Malam mulai merayap turun menyelimuti kota Surabaya, membawa serta keheningan malam yang kontras dengan gejolak ketegangan yang masih membara di dalam kawasan megaproyek Grand Syariah Residence. Di sebuah rumah kontrakan sederhana yang terletak tidak jauh dari area konstruksi, lampu ruang tengah menyala terang, memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi meja kayu penuh dengan tumpukan dokumen cetak, catatan tangan, serta dua unit laptop menyala yang menampilkan barisan kode serta grafik keuangan rumit.
Arga duduk bersila di atas lantai berkarpet tipis, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan mata setajam elang yang tidak pernah lepas dari layar monitor utama. Hari ini, penderitaan dan tekanan mental yang harus ditanggung oleh Kirana akibat intrik busuk keluarga Hartono telah memicu batas kesabarannya. Ia tidak akan pernah tinggal diam dan membiarkan wanita yang dicintainya terus-terusan disudutkan oleh fitnah keji penggelapan dana yang tidak pernah dilakukannya.
Di hadapan Arga, Daffa tampak bekerja dengan kecepatan luar biasa, jari-jemarinya menari lincah di atas papan ketik laptop untuk menembus lapisan pengamanan digital dari sistem pencatatan keuangan pusat Zhafran Group. Sementara itu, Gazhi berdiri di dekat jendela yang sedikit terbuka, mengawasi situasi di luar kontrakan untuk memastikan keamanan markas operasional rahasia mereka malam ini.
"Bagaimana progres penelusuran jalur digital manifes pengiriman barang dari vendor utama hari ini, Daffa?" suara Arga terdengar berat, memecah kesunyian malam di dalam ruangan tersebut.
Daffa mendongakkan kepalanya sejenak, melepas kacamatanya dan mengusap pelipisnya yang berkeringat akibat konsentrasi penuh selama berjam-jam. "Sistem pengamanan internal mereka memang cukup ketat, Bos. Tapi dengan menggunakan algoritma dekripsi khusus yang kita miliki, saya berhasil membobol server cadangan bagian logistik pusat yang terhubung langsung dengan rekening penampung rahasia."
Arga mendekatkan duduknya ke arah meja, meneliti setiap grafik aliran dana yang baru saja ditampilkan di layar monitor. "Fokuskan analisis pada transaksi ganda antara tiga bulan terakhir. Cari selisih nominal yang sesuai dengan laporan audit independen yang diterima Kirana pagi tadi."
°˖✧✿✧˖°
Ketukan pintu kontrakan yang terdengar tiga kali secara berirama tiba-tiba memecah konsentrasi mereka di dalam ruangan. Gazhi langsung bergerak cepat mengintip dari balik tirai jendela, lalu membuka kunci pintu utama perlahan-lahan. Ternyata itu adalah salah satu agen lapangan kepercayaan mereka yang baru saja kembali dari misi pengintaian di sekitar gudang logistik proyek utama.
"Ada perkembangan penting apa yang kamu temukan di lapangan?" tanya Gazhi segera begitu agen tersebut melangkah masuk ke dalam rumah.
Agen muda itu mengeluarkan sebuah kilatan kecil berupa flashdisk hitam dari saku jaketnya, lalu menyerahkannya kepada Arga. "Saya berhasil mendapatkan salinan fisik nota pengiriman asli dan tanda tangan basah dari pos pengamanan gudang barat, Bos. Nota-nota ini mencatat pengiriman material beton dan besi baja yang tanggal serta volumenya sengaja direkayasa ulang oleh oknum dalam."
Arga menerima flashdisk tersebut, lalu memasukkannya ke port USB laptop utamanya. Dalam hitungan detik, Daffa langsung mengambil alih kendali untuk melakukan korelasi data antara dokumen fisik nota tsb dengan catatan transaksi digital yang baru saja ia retas dari server pusat.
"Mari kita buktikan siapa sebenarnya dalang di balik layar yang tega mengorbankan Bu Kirana," geram Daffa sambil mengetik beberapa perintah cepat di layar laptopnya.
Ruangan mendadak terasa semakin senyap. Ketiga pria itu menatap tajam ke arah layar monitor yang menampilkan proses pencocokan data makro secara otomatis. Barisan angka, nomor seri faktur, cap stempel perusahaan vendor, hingga catatan waktu pencairan dana dari bank mitra mulai tersusun rapi membentuk sebuah pola kejahatan korporasi yang sangat sistematis dan terencana.
°˖✧✿✧˖°
Analisis tingkat tinggi yang digabungkan antara kemampuan makro-ekonomi Arga dan keahlian teknologi informasi tingkat lanjut dari Daffa perlahan-lahan mulai membuahkan hasil yang sangat mengejutkan. Grafik hubungan antara rekening-rekening anonim dan oknum internal perusahaan terpampang sangat jelas di hadapan mereka.
"Ketemu!" seru Daffa dengan nada suara tertahan namun penuh kemenangan, menunjuk titik merah yang menyala di tengah layar monitor. "Lihat ini, Bos. Aliran dana puluhan miliar rupiah yang hilang dari laporan audit proyek ternyata tidak mengalir ke rekening Bu Kirana, melainkan dipecah secara sistematis ke dalam beberapa rekening pribadi."