Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #71

Operasi "Penguntitan Malam"

Rintik hujan gerimis baru saja turun membasahi aspal jalanan kota Surabaya, meninggalkan kilau pantulan lampu jalan yang temaram di sepanjang kawasan perkantoran proyek perumahan elit. Jam di dinding ruang administrasi baru saja menunjukkan pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan sudah lama meninggalkan kantor dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Namun, di dalam ruangan yang mulai sepi itu, Zhafira dan Gamila masih berdiri di dekat jendela kaca besar, mengawasi tiga sosok pria yang baru saja merapikan meja kerja mereka di pos logistik seberang halaman.

"Mereka baru saja selesai lembur, Mila," bisik Zhafira dengan nada bersemangat, merapikan letak jaketnya dan menyambar tas selempangnya. "Ini kesempatan emas kita. Kalau kita tidak mengikutinya malam ini, kita tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya pria bernama Rian itu."

Gamila menatap sahabatnya dengan keraguan yang tersirat jelas di wajahnya. "Apakah kita tidak terlalu nekat, Zhafira? Bagaimana kalau ketahuan? Semalam saja kita hampir ketahuan saat mengecek data di kelurahan."

"Tenang saja, kita tidak akan turun dari mobil. Kita hanya akan membuntuti mereka dari jarak aman menggunakan mobilmu," bujuk Zhafira penuh determinasi. "Rasa penasaran ini sudah membakar kepalaku, Mila. Kirana berhak tahu kebenarannya, dan kita harus menjadi orang yang membongkar sandiwara ini."

Mendengar tekad baja sahabatnya, Gamila akhirnya menghela napas pasrah lalu mengangguk setuju. Keduanya segera bergegas keluar gedung lewat pintu samping agar tidak terlihat oleh satpam malam, lalu masuk ke dalam mobil sedan perak milik Gamila yang terparkir di sudut gelap pelataran.

Di seberang sana, Arga, Daffa, dan Gazhi keluar dari pos logistik bersama-sama. Malam itu, karena jarak kontrakan mereka tidak terlalu jauh dan udara terasa sejuk selepas hujan gerimis, ketiganya memutuskan untuk berjalan kaki menembus rintik hujan tipis sambil mengenakan jaket penahan angin. Arga berjalan di tengah, sementara Daffa dan Gazhi berjalan di sisi kiri dan kanannya, mengobrol santai membicarakan progres logistik hari esok.

Di dalam mobil yang diparkir sekitar lima puluh meter di belakang mereka, Gamila menyalakan mesin mobil secara perlahan. Dengan lampu utama yang sengaja dimatikan dan hanya mengandalkan lampu kota yang redup, Gamila memasukkan gigi persneling dan mulai melajukan kendaraannya perlahan-lahan mengikuti langkah ketiga pria tersebut dari kejauhan.

Suasana malam di sekitar kawasan perkampungan pekerja terasa tenang dan lengang. Rintik hujan yang semakin mereda menyisakan genangan air di sepanjang jalan setapak yang mereka lewati. Arga dan kedua asisten setianya terus melangkah menyusuri trotoar sempit, tidak sedikit pun menyadari bahwa di belakang mereka, sebuah mobil sedan perak merayap pelan tanpa menyalakan lampu sorot utama.

"Wah, perutku sudah keroncongan banget gara-gara lembur tadi," keluh Gazhi sambil mengusap perutnya sendiri. "Bagaimana kalau kita mampir dulu ke warung pecel lele pojok gang itu sebelum balik ke kontrakan?"

"Ide bagus, Gzh. Aku juga butuh asupan karbohidrat setelah seharian berkutat dengan server gudang," timpal Daffa menyetujui.

Arga tersenyum tipis melihat tingkah kedua sahabat karibnya itu. "Silakan, kita makan di warung sederhana itu saja. Malam ini saya yang traktir sebagai bentuk apresiasi kerja keras kalian."

"Asyik! Bos besar mau traktir makan malam nih!" seru Gazhi kegirangan sambil merangkul pundak Daffa.

Ketiga pria itu kemudian berbelok ke arah sebuah warung tenda sederhana yang berdiri di sudut jalan dengan lampu petromak kuning menerangi plang kain usang bertuliskan Pecel Lele & Ayam Goreng Cak Mamat. Warung itu tampak bersih, berlantai semen kasar, dengan beberapa meja panjang dari kayu di bagian dalam.

Di dalam mobil pengintai yang berhenti di seberang jalan, Zhafira dan Gamila menahan napas. Mereka mematikan mesin mobil sepenuhnya agar deru suara knalpot tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar warung.

"Mereka masuk ke warung tenda itu, Mila!" bisik Zhafira antusias sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan wajahnya hampir ke kaca jendela mobil yang berembun. "Cepat, matikan semua lampu indikator di dalam mobil!"

Gamila mematikan lampu dasbor, lalu meraih teropong kecil berukuran saku yang biasa ia simpan di laci mobil. Ia mengarahkan lensa teropong tersebut langsung ke arah jendela plastik transparan warung tenda tempat Arga dan kawan-kawan duduk.

Melalui teropong genggamnya, Gamila dapat melihat dengan sangat jelas aktivitas yang terjadi di dalam warung sederhana tersebut. Ketiga pria itu memilih meja di sudut ruangan yang agak menjorok ke dalam. Namun, ada satu pemandangan ganjil yang langsung tertangkap oleh pandangan mata Gamila dan membuat napasnya tertahan seketika.

"Zhafira... coba kamu lihat lewat kaca itu," bisik Gamila dengan suara bergetar, menyerahkan teropong kecilnya kepada sang sahabat.

Zhafira merebut teropong tersebut, lalu membidikkan lensanya ke meja sudut warung. Di dalam bidang pandang lensa, tampak Daffa secara refleks berdiri dari bangkunya begitu Arga tiba di dekat meja. Daffa dengan sigap menarik kursi kayu plastik untuk Arga, merapikan dudukan kursinya, dan berdiri tegak dengan tangan bersidekap di belakang punggung layaknya seorang ajudan pribadi yang siaga, menolak untuk duduk sampai Arga menoleh dan melambaikan tangan menyuruhnya duduk.

"Kamu lihat itu?!" desis Zhafira dengan mata terbelalak lebar penuh kemenangan. "Mana mungkin seorang buruh logistik atau teman sekamar biasa memperlakukan temannya sedemikian rupa? Itu jelas-jelas gestur seorang pelayan kepada majikannya!"

Lihat selengkapnya