Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #83

Zhafira dan Gamila, Berbalik Arah

Suasana di dalam ruang administrasi utama gedung Grand Syariah Residence perlahan-lahan menjadi jauh lebih tenang setelah jam kerja resmi berakhir. Lampu-lampu gantung kristal di langit-langit ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerangi tumpukan dokumen audit keuangan yang kini telah tertata rapi di atas meja kerja Kirana. Hari yang melelahkan sekaligus penuh kemenangan itu akhirnya menemui ujungnya, menyisakan kelegaan batin yang luar biasa setelah kasus penggelapan dana korporasi berhasil dibongkar secara tuntas di hadapan dewan direksi siang tadi.

Di sudut ruangan, Zhafira dan Gamila duduk bersisian di atas sofa beludru abu-abu, menatap lurus ke arah Kirana yang sedang merapikan map dokumen terakhir di mejanya. Di hadapan mereka berdua, sebuah rahasia besar baru saja terkuak—bahwa sosok buruh logistik lapangan bernama Rian yang selama ini mereka anggap remeh dan dicurigai sebagai pekerja biasa, ternyata adalah dalang intelektual di balik seluruh dokumen investigasi forensik digital yang menyelamatkan karier serta nama baik Kirana dari kehancuran total. Suasana di dalam ruangan mendadak hening, dipenuhi oleh rasa takjub dan penyesalan mendalam dari kedua sahabat setia Kirana tersebut.

Zhafira merapikan letak kerudungnya dengan jemari yang sedikit gemetar, masih merasa tidak percaya dengan fakta-fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar dari cerita Gamila. Selama ini, ia adalah orang pertama yang paling sering mencibir kedekatan antara Kirana dan sang staf logistik kusam. Namun kini, setelah melihat sendiri bagaimana bukti-bukti otentik tersebut menjatuhkan kubu keluarga Hartono, pandangan Zhafira terhadap Rian berbalik arah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.

"Jadi... semua data forensik tingkat tinggi itu benar-benar dikerjakan oleh Rian bersama timnya di kontrakan sederhana?" tanya Zhafira dengan suara tertahan, menatap tajam ke arah Kirana untuk mencari kepastian.

Kirana menghentikan gerakannya merapikan berkas, lalu menoleh menatap kedua sahabat karibnya itu dengan senyuman tipis di bibirnya. "Iya, Zhafira. Rian adalah orang yang merancang seluruh strategi analisis makro dan peretasan data digital tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuanku, semata-mata untuk membersihkan namaku dari fitnah keji keluarga Hartono."

°˖✧✿✧˖°

Mendengar konfirmasi langsung dari bibir Kirana, Zhafira dan Gamila terdiam seribu bahasa. Kecurigaan negatif, prasangka buruk, serta cibiran yang sempat mereka lontarkan di masa lalu mendadak berkelebat kembali di dalam ingatan mereka, menimbulkan rasa bersalah yang teramat besar di dalam dada masing-masing. Mereka mengira Rian hanyalah seorang buruh kasar biasa yang mencoba mencari perhatian di lingkungan proyek elit, namun kenyataannya pria itu adalah perisai pelindung paling tangguh yang rela mempertaruhkan segalanya di balik bayang-bayang demi menyelamatkan Kirana.

Zhafira menghela napas panjang, meresapi setiap detik kebodohan masa lalunya. Ia bangkit dari sofa, melangkah mendekati meja kerja Kirana, lalu merengkuh pundak sahabatnya itu dengan erat dan penuh kehangatan. Air mata penyesalan dan haru tampak menggenang di pelupuk mata Zhafira.

"Kirana, aku... aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu," ucap Zhafira dengan suara serak penuh ketulusan, mengeratkan pelukannya pada pundak Kirana. "Aku pernah mencurigai Mas Rian, aku pernah menghina keberadaannya di proyek ini dan menganggapnya tidak selevel dengan kedudukanmu. Ternyata aku salah besar... seratus persen salah."

Kirana membalas pelukan Zhafira dengan lembut, menepuk punggung sahabatnya itu pelan untuk menenangkan perasaannya. "Sudahlah, Zhafira. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti kenapa kalian sempat berpikiran negatif, karena penampilan luarnya memang hanya seorang buruh logistik harian."

°˖✧✿✧˖°

Gamila ikut beranjak dari sofa, melangkah mendekati meja kerja Kirana dan Zhafira dengan ekspresi wajah yang tak kalah serius. Ia menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Kirana, menyalurkan rasa hormat yang kini tumbuh begitu besar di dalam hatinya terhadap sosok pria misterius tersebut.

"Zhafira benar, Kirana," tambah Gamila dengan nada suara yang sangat tegas dan penuh kekaguman. "Pria itu... dia bukan hanya sekadar pintar atau memiliki keahlian analisis di atas rata-rata. Tapi dia benar-benar melindungimu dengan cara yang paling terhormat di saat semua orang di lingkaran direksi pusat justru berkhianat dan menyudutkanmu."

Lihat selengkapnya