Rintik hujan gerimis yang turun membasahi aspal jalanan kawasan perkampungan pekerja di Surabaya malam itu mendadak terasa semakin menusuk tulang. Di dalam kabin mobil sedan perak yang terparkir di seberang jalan warung tenda sederhana, Zhafira dan Gamila masih terengah-engah dalam kepanikan. Jantung kedua gadis itu berdegup kencang setelah aksi pengintaian mereka mendadak tepergok oleh Gazhi yang menoleh tajam ke arah jendela kaca warung.
"Ya ampun, Zhafira... Hampir saja kita tertangkap basah!" bisik Gamila dengan suara bergetar ketakutan, tangannya yang memegang setir mobil tampak gemetar hebat. "Tatapan mata mereka tadi benar-benar menyeramkan! Kenapa kita bisa sebodoh itu nekat membuntuti mereka sampai ke warung makan segala?"
Zhafira sendiri meskipun berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Ia menatap layar ponselnya yang baru saja berhasil merekam momen saat Daffa berdiri tegak membungkuk hormat kepada Arga. "Tapi kita berhasil mendapatkan bukti otentik, Mila! Foto ini adalah senjata pamungkas kita untuk membuka mata Kirana besok pagi!" balas Zhafira dengan nada berbisik namun penuh antusiasme yang menggebu-gebu.
"Senjata apa? Kalau sampai kita dilaporkan ke bagian keamanan atau HRD karena dianggap melakukan pengintaian ilegal, karier kita bisa langsung tamat hari ini juga," keluh Gamila cemas, melirik ke arah luar jendela mobil yang basah oleh air hujan.
Belum sempat Zhafira membalas perkataan sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan namun tegas pada kaca jendela pintu pengemudi.
Tok... tok... tok.
Suara ketukan itu menggema begitu nyata di dalam kabin mobil yang senyap. Zhafira dan Gamila sontak terperanjat setengah mati, menahan napas secara bersamaan seolah nyawa mereka baru saja melompat keluar dari tubuh. Di luar sana, di bawah temaram cahaya lampu jalan yang memantul di atas genangan air hujan, sesosok pria berjaket gelap dengan tudung kepala menutupi sebagian wajahnya berdiri tegak menatap lurus ke arah mereka.
Sosok itu adalah Daffa. Asisten taktis yang dikenal paling cerdas dan tenang di divisi logistik kini berdiri tepat di samping kaca mobil mereka, memasang ekspresi wajah dingin tanpa senyuman sedikit pun.
°˖✧✿✧˖°
Gamila menelan ludahnya dengan susah payah, sekujur tubuhnya terasa kaku seperti tersengat aliran listrik. "Zhafira... i-itu... itu Daffa! Dia mendatangi mobil kita!" bisik Gamila histeris, mencengkeram lengan sahabatnya erat-erat.
"Jangan panik! Coba pura-pura tidak tahu atau kunci pintunya rapat-rapat!" sahut Zhafira panik, meskipun jemarinya sendiri gemetar saat mencoba meraba tombol pengunci pintu di sisi kemudi.
Namun, sebelum jari Gamila sempat menekan tombol pengunci, ketukan di kaca jendela kembali terdengar—kali ini sedikit lebih keras dan berwibawa. Daffa membungkukkan sedikit badannya, menatap tajam menembus kaca jendela mobil yang tertutup rapat, memberikan gestur isyarat agar Gamila segera menurunkan kaca jendela tersebut.
Menyadari bahwa melarikan diri atau bersembunyi di dalam mobil sudah tidak ada gunanya lagi, Zhafira menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya. Ia menyenggol bahu Gamila pelan. "Turunkan kacanya, Mila. Kalau kita menghindar terus, mereka akan mengira kita melakukan tindakan kriminal yang lebih besar lagi."
Dengan tangan bergetar hebat, Gamila menekan tombol power pada konsol tengah mobil. Kaca jendela pintu pengemudi perlahan-lahan turun, membiarkan udara malam yang dingin bercampur rintik hujan menyeruak masuk ke dalam kabin mobil.
Daffa berdiri tegak di samping jendela, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah dua gadis di dalam mobil dengan sorot penuh intimidasi yang sangat dingin. Tidak ada senyuman ramah atau sapaan basa-basi seperti layaknya rekan kerja di kantor. Suasana di sekitar mobil mendadak terasa begitu mencekam.
"Selamat malam, Mbak Zhafira... Mbak Gamila," sapa Daffa dengan nada suara datar, tenang, namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Cuaca malam ini cukup dingin untuk berjalan-jalan santai di sekitar perkampungan pekerja, bukan?"
Zhafira berusaha menegakkan punggungnya, memasang ekspresi wajah defensif meskipun hatinya dilanda rasa takut yang luar biasa. "Maksudmu apa, Daffa? Kami tidak sedang berjalan-jalan. Kami hanya... em... sedang mencari jalan pulang ke arah apartemen setelah lembur dari kantor."
°˖✧✿✧˖°
Daffa tersenyum tipis—sebuah senyuman sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah jendela mobil yang terbuka, memperjelas garis ketegasan di wajah pemuda mantan asisten taktis tersebut.