
Suasana sore hari di kawasan Grand Syariah Residence perlahan-lahan mulai mendingin setelah teriknya matahari Surabaya menyengat sepanjang siang. Adzan Ashar yang berkumandang merdu dari pengeras suara musala proyek baru saja selesai, membawa ketenangan spiritual yang amat dibutuhkan bagi siapa saja yang mendengarkannya di tengah hiruk-pikuk badai krisis korporasi. Para pekerja harian dan staf administrasi berangsur-angsur meninggalkan teras musala setelah menunaikan kewajiban sujud mereka kepada Sang Pencipta.
Di dalam ruangan musala yang bersih dan sederhana, Kirana melangkah keluar perlahan sambil merapikan letak kerudung abu-abunya. Wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya, memancarkan ketenangan batin yang luar biasa setelah ia menghabiskan waktu berdoa dengan khusyuk memohon jalan keluar atas segala fitnah keji yang menerpa hidupnya. Secarik surat dari Rian yang tersimpan aman di saku kemejanya terus menjadi jangkar kekuatan spiritual yang menopang keteguhan hatinya menghadapi hari penentuan esok pagi.
Sementara itu, di koridor terbuka di sisi luar musala yang dinaungi oleh rimbunnya pohon ketapang kencana, Arga berdiri tegap mengenakan kemeja koko putih bersih berpadu celana bahan gelap, menunggu kemunculan wanita yang paling dicintainya itu. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah map cokelat besar tebal yang berisi seluruh hasil investigasi forensik digital dan manifes fiktif yang disusun bersama Daffa semalam.
Meskipun hatinya bergemuruh hebat merindukan kehadiran Kirana, Arga tetap menjaga batasan moral dan muruah secara ketat. Ia tidak berniat sedikit pun memanfaatkan situasi pelik ini untuk menyentuh atau mendekati Kirana secara tidak pantas. Baginya, kehormatan dan martabat wanita di hadapannya adalah hal utama yang harus dijaga sebelum identitas aslinya sebagai pewaris Fardhan Group resmi dibuka ke hadapan publik proyek.
°˖✧✿✧˖°
Langkah kaki ringan Kirana terdengar mendekati ambang pintu keluar musala. Begitu ia melangkahkan kaki keluar menuju koridor terbuka, pandangannya langsung menangkap sosok seorang pria berbadan tegap dengan kemeja putih yang berdiri tenang menghadap ke arah taman samping. Meskipun pria itu tidak lagi mengenakan rompi buruh logistik kusam yang biasa ia pakai, postur tubuh dan karisma wibawa yang terpancar dari arah belakang membuat Kirana langsung mengenali sosok itu seketika.
"Mas Rian...?" bisik Kirana tertahan di dalam hatinya, langkah kakinya terhenti sesaat di atas lantai keramik koridor.
Arga perlahan membalikkan badannya, menatap ke arah Kirana dengan sorot mata yang begitu teduh, penuh hormat, namun memancarkan ketegasan mutlak seorang pemimpin. Ia tidak mendekati Kirana secara berlebihan; ia berdiri berjarak sekitar dua meter, menjaga jarak aman yang penuh dengan etika dan rasa hormat yang tinggi terhadap muruah sang direktur operasional.
"Selamat sore, Mbak Kirana," sapa Arga dengan suara baritonnya yang tenang, meredupkan segala kebisingan angin sore yang berhembus di antara pepohonan proyek.
Kirana menarik napas pelan, menguasai debar jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang tidak beraturan. Ia melangkah mendekat dengan kepala tegak, namun tatapannya menyiratkan kebingungan sekaligus rasa penasaran yang mendalam. "Sore, Rian. Ada apa kamu menungguku di sini seusai salat?" tanya Kirana dengan nada suara yang berusaha ia jaga agar tetap stabil dan berwibawa.
Arga tidak langsung menjawab dengan kata-kata panjang. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang map cokelat besar berukuran tebal, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu kecil yang berada di antara mereka berdua tanpa sedikit pun menyentuh ujung jemari Kirana.
°˖✧✿✧˖°
Kirana menundukkan pandangannya menatap map cokelat tebal yang tergeletak di atas meja kayu tersebut. Alisnya bertaut rapat, diliputi rasa heran yang amat sangat. Ia mendongakkan kepalanya kembali menatap lurus ke dalam bola mata Arga yang tajam bagaikan elang.