Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Gazhi Membuka Suara

Suasana di kompleks perkantoran proyek pembangunan perumahan elit Surabaya pada sore hari itu terasa sedikit lebih lengang setelah jam kerja lapangan resmi berakhir. Para pekerja konstruksi mulai membereskan peralatan mereka, sementara para staf administrasi sibuk merapikan meja kerja masing-masing sebelum meninggalkan gedung. Di ruang administrasi, Zhafira baru saja menutup laptopnya dan merapikan tumpukan berkas audit laporan mingguan ke dalam tas selempangnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian-kejadian menegangkan belakangan ini—mulai dari konfrontasi malam hari di warung pecel lele, peringatan dingin dari Daffa, hingga perubahan sikap drastis Bu Kirana yang tampak begitu terpukul pagi tadi.

"Zhafira, kamu jadi pulang duluan atau mau menemaniku mengecek ulang data logistik gudang lantai bawah?" tanya Gamila sambil merapikan jilbabnya di depan cermin kecil dinding ruangan.

Zhafira menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. "Duluan saja, Mila. Aku masih harus membereskan beberapa catatan nota pengiriman yang tertinggal di meja arsip dekat lobi utama. Nanti aku menyusul naik taksi online."

"Baiklah, jangan terlalu malam pulangnya ya. Wajahmu kelihatan sangat lelah akibat kurang tidur semalaman," pesan Gamila sebelum akhirnya melambaikan tangan dan berjalan keluar meninggalkan ruangan administrasi seorang diri.

Zhafira menghela napas panjang. Ia bangkit dari kursi kerjanya, mengambil map arsip tambahan, dan berjalan melangkah keluar menyusuri koridor lantai satu yang mulai sepi menuju area lobi utama yang mengarah langsung ke pelataran parkir. Langkah kakinya terdengar bergemerincing pelan di atas lantai marmer koridor yang bersih. Namun, begitu ia mendekati pintu kaca keluar lobi, sesosok tubuh pria tiba-tiba muncul dari balik pilar beton penyangga gedung, berdiri tegak menghalangi jalur jalannya.

Zhafira terperanjat kaget, melangkah mundur satu langkah sambil memeluk map arsipnya erat-erat ke dada. "Astaga! Siapa... oh, Gazhi?" ucap Zhafira terkejut saat melihat pemuda staf logistik berwajah jenaka itu kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak menunjukkan senyuman bercanda seperti biasanya.

Gazhi menatap Zhafira dengan tatapan serius, kedua tangannya disilangkan di depan dada bidangnya. "Selamat sore, Mbak Zhafira. Senang bisa bertemu di sini sebelum Mbak pulang."

Zhafira mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa ada hawa ketegangan yang kembali merayap di sekitarnya setelah insiden malam sebelumnya dengan Daffa. "Mau apa kamu, Gazhi? Jangan bilang kalau kamu mau menginterogasi aku lagi seperti yang dilakukan Daffa malam itu?"

"Bukan interogasi, Mbak," jawab Gazhi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, memancarkan kesan melankolis yang sangat kontras dengan perangainya sehari-hari. "Saya hanya minta waktu dua menit saja dari waktu berharga Mbak Zhafira. Tolong... dengarkan saya sebentar."

Zhafira menatap curiga ke arah Gazhi, namun ada sesuatu dalam sorot mata pemuda itu yang membuatnya urung berbalik lari. Mengingat bagaimana Daffa sebelumnya berhasil membuat nyalinya menciut, Zhafira memutuskan untuk mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh asisten logistik tersebut.

"Dua menit, Gazhi. Tidak lebih dari itu," ujar Zhafira tegas, mencoba mempertahankan wibawa di hadapan staf lapangan. "Katakan apa maksudmu mencegatku di sini."

Gazhi menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepalanya sejenak seolah-olah ia sedang menanggung beban berat yang sangat menyiksa batinnya. Gestur tubuh itu langsung menarik perhatian Zhafira, membuat rasa penasaran gadis itu semakin membuncah.

"Mbak Zhafira, saya tahu Mbak dan Mbak Gamila selama ini mencurigai gerak-gerik kami di proyek ini," buka Gazhi dengan suara parau yang terdengar begitu tulus. "Kami tahu Mbak berdua memotret kami, menyelidiki latar belakang kami, bahkan melaporkan kecurigaan itu kepada Bu Kirana secara tidak langsung."

Zhafira menelan ludahnya dengan susah payah, merasa rahasia pengintaian mereka ternyata sudah diketahui sepenuhnya. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu tidak melaporkan kami langsung ke bagian keamanan atau HRD?"

Gazhi tersenyum pahit, mengangkat wajahnya menatap lurus ke dalam mata Zhafira. "Karena kami tidak ingin memperpanjang masalah, Mbak. Kami hanya ingin mencari makan dengan tenang di tempat ini. Terutama... sahabat saya, Rian."

Mendengar nama Rian disebut, ekspresi wajah Zhafira langsung berubah menjadi sinis. "Rian? Pria misterius itu yang sedang kalian lindungi mati-matian? Jangan mengalihkan pembicaraan, Gazhi. Kami punya bukti kuat bahwa dia bukan sekadar buruh logistik biasa!"

"Memang benar," potong Gazhi cepat dengan nada suara bergetar pelan, seolah rahasia besar yang ia simpan hampir meledak keluar dari dadanya. "Rian bukan buruh logistik biasa... tapi alasannya menyamar bukan karena dia ingin berbuat jahat kepada perusahaan ini, Mbak!"

Zhafira mengerutkan keningnya, menatap tajam penuh selidik ke arah Gazhi. "Lalu apa alasannya kalau bukan untuk niat buruk? Kenapa dia harus menggunakan identitas palsu dan bekerja di lapangan kotor seperti ini?"

Gazhi menghela napas berat, memulai drama penuturan cerita palsu tingkat tinggi yang sudah dirancang matang bersama Daffa dan Arga untuk meredam kecurigaan staf administrasi.

Lihat selengkapnya