Pagi hari di kantor lapangan proyek pembangunan perumahan elit Surabaya tidak lagi terasa hangat seperti hari-hari sebelumnya. Udara pagi yang biasanya menyapa dengan kesejukan dan semangat baru kini mendadak terasa hampa, dipenuhi oleh atmosfer dingin yang menyelimuti setiap sudut ruangan divisi logistik hingga ruang kerja direktur operasional. Mentari baru saja merayap naik, memancarkan sinarnya yang terhalang oleh awan tipis di atas langit kota, menciptakan bayangan kelabu yang mencerminkan ketegangan batin di antara para penghuninya.
Kirana duduk di balik meja kerjanya dengan setelan blazer abu-abu formal dan kerudung berwarna senada. Wajahnya tampak kaku, menatap lurus ke arah tumpukan dokumen laporan keuangan bulanan yang berserakan di atas meja, namun pikirannya melayang jauh pada rentetan kejadian malam-malam sebelumnya. Peringatan keras dari Zhafira, foto temuan Gamila di warung pecel lele, serta konfrontasi misterius yang dilakukan Daffa di dalam mobil membuat benteng pertahanan Kirana mulai goyah. Ia merasa terjebak di antara rasa rindu yang tulus dan keraguan yang amat sangat tajam.
Di koridor luar ruangan, langkah kaki tegap namun hati-hati terdengar mendekat. Arga—yang masih mengenakan seragam lapangan berupa kemeja lusuh dan rompi pengawas logistik—berjalan membawa map biru berisi laporan mingguan besi beton yang baru saja selesai ia susun bersama Gazhi dan Daffa. Pemuda itu sama sekali tidak mengetahui badai kecurigaan apa yang telah menghantam pikiran Kirana sepanjang malam tadi. Yang ia tahu hanyalah rutinitas pagi: mengantarkan laporan tepat waktu dan, seperti biasa, mencuri pandang ke arah wanita yang telah mengisi hari-hari melelahkannya di proyek ini.
Arga mengetuk pintu kayu ruangan Kirana sebanyak tiga kali dengan ketukan pelan yang khas. "Permisi, Bu Kirana. Saya masuk untuk menyerahkan laporan mingguan material besi," ucap Arga dengan nada suara lembut dan penuh hormat yang selalu ia tunjukkan setiap kali berada di dekat Kirana.
Tidak ada jawaban langsung dari balik meja kerja. Sejenak suasana terasa hening sebelum sebuah suara dingin dan kaku memecah keheningan ruangan tersebut. "Silakan masuk, letakkan saja di atas meja."
Arga mendorong pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC dingin itu. Namun, begitu ia mengangkat wajahnya untuk memberikan senyuman sapaan pagi seperti hari-hari kemarin, Arga langsung merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang menyala.
Kirana tidak mengangkat kepalanya sama sekali ketika Arga melangkah mendekati meja kerjanya. Pandangan wanita itu tetap tertunduk lekat pada lembaran-lembaran kertas di hadapannya, seolah-olah keberadaan pria di hadapannya adalah hal paling tidak penting yang harus ia perhatikan hari ini.
Arga menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di depan meja kerja Kirana. Ia meletakkan map biru berisi laporan logistik itu dengan hati-hati di atas permukaan meja kayu berpelitur mengkilap tersebut. Biasanya, pada saat-saat seperti ini, Kirana akan menyambutnya dengan senyuman manis, menutup pulpennya perlahan, lalu mengajak Arga berdiskusi ringan sambil menanyakan kabar jalannya pengiriman material di gudang utama.
"Laporan mingguan material besi beton untuk proyek tahap kedua sudah lengkap, Bu. Semua data kuantitas dan nomor seri surat jalan sudah diverifikasi sesuai standar operasional yang berlaku," jelas Arga dengan nada suara yang sedikit tertahan, mencoba memancing reaksi dari wanita yang dicintainya itu.
Namun, Kirana tetap bergeming. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya secara kaku untuk mengambil map biru tersebut, membuka halaman depannya sekilas tanpa sekalipun menatap ke arah wajah Arga. Sikap dingin yang ditunjukkan oleh Kirana begitu kentara, jauh berbeda dari kelembutan dan binar mata teduh yang biasa ia pancarkan selama beberapa pekan terakhir.
"Baiklah, laporan ini saya terima," ucap Kirana dengan suara datar tanpa ekspresi, terdengar sangat formal dan berjarak. "Terima kasih atas kinerjamu selama sepekan ini di lapangan, Rian."
Arga terpaku di tempatnya. Hatinya mendadak terasa seperti dihantam palu godam yang sangat berat. Perubahan drastis itu begitu nyata hingga membuat napas Arga tertahan di tenggorokan. Selama ini, bagi Arga, kehadiran Kirana di tengah kerasnya lingkungan proyek konstruksi adalah satu-satunya oase penawar letih yang mampu menenangkan jiwanya yang lelah memikirkan tanggung jawab besar perusahaan. Dan kini, oase yang biasa ia tuju mendadak memasang tembok es yang sangat tinggi.
"Ada... ada yang salah dengan laporan itu, Bu Kirana?" tanya Arga memberanikan diri untuk bersuara, menatap lurus ke arah puncak kepala Kirana yang tertutup kerudung rapi. "Atau ada hal lain di lapangan yang membuat Ibu merasa terganggu dengan kehadiran saya?"
Mendengar pertanyaan langsung tersebut, tangan Kirana yang sedang memegang pulpen mendadak berhenti bergerak. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha keras mempertahankan topeng ketegangannya. Kirana perlahan mengangkat wajahnya, menatap sekilas ke arah Arga dengan tatapan mata yang dingin, kosong, dan dipenuhi oleh keraguan yang menyiksa.
"Tidak ada yang salah dengan laporanmu, Rian," jawab Kirana akhirnya, memaksakan suaranya agar terdengar setegas mungkin meskipun ada getaran halus yang terselip di dalamnya. "Laporanmu selalu akurat dan tidak pernah ada cacat administrasi. Hanya saja... mulai hari ini, kita perlu menjaga batasan profesionalitas kerja secara lebih ketat."
Kata-kata "menjaga batasan profesionalitas" itu meluncur begitu saja dari bibir Kirana, menghujam langsung ke lubuk hati Arga paling dalam. Pria itu menatap tajam ke dalam sepasang mata Kirana, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang biasanya terpancar di sana, namun yang ia temukan hanyalah dinding keraguan dan jarak yang sengaja diciptakan oleh wanita tersebut.
"Batasan profesionalitas?" ulang Arga pelan, suaranya terdengar begitu berat menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Apakah selama ini kedekatan kita melanggar batas profesionalitas kantor, Bu Kirana?"