Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Interogasi Sahabat pada Kirana

Langit sore di kota Surabaya berubah warna menjadi jingga kemerahan ketika mentari perlahan-lahan tergelincir di balik cakrawala, menyisakan udara hangat yang berhembus pelan melewati keramaian jalanan kota. Di sebuah kafe berkonsep vintage yang terletak tidak jauh dari kompleks perkantoran proyek perumahan elit, suasana terasa jauh lebih tenang. Aroma biji kopi segar bercampur wangi kue panggang memenuhi udara di dalam ruangan ber-AC sejuk tersebut.

Di sudut ruangan yang dikelilingi oleh tanaman hias gantung, Zhafira dan Gamila duduk berdampingan di sofa empuk menghadap langsung ke arah meja bundar kecil. Di seberang mereka, Kirana duduk dengan anggun mengenakan setelan blus pastel berpadu kerudung senada. Meskipun pertemuan sore itu tampak seperti acara minum teh santai selepas jam kerja, ekspresi wajah Zhafira dan Gamila menyiratkan ketegangan yang amat sangat. Mereka tidak sedang berniat menikmati senja, melainkan merencanakan sebuah konfrontasi serius yang sudah lama tertahan di dada.

"Kirana, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang ke sini sore ini," buka Gamila langsung on point, meletakkan cangkir keramiknya ke atas piring kecil dengan bunyi dentingan pelan. "Kami mengajakmu bertemu bukan untuk membahas masalah audit keuangan atau laporan logistik proyek, melainkan untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih penting... sesuatu yang menyangkut keselamatan dan masa depan kariermu di perusahaan ini."

Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, menatap kedua sahabat sekaligus staf administrasinya itu dengan senyuman tipis yang menyembunyikan rasa heran. "Ada apa, Mila, Zhafira? Kenapa nada bicara kalian serius sekali? Apakah ada masalah besar lagi terkait data proyek di lapangan?"

Zhafira menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melontarkan kalimat yang langsung membuat suasana meja tersebut mendadak hening. "Bukan soal data proyek, Kirana. Ini tentang Rian... pria yang selama beberapa minggu terakhir ini selalu berada di dekatmu dan bertindak sebagai staf logistik lapangan."

Mendengar nama Rian disebut, binar lembut langsung terpancar di mata Kirana. Namun, ekspresi tegang di wajah Zhafira dan Gamila membuat senyuman di bibir Kirana perlahan memudar.

"Ada apa dengan Rian?" tanya Kirana dengan nada suara yang mulai sedikit defensif. "Bukankah dia bekerja dengan sangat baik di divisi logistik? Laporannya selalu akurat, dan kinerjanya tidak pernah mengecewakan."

Gamila mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke dalam sepasang mata Kirana. "Itu dia masalahnya, Kirana! Kamu terlalu menutup mata pada berbagai kejanggalan yang ada pada diri pria itu. Coba kamu pikirkan secara jernih pakai logika akal sehatmu sebagai direktur operasional!"

Kirana terdiam sejenak, merasakan debar jantungnya sedikit berdegup lebih kencang menghadapi desakan kedua sahabatnya itu. "Kejanggalan apa maksud kalian, Mila? Jangan berputar-putar, katakan saja langsung."

Zhafira mengambil alih pembicaraan, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari dalam tas kerjanya lalu meletakkannya di atas meja kafe. "Kami tidak sedang memfitnah siapa pun, Kirana. Tapi kami mengumpulkan bukti-bukti kecil yang selama ini sengaja kamu abaikan karena perasaan sukamu kepadanya."

"Bukti apa?" tanya Kirana menaikkan alisnya, mencoba mempertahankan ketenangannya meskipun rasa penasarannya mulai merajai pikiran.

"Pertama, perhatikan cara dia berjalan dan bersikap di area proyek," jelas Zhafira menunjuk catatannya. "Meskipun dia mengenakan rompi kusam dan celana lapangan yang sama seperti pekerja lain, postur tubuhnya sangat tegak, langkah kakinya teratur layaknya seorang perwira tinggi militer atau eksekutif puncak yang terbiasa memimpin rapat dewan direksi, bukan postur seorang buruh gudang biasa."

Gamila langsung menimpali ucapan sahabatnya. "Kedua, jam tangan yang dia kenakan tempo hari! Meskipun terlihat sederhana dan disamarkan, itu adalah merek jam tangan mewah keluaran terbatas asal Swiss yang harganya setara dengan gaji staf logistik selama lima tahun penuh! Mana mungkin seorang staf logistik baru memiliki barang semahal itu kalau bukan karena dia sengaja menyembunyikan identitas aslinya?"

Kirana tertegun mendengar pemaparan tersebut. Ingatannya tiba-tiba melayang pada momen-momen ketika ia berinteraksi dengan Rian—bagaimana tatapan mata pria itu begitu tajam namun menenangkan, bagaimana cara ia berbicara dengan pilihan kosakata yang sangat tertata rapi, serta bagaimana ia memperlakukan Kirana dengan tingkat penghormatan yang luar biasa tinggi.

"Dan yang paling mencurigakan dari semuanya," lanjut Gamila dengan nada suara yang semakin serius, "dua sahabatnya di divisi logistik—Daffa dan Gazhi—tidak pernah memperlakukan Rian layaknya teman sebaya. Kamu pasti pernah melihatnya sendiri, Kirana! Daffa dan Gazhi selalu berdiri di belakang Rian layaknya ajudan atau pengawal pribadi yang siap siaga melindungi bos besar, bukan sekadar kuli gudang tempat mereka nongkrong minum kopi."

Suasana di meja kafe itu mendadak sunyi senyap. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan ujung kerudung Kirana. Wanita itu menundukkan pandangannya menatap cangkir kopi yang mengepulkan uap tipis, merasakan gelombang keraguan mulai menyusup ke dalam relung hatinya. Selama ini ia memang merasakan ada sesuatu yang istimewa dari diri Rian, namun ia memilih untuk menikmati kedekatan itu tanpa mempertanyakan masa lalunya terlalu dalam.

"Kalian... kalian terlalu berlebihan menganalisis hal-hal kecil seperti itu," bela Kirana dengan suara lembut, mencoba menepis keraguan yang mulai menggerogoti pikirannya. "Rian adalah pria yang salih, mandiri, dan selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Tidak ada alasan bagi kalian untuk mencurigainya seburuk itu."

Zhafira menghela napas panjang, menatap Kirana dengan pandangan penuh rasa khawatir yang tulus. "Kami tidak berniat menuduhnya berbuat jahat, Kirana. Kami justru mengkhawatirkan dirimu. Kamu adalah putri tunggal pemilik grup korporasi besar ini, dan masa depan perusahaan ada di tanganmu."

Lihat selengkapnya