Matahari sore di kawasan perkampungan padat dekat area proyek perumahan elit Surabaya mulai meredup, menyisakan bias jingga di balik deretan atap seng kontrakan para pekerja. Di sebuah gang sempit yang berdebu, sebuah mobil sedan berwarna perak terparkir agak jauh di bawah rindangnya pohon ketapang. Di balik kemudi mobil tersebut, Gamila duduk dengan mata menyipit tajam, memegang sebuah kamera digital saku beresolusi tinggi. Sasaran bidikannya jelas: pintu kamar kontrakan paling ujung yang dihuni oleh Arga alias Rian.
Sejak insiden interogasi menegangkan di pantry kantor beberapa hari lalu, rasa penasaran Gamila dan Zhafira bukannya mereda, melainkan semakin menjadi-jadi. Meskipun Zhafira memilih untuk mundur karena ketakutan setengah mati, Gamila justru merasa tertantang untuk mengumpulkan bukti visual otentik mengenai kehidupan pribadi sang bos besar di luar jam kerja proyek.
"Awas saja... aku pasti akan mendapatkan foto eksklusif kepindahan Arga atau interaksinya dengan Bu Kirana di luar jam kantor," gumam Gamila penuh tekad, mengatur fokus lensa kameranya ke arah pintu kamar kontrakan yang tampak tertutup rapat.
Namun, belum sempat Gamila menekan tombol shutter kameranya, dari arah ujung gang muncul sosok pemuda berkaus oblong kusam dan celana pendek selutut yang berjalan santai sambil bersiul riang. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik besar berwarna hitam berisi kerupuk putih ukuran jumbo. Pemuda itu adalah Gazhi—sahabat karib sekaligus rekan kerja Arga di divisi logistik yang terkenal paling usil dan jago mengoceh.
Gazhi yang sedari tadi menyadari keberadaan mobil asing mencurigakan yang terparkir di dekat gang kontrakan mereka langsung menghentikan langkahnya. Ia menyipitkan mata, menatap ke arah kaca mobil sedan perak yang separuh terbuka. Dari balik kaca kemudi, siluet seorang wanita berambut dikuncir rapi dengan kacamata besar tampak jelas sedang mengarahkan lensa benda hitam mirip kamera ke arah kamar Arga.
"Wah, wah, wah... Ada penyusup elit masuk ke sarang kuli logistik kita nih," batin Gazhi menyeringai licik. "Mana mungkin kubiarkan ada paparazi amatir mengganggu ketenangan bos besar kita yang lagi kasmaran sama Bu Direktur."
Alih-alih masuk ke dalam kontrakan dan memperingatkan Arga, Gazhi justru memutar arah langkahnya. Dengan kantong plastik kerupuk besar di tangan, ia berjalan mendekati sisi pengemudi mobil sedan perak tersebut dengan langkah santai tanpa beban.
Gamila yang merasa gerak-geriknya mulai terancam langsung panik bukan kepalang. Ia buru-buru menurunkan kamera saku ke pangkuannya, merapikan duduknya, dan berusaha memasang ekspresi senormal mungkin. Namun, terlambat—sosok Gazhi kini sudah berdiri tepat di samping kaca jendela mobilnya sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu dengan ujung jari telunjuknya.
Tok... tok... tok.
Gamila menelan ludahnya dengan susah payah, lalu menekan tombol power untuk menurunkan kaca jendela mobil secara perlahan. Wajahnya tampak memerah karena tertangkap basah sedang mengintai.
"Selamat sore, Mbak Kacamata Hitam!" sapa Gazhi dengan senyuman paling lebar dan ramah yang ia miliki, sengaja membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan jendela mobil Gamila. "Nyasar atau sedang menunggu mangsa, nih?"
Gamila mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyusun kata-kata pembelaan secepat kilat untuk menutupi aksi pengintaiannya. "Eh? Saya... saya tidak sedang menunggu siapa-siapa, Mas! Saya cuma... em... sedang memarkir mobil sebentar sambil menunggu teman yang janji ketemuan di sekitar sini."
"Oh, menunggu teman?" Gazhi mengangguk-angguk sok tahu, lalu mengangkat kantong plastik kerupuk putih besar di tangannya tinggi-tinggi. "Wah, kalau nunggu temannya lama, daripada bosan mending beli kerupuk udang renyah buatan paman saya ini, Mbak! Dijamin gurih, renyah, bikin ketagihan, dan bisa meredakan stres akibat macetnya jalanan Surabaya!"
Gamila menatap kantong plastik kerupuk jumbo itu dengan ekspresi wajah terkejut sekaligus bingung. "Ha? Kerupuk? Siapa juga yang mau beli kerupuk di dalam mobil tengah-tengah gang sempit begini?"
"Eits, jangan salah, Mbak!" protes Gazhi dengan gaya bicara yang semakin meyakinkan layaknya sales produk eksklusif di televisi swasta. "Kerupuk ini bukan kerupuk sembarangan. Ini adalah hasil olahan tangan para pekerja logistik berpengalaman tinggi yang dijamin lulus uji mutu dan kelayakan makan! Cocok banget buat dikonsumsi sambil mengintai... eh, maksud saya, sambil menunggu teman!"
Mendengar kata "mengintai" yang sengaja ditekankan oleh Gazhi, jantung Gamila berdegup kencang. Ia yakin seratus persen bahwa pemuda konyol di hadapannya ini sudah tahu persis apa yang sedang ia lakukan dari balik kemudi mobilnya.
"Kamu... kamu jangan ngaco ya!" elak Gamila dengan nada suara yang sedikit meninggi karena gugup. "Saya serius bukan agen penjualan makanan ringan. Tolong jangan ganggu saya dan silakan pergi dari sini!"
Gazhi menggelengkan kepalanya pelan, menampilkan ekspresi wajah sedih yang dibuat-buat sangat dramatis. "Wah, tegur sapa yang sangat kejam dari seorang wanita berpendidikan tinggi. Padahal niat saya baik, menawarkan camilan bergizi tinggi agar Mbak tidak kelaparan selama berjam-jam duduk di dalam mobil sambil memperhatikan pintu kontrakan teman saya."
"Temanmu? Siapa maksudmu?" tanya Gamila defensif.
"Ya siapa lagi kalau bukan Rian, si staf logistik teladan yang gantengnya mirip aktor drama Korea itu," jawab Gazhi santai sambil nyengir lebar. "Kelihatan banget dari tadi Mbak memotret pintu kamarnya pakai kamera canggih. Mau melamar dia jadi bintang iklan sabun colek, ya?"
Gamila merasakan pipinya panas membara. Penyamarannya sebagai pengintai rahasia benar-benar hancur lebur di tangan seorang pemuda pembawa kerupuk yang super menyebalkan ini.
"Sudahlah, Mas! Jangan pura-pura tidak tahu," kata Gamila akhirnya menyerah, memutuskan untuk bersikap blak-blakan setelah kedoknya terbuka lebar. Ia menatap tajam ke arah Gazhi. "Aku tahu persis siapa Rian sebenarnya. Aku tahu dia bukan sekadar staf logistik biasa. Jadi, tolong jangan halangi aku untuk mendapatkan berita valid mengenai kehidupannya di sini!"
Mendengar pengakuan Gamila yang secara terbuka mengetahui identitas asli Arga, ekspresi wajah Gazhi yang tadinya jenaka perlahan-lahan berubah menjadi sedikit lebih serius, meskipun senyuman usil masih tersungging di sudut bibirnya.