Suasana malam di kawasan permukiman sederhana pinggiran kota Surabaya terasa begitu senyap dan menenangkan. Desir angin malam berhembus pelan melewati ventilasi jendela kontrakan kecil yang dihuni oleh Arga bersama kedua orang kepercayaan setianya, Daffa dan Gazhi. Lampu ruangan tampak sudah dimatikan, menyisakan pijar kekuningan dari lampu tidur kecil di sudut kamar yang memantulkan bayangan redup ke dinding-dinding semen kasar. Di atas sajadah tipis berwarna gelap, Arga masih bertahan dalam sujud panjangnya, menengadahkan seluruh rasa syukur, harapan, dan kepasrahan hidupnya kepada Sang Pencipta di sepertiga malam yang sunyi ini.
Selama berbulan-bulan lamanya, pewaris tunggal imperium bisnis raksasa Fardhan Group tersebut menanggalkan seluruh kemewahan duniawi, melepaskan jas mewah bermerk dan mobil sport Eropa, demi mengenakan rompi buruh logistik yang kusam dan berdebu di proyek Grand Syariah Residence. Hari-hari yang dilaluinya tidaklah mudah; tangan kokoh yang terbiasa menandatangani kontrak miliaran rupiah harus memegang sekop berat, mengangkat sak semen, dan mengaduk adonan beton di bawah teriknya matahari Surabaya yang membakar kulit. Namun, di balik setiap butir keringat dan rasa lelah fisik yang mendera, Arga merasakan kebahagiaan batin yang tidak pernah ia temukan di ruang kantor kaca pencakar langit Jakarta.
Sebab, di tempat yang penuh debu dan lumpur inilah ia menemukan takdir terindahnya: Kirana. Wanita berhati lembut yang mengenakan kerudung abu-abu sederhana itu berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan ego di dalam dada Arga, mengubah seorang pewaris dingin yang kaku menjadi seorang pria yang siap mempertaruhkan segalanya demi cinta yang suci dan bermartabat. Arga perlahan mengangkat kepalanya dari sujud, duduk tawarruq di atas sajadah, lalu menyeka sisa air mata haru yang sempat menetes di pipinya setelah ia bermunajat panjang memohon petunjuk jalan terbaik dalam hidupnya.
°˖✧✿✧˖°
Arga meraih sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang tergeletak rapi di samping sajadahnya. Di halaman-halaman buku tersebut, tertera bait-bait puisi penuh makna yang ia tuliskan selama masa-masa penyamarannya di proyek. Dengan jemarinya yang masih menyisakan sedikit bekas kapur semen, ia membuka lembar demi lembar catatan itu hingga matanya terkunci pada bait puisi utuh yang ia persembahkan khusus untuk wanita yang telah mencuri seluruh jiwanya.
"Engkaulah sayang mutiara hidupku..." bisik Arga membaca bait pertama tulisan tangannya dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, memenuhi ruangan malam yang sunyi. "...Engkaulah sayang permatanya hatiku."
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata puitis biasa; itu adalah sumpah batin yang iaikrarkan di hadapan Allah SWT pada sepertiga malam ini. Di dalam hatinya yang paling dalam, Arga telah menetapkan pilihan mutlak. Kirana bukan lagi sekadar objek investigasi atau gadis yang kebetulan ia lindungi dari intrik keluarga Hartono. Kirana adalah tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya, pelabuhan terakhir tempat ia ingin mendaratkan sisa usia dan baktinya sebagai seorang suami kelak.
"Apakah engkau juga merasakan getaran yang sama di sana, Kirana?" gumam Arga lirih sambil menatap kosong ke arah dinding kontrakan yang temaram, membiarkan pikirannya menyeberang melintasi jarak antara mess buruh dan kamar mewah tempat wanita pujaannya beristirahat.
"Tentu saja beliau merasakannya, Tuan," sahut sebuah suara berat bernada rendah dari arah sudut gelap ruangan. Daffa, yang rupanya belum sepenuhnya tertidur di atas kasur lipatnya, terbangun perlahan dan menatap sang atasan dengan sorot mata penuh pengertian. "Wanita berhati lembut seperti Bu Kirana tidak akan pernah buta terhadap ketulusan yang Tuan berikan selama berbulan-bulan ini di bawah terik matahari proyek."
