Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #77

Langkah Senyap di Depan Pintu

Udara pagi di area megaproyek Grand Syariah Residence terasa begitu pengap setelah insiden kedatangan rombongan mobil mewah berplat nomor Jakarta yang membawa perwakilan keluarga Hartono ke lobi utama. Di dalam ruang kerja direktur operasional, keheningan yang mencekam menggantung pekat di antara tumpukan dokumen audit keuangan yang berantakan di atas meja jati. Kirana duduk terpaku di kursi utamanya dengan tatapan kosong menerawang ke luar jendela kaca, sementara air mata yang sempat menetes kini telah mengering, meninggalkan jejak kepedihan yang teramat dalam di pipinya. Ancaman pengambilalihan kendali proyek dan desakan percepatan acara pertunangan paksa minggu depan benar-benar telah memojokkannya ke dalam sudut paling sempit di dunia korporasi.

Di luar ruangan, tepat di koridor sisi timur yang menghubungkan kantor administrasi dengan gudang logistik lapangan, Arga berdiri bersandar pada pilar beton dengan tatapan mata yang menyala tajam penuh perhitungan. Di sampingnya, Daffa dan Gazhi berdiri siaga mengamati situasi sekitar untuk memastikan tidak ada pengawal keluarga Hartono yang mondar-mandir di dekat area mereka. Meskipun rencana besar untuk membongkar kebusukan finansial keluarga Hartono sudah berada di tangan mereka, Arga tahu betul bahwa kondisi mental Kirana saat ini sedang berada di titik nadir keterpurukan psikologis. Wanita yang dicintainya itu membutuhkan lebih dari sekadar data angka-angka di atas kertas; ia membutuhkan kepastian moril bahwa dirinya tidak berjuang sendirian melawan badai yang menerjang.

"Bos, laporan dari tim pengawas kita di lobi utama menyebutkan bahwa utusan keluarga Hartono sudah meninggalkan ruangan Bu Kirana setelah memberikan tenggat waktu dua puluh empat jam," bisik Daffa pelan sambil merapikan letak kacamatanya, memecah kesunyian di antara mereka bertiga. "Mereka benar-benar memanfaatkan krisis likuiditas ini sebagai senjata pamungkas untuk memaksa penandatanganan surat penyerahan saham."

Gazhi mengepalkan tangan kanannya dengan geram, buku-buku jarinya bergemeretak. "Licik sekali cara bermain mereka. Sengaja menguras dana proyek dari dalam, lalu berpura-pura menjadi pahlawan penyelamat dengan syarat menyerahkan masa depan Bu Kirana melalui perjodohan itu."

Arga menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras pertanda amarah yang tertahan di balik ketenangannya. "Kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu jadwal audit akhir pekan, Daffa. Tekanan mental yang diberikan kepada Kirana sudah melampaui batas wajar. Kalau kita terlambat bergerak sehari saja, kehancuran psikologisnya akan dimanfaatkan sepenuhnya oleh mereka."

"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bos?" tanya Gazhi meminta instruksi tegas.

Arga menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah pintu ruang kerja Kirana yang tertutup rapat dari kejauhan. Sebuah rencana senyap mulai terbentuk di dalam kepalanya, sebuah langkah perlindungan moral secara tidak langsung yang harus ia sampaikan sebelum topeng penyamaran Rian ini benar-benar dilepas secara permanen di hadapan publik proyek.

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki Arga melambat ketika ia menyusuri koridor utama menuju bagian pantry kecil di samping ruang administrasi, tempat di mana para staf biasanya menyeduh kopi atau teh di tengah jam istirahat. Suasana di sekitar pantry tampak sepi karena sebagian besar staf administrasi masih diliputi ketakutan dan memilih diam di meja kerja masing-masing setelah insiden ketegangan pagi tadi.

Arga membuka lemari kecil penyimpanan bahan makanan, mengambil sebuah cangkir keramik bersih, lalu menyeduh teh kamomil hangat—jenis minuman penenang alami yang beberapa hari lalu pernah diceritakan oleh Gamila sebagai kesukaan Kirana saat sedang menghadapi stres berat di kantor. Di atas piring kecil pendamping cangkir tersebut, Arga merobek secarik kertas polio putih kecil, mengambil pulpen hitam di sakunya, dan menuliskan beberapa baris kalimat penenang dengan goresan tangan yang sangat rapi dan khas.

Setelah selesai menulis, ia menata cangkir teh hangat dan piring kecil berisi catatan tersebut di atas nampan kayu kecil. Arga melangkah keluar dari pantry, berjalan pelan mendekati pintu ruang kerja Kirana yang dijaga oleh Gamila di bagian luar.

Gamila, yang sedang duduk di kursi tunggu dengan ekspresi wajah cemas, langsung mendongakkan kepalanya begitu melihat sosok buruh logistik bernama Rian berdiri di hadapannya dengan membawa nampan teh hangat.

"Rian? Mau apa kamu datang ke area khusus direksi ini?" tanya Gamila dengan suara tertahan, meskipun ia tahu persis kedekatan emosional yang terjalin antara sahabatnya dan pemuda di hadapannya itu.

Arga menatap Gamila dengan sorot mata yang menyiratkan wibawa dan ketenangan mutlak, membuat sang staf ahli keuangan pusat itu tertegun sesaat. "Tolong antarkan teh hangat ini ke meja Bu Kirana, Mbak Gamila. Dan pastikan beliau meminumnya selagi hangat. Hari ini beban pikirannya terlalu berat untuk ditanggung seorang diri tanpa asupan nutrisi yang cukup."

Gamila menatap nampan berisi teh kamomil dan lipatan kertas kecil di atasnya, lalu beralih menatap tajam ke dalam bola mata Arga. Ada ketulusan yang luar biasa kuat di sana, sebuah perhatian tulus yang tidak mungkin bisa diberikan oleh sembarang buruh lapangan. Gamila mengangguk perlahan, mengambil nampan tersebut dari tangan Arga. "Baiklah, Rian. Akan saya antarkan sekarang."

°˖✧✿✧˖°

Gamila membuka pintu ruang kerja direktur dengan pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang karena tirai jendela kaca sengaja diturunkan setengahnya untuk meredam silau cahaya matahari siang. Kirana masih duduk termenung di balik meja kerjanya, menatap kosong ke arah lembar surat desakan pertunangan yang tergeletak di atas meja.

"Kirana... minumlah teh hangat ini sebentar. Kamu belum makan apapun sejak pagi tadi," ucap Gamila lembut sambil meletakkan nampan kayu di atas sudut meja kerja sahabatnya.

Kirana menoleh perlahan, menatap cangkir teh yang mengeluarkan uap tipis beraroma menenangkan. Pandangannya kemudian beralih ke sebuah lipatan kertas kecil putih yang diletakkan tepat di sebelah cangkir tersebut. "Dari siapa teh ini, Gamila? Bukankah aku sudah bilang tidak ingin diganggu oleh siapapun hari ini?"

"Ini dari Rian," jawab Gamila singkat namun sarat makna, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Dia menyuruhku memastikan kamu meminumnya supaya kondisi fisikmu tidak ikut drop di tengah kekacauan ini."

Lihat selengkapnya