejenak, lalu mengangkat pandangannya menatap mata Zhafira dengan senyuman tipis penuh arti. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang biasa diajukan oleh staf administrasi keuangan yang hanya mengurus nota dan rekapitulasi kas kecil. Itu adalah sebuah jebakan telak yang dirancang khusus untuk menguji apakah latar belakang pendidikan teknik sipil miliknya benar-benar sesuai dengan profil eksekutif di server pusat.
"Pertanyaan yang sangat menarik, Zhafira," jawab Arga dengan nada suara yang tenang, berwibawa, dan sangat terstruktur. Ia mengambil sebatang pulpen dari saku bajunya, lalu mulai menuliskan rumus matematis di atas kertas catatan tersebut dengan gerakan tangan yang sangat lihai dan percaya diri.
"Untuk menentukan batas toleransi lendutan balok baja pada struktur bentang panjang, kita tidak bisa sekadar menggunakan analisis regresi linier sederhana seperti yang ada di buku pengantar konstruksi umum," lanjut Arga menjelaskan sambil menarik garis rumus momen inersia dan modulus elastisitas baja. "Kita harus memperhitungkan faktor creep atau rangkak beton serta koefisien muai panas material secara simultan menggunakan persamaan diferensial parsial orde dua. Jika momen lentur maksimum mendekati ambang batas plastis, maka deformasi geser pada sambungan baut mutu tinggi mutlak harus dikoreksi."
Zhafira dan Gamila terbelalak lebar mendengarkan penjelasan tersebut. Penjelasan itu disampaikan bukan dengan gaya bicara seorang staf logistik lapangan biasa yang membaca buku panduan, melainkan dengan kefasihan seorang ahli teknik sipil senior yang sudah puluhan tahun memimpin proyek konstruksi megah berskala internasional.