Arga menoleh sekilas ke arah Daffa, lalu tersenyum tipis. "Bukan soal ketulusan fisik, Daf. Ini soal bagaimana kita berani melangkah keluar dari bayang-bayang kepalsuan dunia korporasi."
°˖✧✿✧˖°
Arga menutup kembali buku catatan hitam itu dengan gerakan perlahan, lalu meletakkannya di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menarik napas dalam-dalam untuk menata gelombang emosi dan tekad baja yang kini membara di dalam dadanya. Ia sadar betul bahwa waktu penyamarannya sebagai buruh logistik bernama Rian telah mencapai titik akhir yang sesungguhnya. Tugas utamanya menyelamatkan nama baik Kirana dari kasus penggelapan dana korporasi telah sukses besar dirampungkan siang tadi.
Namun, keberhasilan di Surabaya hanyalah babak pembuka dari pertempuran besar yang sebenarnya. Tantangan yang jauh lebih berat kini telah menanti di hadapannya: Jakarta. Di ibu kota sana, orang tua Arga telah lama merajut rencana perjodohan bisnis masa kecil dengan seorang wanita dari kalangan elit konglomerat yang sama sekali tidak dicintai oleh Arga. Selama ini, ia sengaja melarikan diri ke Surabaya untuk menghindari tekanan pernikahan paksa tersebut. Tapi sekarang, setelah ia menemukan mutiara hatinya yang sesungguhnya di proyek ini, Arga tidak akan pernah sudi tunduk pada perjodohan kaku pilihan keluarganya.
"Bagaimana dengan jadwal penerbangan kita lusa, Daffa?" tanya Arga beralih topik, menatap lurus ke arah pengawalnya yang kini sudah duduk tegak menyandarkan punggung ke dinding.
"Semuanya sudah beres, Tuan," jawab Daffa dengan nada profesional yang tegas. "Tiket kelas bisnis untuk penerbangan pagi dari Bandara Juanda menuju Soekarno-Hatta sudah saya pesan lewat sistem online malam ini. Gazhi juga sudah mengamankan seluruh berkas audit proyek dan salinan bukti kecurangan direksi tandingan yang kita kumpulkan selama tiga bulan terakhir."
"Bagus," balas Arga mantap. "Kita tidak boleh meninggalkan celah sekecil apapun. Begitu kita menginjakkan kaki di kantor pusat Fardhan Group di Jakarta, aku akan langsung meminta dewan komisaris untuk membuka investigasi terbuka atas intervensi keluarga Hartono terhadap lini operasional anak perusahaan kita di daerah."
Gazhi yang sejak tadi berbaring di sisi lain ruangan ikut terbangun, mengusap wajahnya yang lelah lalu berkata, "Langkah yang sangat berani, Tuan Muda. Tapi bagaimana jika Tuan Besar Fardhan murka besar mengetahui Anda menyamar sebagai buruh kasar hanya demi seorang wanita?"
"Biarkan beliau murka," potong Arga cepat dengan sorot mata tajam menyala. "Selama ini aku hidup di bawah kendali ambisi bisnis keluarga. Kali ini, biarkan aku menentukan sendiri ke mana arah hidup dan hatiku berlabuh."
°˖✧✿✧˖°
"Aku harus menyudahi penyamaran ini dengan jantan," gumam Arga pada dirinya sendiri, sorot matanya memancarkan ketegasan mutlak seorang pemimpin korporasi sejati yang tidak bisa ditawar lagi. "Aku tidak boleh terus-menerus bersembunyi di balik nama Rian sang buruh logistik. Kirana berhak mendapatkan pria seutuhnya yang datang secara terhormat melamarnya di hadapan ayahnya, Pak Zhafran."
Keputusan besar itu telah bulat diambil di dalam sujud malamnya. Arga bertekad untuk segera meninggalkan Surabaya dalam waktu dekat, terbang kembali ke markas besar Fardhan Group di Jakarta, dan berdiri tegak di hadapan kedua orang tuanya untuk menolak secara tegas perjodohan bisnis masa kecil tersebut. Ia siap menanggung segala amarah, sanksi pencabutan fasilitas, atau badai penolakan keluarga demi bisa kembali ke Surabaya dengan membawa restu yang sah untuk meminang Kirana secara terhormat.