Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Tatapan Haru di Balik Jendela

Suasana sore hari di kawasan Grand Syariah Residence terasa jauh lebih hangat dan menyejukkan setelah badai krisis keuangan yang meluluhlantakkan manajemen perusahaan berhasil diselesaikan pada rapat pleno darurat siang tadi. Langit Surabaya tampak cerah berhiaskan bias warna jingga keemasan di ufuk barat, memantulkan kilau indah pada struktur beton menara utama yang kini kembali melanjutkan pekerjaannya dengan lancar. Di dalam ruang kerjanya, Kirana telah merampungkan seluruh sisa laporan penutupan administrasi tanpa ada lagi rasa tertekan atau beban berat yang menghimpit dada.

Langkah kaki Kirana terasa begitu ringan, seolah beban berton-ton yang selama berminggu-minggu merantai kedua kakinya kini telah sirna sepenuhnya. Dengan balutan kemeja formal berwarna biru muda dan kerudung abu-abu rapi, ia berjalan menyusuri koridor beton keluar dari gedung administrasi utama. Tujuannya satu: mencari sosok pria berrompi buruh logistik yang telah mendedikasikan seluruh kecerdasan dan ketulusannya untuk menyelamatkan harga diri serta masa depan keluarganya. Di dalam saku kemejanya, secarik surat kecil berisi bait puisi dan kalimat islami dari Rian tetap tersimpan hangat, menjadi jimat keberuntungan yang selalu menenangkan jiwanya.

Di sisi lain kompleks proyek, tepat di area gudang logistik blok barat yang dikelilingi tumpukan material baja ringan dan besi beton, Arga—yang masih mengenakan rompi keselamatan kusam khas pekerja lapangan—tengah membantu merapikan sisa-sisa material konstruksi bersama Gazhi dan Daffa. Meskipun penyamarannya sudah berada di ujung tanduk menjelang pengungkapan identitas aslinya sebagai pewaris Fardhan Group, Arga tetap menikmati detik-detik terakhir kebersamaannya di lingkungan lapangan, merasakan keaslian denyut kehidupan para buruh yang telah mengajarinya banyak hal tentang kesabaran dan keteguhan hidup.

°˖✧✿✧˖°

Kirana memperlambat langkah kakinya ketika ia mulai mendekati area pelataran gudang logistik blok barat. Dari kejauhan, ia melihat beberapa pekerja sedang menyusun kembali palet kayu dan batang-batang besi sisa proyek yang berserakan. Pandangan matanya langsung terkunci pada sosok tegap seorang pria berrompi kusam yang sedang mengangkat balok kayu bersama rekan-rekannya. Meskipun pakaiannya sederhana dan berdebu, postur tubuh dan cara pria itu bergerak tetap memancarkan karisma wibawa yang tidak bisa disembunyikan oleh kedok apapun.

Mendengar suara ketukan sepatu pantofel yang mendekat di atas permukaan kerikil halaman gudang, Arga menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menoleh perlahan ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok Kirana berdiri anggun di hadapannya dengan senyuman tulus yang merekah di bibirnya, napas Arga terasa berhenti sesaat. Sorot mata wanita itu tidak lagi menyimpan air mata kesedihan atau keputusasaan seperti kemarin; yang ada hanyalah binar kelegaan, rasa hormat, dan rasa terima kasih yang teramat dalam.

"Mbak Kirana...?" gumam Arga pelan, meletakkan potongan kayu di tangannya ke atas tumpukan palet, lalu melangkah beberapa langkah menyambut kehadiran sang direktur operasional.

Gazhi, yang berdiri tidak jauh dari tempat itu sambil memegang gulungan terpal, seketika menyikut lengan Daffa di sampingnya, memberikan isyarat mata penuh arti melihat kedatangan Kirana di area logistik yang cukup terpencil tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Kirana berhenti tepat di hadapan Arga, menjaga jarak sopan namun membiarkan kehangatan suasana sore itu menyelimuti ruang di antara mereka berdua. Senyuman yang terukir di bibir mungil Kirana tampak begitu indah, memancarkan ketulusan batin yang membuat debar di dada Arga bergemuruh hebat melampaui batas kewajaran. Di mata Arga, senyuman itu jauh lebih manis daripada madu murni, sebuah hadiah terindah setelah sekian lama berjuang melindungi wanita tersebut dari bayang-bayang intrik keji keluarga Hartono.

"Mas Rian..." sapa Kirana dengan suara yang sangat halus, lembut, dan penuh kelembutan yang belum pernah didengar oleh para staf lain di kantor pusat. "Alhamdulillah, rapat pleno darurat tadi berjalan dengan sangat sukses. Seluruh bukti investigasi yang Anda berikan berhasil membungkam utusan keluarga Hartono dan membersihkan namaku sepenuhnya di hadapan Ayah dan dewan direksi."

Arga tersenyum tipis, sorot matanya menyiratkan keteduhan yang menenangkan. "Saya sudah menduga hasilnya akan seperti itu, Mbak Kirana. Kebenaran selalu memiliki jalannya sendiri untuk menang, betapapun rapatnya kebohongan disembunyikan."

Kirana menundukkan pandangannya sejenak, lalu kembali mendongak menatap lurus ke dalam bola mata Arga yang tajam dan jujur. Ada gelombang emosi dan rasa terima kasih yang membuncah di dalam dadanya, mendesak untuk segera diucapkan sebelum penyamaran ini benar-benar usai.

Lihat selengkapnya