
Sore hari di kawasan proyek pembangunan perumahan elit Surabaya berubah drastis dalam hitungan menit. Langit biru cerah yang sempat membakar kota industri itu sejak pagi kini perlahan-lahan tertutup oleh gumpalan awan mendung berwarna kelabu pekat. Angin kencang bertiup membawa aroma tanah basah, menjadi pertanda pasti bahwa badai hujan deras akan segera tumpah membasahi bumi. Di dalam gedung kantor lapangan, setelah kehebohan singkat di ruang rapat utama reda, ketegangan batin justru semakin menghimpit dada dua orang insan yang selama ini terjebak dalam pusaran rahasia dan kesalahpahaman.
Kirana melangkah keluar dari pintu samping gedung administrasi dengan langkah gontai. Kepalanya terasa begitu pening, dan hatinya berkecamuk hebat setelah rentetan peristiwa hari ini. Mulai dari sikap dingin yang ia tunjukkan kepada Arga di pagi hari karena termakan bisikan Zhafira, pengakuan setengah benar dari Gazhi di lobi, hingga kemunculan sosok Arga dalam balutan jas formal yang mematahkan seluruh asumsi dasarnya sebagai staf logistik kusam. Wanita berkerudung abu-abu itu merasa dunianya seolah jungkir balik. Ia ingin segera masuk ke dalam mobil sedan pribadinya, melaju pulang ke rumah, dan menenggelamkan diri dalam keheningan kamar tidur untuk meredam kekalutan pikirannya.
"Bu Kirana... mohon tunggu sebentar," sebuah suara bariton yang sangat ia kenal menghentikan langkah kakinya sebelum tangan wanita itu sempat menyentuh gagang pintu mobil.
Kirana terperanjat pelan. Ia menghentikan gerakannya, lalu menolehkan kepala perlahan ke arah sumber suara. Di bawah naungan kanopi gerbang samping kantor, Arga berdiri menantang cuaca mendung. Pria itu tidak lagi mengenakan rompi lapangan kusam ataupun jas formal perusahaan; ia berdiri dengan kemeja flanel lengan panjang yang bagian lengan digulung sebatas siku, menampilkan kesan sederhana namun penuh wibawa yang selama ini berhasil menyembunyikan identitas aslinya.
"Rian... atau Arga," ucap Kirana dengan suara bergetar tertahan, mencoba menjaga jarak aman sesuai dengan aturan profesionalitas yang ia kumandangkan sendiri pagi tadi. "Untuk apa kamu mengejarku ke mari? Bukankah urusan laporan logistik dan rapat pleno sudah selesai untuk hari ini?"
Arga melangkah mendekat perlahan, namun ia tahu diri untuk tidak melewati batas jarak yang membuat Kirana merasa tidak nyaman. Pria itu berhenti berjarak sekitar dua meter dari hadapan Kirana, kedua tangannya disilangkan di depan dada, sementara butiran-butiran gerimis halus mulai turun merata dari langit kelabu Surabaya.
"Saya tahu Mbak Kirana sedang marah, kecewa, dan merasa dibohongi," kata Arga dengan nada suara yang sangat lembut, menghanyutkan, dan sarat akan ketulusan yang mendalam. "Tapi izinkan saya menggunakan sisa waktu sore ini untuk berbicara jujur kepada Mbak, sebelum gerimis ini berubah menjadi badai."
Kirana menelan ludahnya dengan susah payah, mencengkeram erat tali tas selempang di bahunya. "Bicara apa lagi, Rian? Semua kebohongan itu sudah cukup membuat kepalaku hampir pecah hari ini. Kenapa kamu harus menyamar? Kenapa kamu harus merahasiakan siapa dirimu sebenarnya di hadapanku?"
Hawa dingin sisa pendingin ruangan berpadu dengan udara lembap luar ruangan menciptakan atmosfer yang begitu dramatis di area parkir samping kantor. Titik-titik air hujan mulai jatuh lebih deras, membasahi bahu kemeja Arga dan kerudung abu-abu Kirana, namun sama sekali tidak ada di antara mereka berdua yang berniat beranjak pergi mencari tempat berteduh yang lebih kering.
