Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #85

Pamit yang Menggantung Rindu

Suasana pagi hari di kawasan proyek Grand Syariah Residence tampak begitu sibuk dan dinamis. Matahari pagi Surabaya mulai memancarkan sinarnya yang hangat, menerangi hamparan beton bangunan menara yang kini kembali beroperasi normal setelah badai krisis korporasi berhasil dipadamkan sepenuhnya beberapa hari lalu. Para pekerja harian, staf administrasi, hingga para pengawas lapangan tampak lalu-lalang menjalankan tugas rutin mereka masing-masing dengan penuh semangat baru.

Namun, di balik kesibukan aktivitas konstruksi yang berjalan lancar tersebut, terselip sebuah denyut emosi yang jauh berbeda di dalam dada dua orang manusia yang terpisahkan oleh dinding birokrasi korporasi. Di dalam ruang kerjanya yang menghadap langsung ke arah gerbang utama proyek, Kirana berdiri mematung di dekat jendela kaca besar. Perasaan gelisah dan rasa gundah yang aneh tiba-tiba saja merayap memenuhi rongga dadanya sejak pagi buta, seolah memberikan isyarat batin bahwa sesuatu yang sangat penting dan berharga akan segera bergeser dari sisinya.

Sementara itu, di area pos logistik blok barat, Arga—yang masih mengenakan rompi buruh kusam dan topi lapangan kesayangannya—tengah membereskan beberapa lembar dokumen inventaris terakhir bersama Daffa dan Gazhi. Sebuah koper berukuran sedang berwarna gelap telah tersimpan rapi di dalam mobil sewaan yang terparkir tersembunyi di balik barak pekerja. Hari ini adalah hari penentuan; sebelum ia terbang kembali ke Jakarta untuk menghadapi ayah dan dewan komisaris Fardhan Group guna menolak perjodohan paksa, Arga bertekad untuk menemui Kirana sekali lagi secara langsung, menyampaikan pamit perpisahan sementara yang sarat akan makna tersembunyi.

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki Arga terasa begitu berat namun pasti ketika ia berjalan meninggalkan area gudang logistik menuju koridor utama gedung administrasi tempat Kirana bertugas. Setiap ayunan langkahnya di atas kerikil halaman proyek terasa begitu bermakna, membawa kembali ribuan kenangan manis selama ia menyamar sebagai buruh harian demi melindungi wanita yang paling dicintainya di dunia ini.

Di dalam ruangan kantornya, Kirana yang sedang memegang seberkas laporan keuangan tiba-tiba mengangkat kepalanya ketika mendengar ketukan pelan sebanyak tiga kali di daun pintu kayu ruangannya. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, seolah menyambut kehadiran seseorang yang selama ini menjadi jangkar ketenangan jiwanya.

"Masuk," ucap Kirana dengan suara lembut, berusaha menstabilkan napasnya yang mendadak tidak beraturan.

Pintu perlahan terbuka, dan sosok pria berrompi buruh kusam dengan postur tegap dan wibawa yang tidak bisa disembunyikan itu berdiri tenang di ambang pintu. Sorot mata Arga langsung mengunci pandangan Kirana, memancarkan keteduhan luar biasa yang membuat sekujur tubuh Kirana mendadak membeku dalam keheningan sesaat.

"Selamat pagi, Mbak Kirana," sapa Arga dengan suara baritonnya yang tenang, meredupkan segala kebisingan di luar ruangan.

"Pagi juga, Rian," balas Kirana menyambut dengan senyuman kecil yang berusaha ia tahan agar tidak terlihat terlalu sumringah. "Silakan masuk dan duduk di kursi depan meja."

Arga melangkah masuk secara perlahan, namun ia memilih untuk tidak duduk di kursi yang ditawarkan. Ia tetap berdiri tegak dengan jarak sopan, menunjukkan sikap hormat yang selalu ia jaga di hadapan wanita tersebut. "Terima kasih, Mbak. Saya tidak akan duduk lama, hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting."

°˖✧✿✧˖°

Kirana meletakkan berkas di tangannya ke atas meja kerja, lalu bangkit berdiri dari kursinya dengan senyuman tipis yang merekah di bibirnya. Rasa gelisah yang sempat menghimpit dadanya sejak pagi seolah sedikit mereda melihat kehadiran pria tersebut di hadapannya.

"Pagi, Rian," balas Kirana menyapa dengan nada suara yang hangat, berjalan mendekati sisi meja kerjanya. "Ada urusan apa kamu datang ke ruanganku sepagi ini? Apakah ada masalah logistik baru di lapangan?"

Arga menggelengkan kepalanya perlahan, menjaga jarak sopan dua meter di antara mereka sesuai dengan batasan etika syar'i yang selalu ia junjung tinggi selama masa penyamaran. Tangannya terlipat rapi di depan dada, menatap lekat-lekat wajah Kirana seolah ingin merekam setiap detail kecantikan dan kelembutan wanita itu ke dalam ingatannya sebelum ia bertolak jauh ke ibu kota.

"Tidak ada masalah di lapangan, Mbak Kirana," jawab Arga dengan nada suara yang terdengar sedikit lebih serius dari biasanya. "Saya datang ke sini khusus untuk menemui Anda... karena saya ingin meminta izin untuk pamit tidak masuk bekerja selama beberapa hari ke depan."

Mendengar kata-kata 'pamit' yang diucapkan oleh Arga, senyuman di bibir Kirana seketika memudar. Firasat aneh yang menghantuinya sejak pagi mendadak menusuk hatinya dengan kuat, menciptakan gelombang kesedihan yang mendalam di dalam dadanya.

"Pamit cuti? Kenapa mendadak sekali, Rian?" tanya Kirana dengan nada cemas yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Apakah ada kendala dengan kontrak kerja harianmu di sini?"

Lihat selengkapnya