Malam di kota Surabaya merayap turun dengan membawa hawa gerah yang khas, menyusup melalui celah-celah jendela kamar kontrakan sederhana yang dihuni oleh para staf logistik proyek perumahan elit. Di dalam kamar yang dipenuhi oleh tumpukan map arsip dan aroma kopi hitam sisa sore tadi, Daffa duduk terpaku di depan layar laptop jinjing miliknya. Cahaya layar memantulkan bayangan wajahnya yang tegang, memperlihatkan kerutan di dahi pemuda itu yang menandakan ada sesuatu yang sangat gawat sedang terjadi di balik jaringan digital.
Sebagai mantan asisten taktis di perusahaan teknologi informasi pusat, Daffa memang bukan sekadar staf logistik biasa. Ia sengaja menanamkan berbagai macam script pengaman tingkat tinggi dan sistem peringatan dini di dalam beberapa simpul database eksternal. Sistem itu ia buat khusus untuk mengantisipasi segala bentuk penyelidikan ilegal, pengintaian privat, atau upaya verifikasi identitas palsu yang sewaktu-waktu bisa saja dilancarkan oleh orang-orang kantor yang penasaran terhadap latar belakang Arga.
Ponsel pintar yang tergeletak di samping keyboard tiba-tiba bergetar keras, mengeluarkan bunyi alarm pendek bernada peringatan darurat. Daffa langsung melirik layar ponselnya dengan napas tertahan.
Sebuah notifikasi merah terang menyala berkedip-kedip: [PERINGATAN KEAMANAN: Upaya Verifikasi Data Manual Terdeteksi pada Identitas "Rian Ardiansyah" di Kelurahan Sektor Barat Surabaya].
"Sialan..." maki Daffa pelan, jemarinya langsung bergerak cepat di atas keyboard laptop, membuka jendela terminal baris perintah untuk melacak asal-usul sinyal kueri tersebut. "Siapa lagi yang mencoba mencari-cari gara-gara selarut ini? Jangan-jangan ulah si detektif amatir dari ruang administrasi itu lagi."
Di sudut ruangan, Gazhi yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok handuk kecil ke rambutnya berhenti melangkah ketika melihat ekspresi wajah Daffa yang mendadak pucat.
"Ada apa, Daf? Kenapa mukamu tegang begitu? Jangan bilang stok kopi kita habis," tanya Gazhi mencoba mencairkan suasana, meskipun ia tahu dari nada getar suara sahabatnya itu bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.
Daffa mendongakkan kepala, menatap Gazhi dengan sorot mata serius. "Bukan masalah kopi, Gzh. Ada seseorang yang sedang mencoba memverifikasi data KTP palsu milik Arga secara langsung ke kantor kelurahan tempat alamat samaran kita terdaftar di pinggiran kota."
Mendengar ucapan tersebut, senyuman di wajah Gazhi seketika lenyap. Ia melempar handuknya ke atas tempat tidur, lalu melangkah cepat mendekati meja kerja Daffa. "Verifikasi manual ke kelurahan? Maksudmu ada orang suruhan yang mendatangi kantor kelurahan secara fisik atau mengecek arsip kependudukan di sana malam-malam begini?"
"Bukan sekadar mengecek online, Gzh," jawab Daffa dengan suara berbisik namun penuh tekanan. "Sistem peringatan dini yang kutanam menunjukkan ada permintaan akses manual dari jaringan eksternal pihak ketiga yang dibiayai oleh seseorang dari kantor kita. Jika pihak kelurahan merespons permintaan itu tanpa manipulasi data dari kita, identitas asli Arga sebagai anak konglomerat Jakarta akan terbongkar malam ini juga."
Di ruang tengah kontrakan, Arga yang baru saja selesai merapikan catatan pengeluaran material harian mendengarkan percakapan tegang antara kedua sahabatnya. Pria itu meletakkan pulpennya, lalu bangkit dari kursi dan melangkah mendekati meja Daffa dengan langkah tenang namun penuh wibawa.
"Berapa lama waktu yang kita miliki sebelum petugas kelurahan membuka arsip fisik dan mengirimkan konfirmasi balik ke sistem pusat?" tanya Arga on point, suaranya terdengar tegas tanpa ada secercah kepanikan di wajahnya.
Daffa melirik indikator waktu di layar laptopnya, jarinya terus mengetik serangkaian kode enkripsi dengan kecepatan tinggi. "Waktu kita sangat tipis, Arga. Berdasarkan log aktivitas sistem yang kulihat, pihak penyelidik bayaran itu menggunakan jasa orang dalam di kantor kelurahan untuk memaksa pengecekan data malam ini juga. Kita hanya punya waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit sebelum arsip kependudukan atas nama Rian Ardiansyah dinyatakan tidak valid atau justru terbongkar sebagai data fiktif."
"Kira-kira siapa yang berani membayar orang dalam kelurahan selarut ini?" gumam Gazhi dengan alis bertaut rapat. "Apakah mungkin Zhafira atau Gamila?"
"Bisa jadi Gamila," timpal Daffa menganalisis cepat. "Setelah insiden pengusiran di gang kemarin sore, dia sepertinya tidak menyerah begitu saja dan memilih jalur investigasi birokrasi formal untuk membongkar identitas kita."
Arga mengangguk pelan, memahami betul dinamika intrik yang sedang terjadi di sekeliling proyek mereka. Meskipun penyamarannya memang sudah direncanakan untuk dibuka sendiri pada acara puncak esok hari, jika identitas aslinya terbongkar secara paksa malam ini melalui jalur birokrasi kependudukan yang tidak resmi, hal itu akan merusak momentum estetika dan integritas strategi yang telah ia bangun selama berpekan-pekan.
"Daffa, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menghentikannya?" tanya Arga menatap tajam ke arah layar laptop.
"Aku harus segera menghubungi jaringan lama ku di Jakarta," jawab Daffa dengan nada mendesak. "Aku perlu meretas dan memanipulasi basis data server kependudukan daerah secara sementara untuk menyuntikkan data valid buatan agar kueri dari Surabaya itu mendapati hasil yang sesuai dengan identitas samaran Rian Ardiansyah. Tanpa itu, alamat palsu kita akan langsung dicap sebagai pemalsuan dokumen negara."
Daffa langsung menyambar ponsel pintarnya, mencari kontak seorang programmer senior di Jakarta yang dulu pernah bekerja sama dengannya dalam proyek pengamanan siber korporasi. Nada dering sambung berbunyi tut... tut... tut dengan lambat, membuat suasana di dalam kamar kontrakan terasa semakin mencekam dan penuh ketegangan.
"Angkatlah, kumohon..." bisik Daffa penuh harap, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Di ujung sambungan telepon Jakarta, setelah dering keempat yang terasa begitu lama, sebuah suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar menyapa.
"Halo? Siapa ini malam-malam menelepon? Kalau tidak penting, kumatikan telepon ini," suara di seberang sana terdengar malas.
"Hei, ini aku, Daffa! Jangan dimatikan!" seru Daffa cepat dengan nada mendesak. "Aku butuh bantuan daruratmu sekarang juga. Akses server kelurahan sektor barat Surabaya sedang dipindai oleh pihak ketiga secara manual. Aku butuh kamu melakukan bypass enkripsi dan menyuntikkan dummy data ke dalam tabel kependudukan daerah sekarang!"