"Saya tidak pernah berniat untuk membohongi Mbak Kirana secara sengaja sejak awal," ucap Arga lirih, menatap lurus ke dalam sepasang mata Kirana yang tampak basah oleh genangan air mata yang tertahan. "Ada alasan besar mengapa saya harus turun langsung ke lapangan, mengenakan rompi kusam itu, dan merasakan sendiri setiap tetes keringat para pekerja di sini. Saya ingin melihat perusahaan ini dari sudut pandang yang paling jujur, bukan dari balik meja direksi yang penuh sanjungan palsu."
Kirana menggelengkan kepalanya pelan, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi, bercampur dengan titik-titik air gerimis sore itu. "Alasan itu tidak mengubah fakta bahwa kamu telah membiarkan aku terombang-ambing dalam kebingungan, Rian! Sahabatku, Zhafira, bahkan menemukan bukti-bukti yang membuatku takut kalau kamu adalah ancaman bagi perusahaan ayahku."
"Saya mengerti kekhawatiran Mbak," balas Arga dengan suara berat penuh penyesalan, melangkah maju setengah langkah seolah ingin mendekap namun segera ia urungkan demi menjaga etika. "Zhafira dan Gamila hanya menjalankan tugas mereka sebagai sahabat yang ingin melindungi Mbak. Tapi tolong... lihat saya, Kirana."
Penyebutan nama tanpa panggilan formal "Bu" itu meluncur begitu saja dari bibir Arga, membuat jantung Kirana berdegup kencang seketika. Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh permohonan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia bisnis ini.
"Mbak Kirana... jika ada hal dari diri saya yang membuat Mbak ragu, demi Allah saya tidak pernah berniat buruk pada Mbak atau keluarga Mbak," lanjut Arga dengan suara rendah namun tegas yang mencengkeram jiwa wanita di hadapannya. "Apapun yang Mbak dengar dari orang lain, atau kecurigaan apapun yang tertanam di kepala Mbak akibat masa lalu dan penyamaran ini... tolong percayai ketulusan tulisan-tulisan dan puisi yang pernah saya berikan kepada Mbak."
Mendengar kata-kata tentang puisi tersebut, pertahanan emosional Kirana seketika runtuh total. Ia teringat kembali pada amplop-amplop putih berisi bait-bait sastra indah yang selalu menyelip di antara laporan logistik—puisi tentang oase penawar letih, tentang tempat berhibur dalam kesedihan, dan tentang ketulusan cinta yang tidak pernah menuntut balasan materi. Bait-bait itu ditulis dengan tinta kejujuran tangan Arga sendiri.
"Puisi-puisi itu..." bisik Kirana terbata-bata, suaranya hampir tenggelam di antara deru suara rintik gerimis yang semakin rapat menimpa atap seng kanopi. "Bagaimana aku bisa mempercayai ketulusan tulisanmu kalau orang yang menulisnya saja menyembunyikan identitas aslinya di balik topeng kepalsuan?"
Arga menghela napas panjang, membiarkan butiran air hujan menyapu wajahnya yang tampak basah. Pria itu tahu betul bahwa kepercayaan tidak bisa dikembalikan hanya dalam waktu lima menit dengan sekadar kata-kata manis. Butuh bukti nyata dari ketulusan hati yang paling dalam.
"Karena topeng itu saya tanggalkan di hadapan Mbak sekarang," jawab Arga tenang namun penuh penekanan. "Saya berdiri di sini bukan sebagai pewaris korporasi besar, bukan pula sebagai pengawas logistik yang mencari keuntungan proyek. Saya berdiri di hadapan Mbak sebagai seorang pria yang telah menyerahkan hatinya sejak pertama kali melihat senyuman Mbak di ruang kerja ini."