Deru mesin mobil taksi bandara berkapasitas besar itu perlahan-lahan mereda, menyisakan desisan halus ban yang mencengkeram aspal mulus kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Di balik jendela kaca mobil yang berembun tipis, Arga menatap kosong ke arah deretan pagar tinggi berlapis ukiran besi tempa klasik dan pilar-pilar putih menjulang megah yang menyembunyikan kemewahan kediaman utama keluarga Fardhan. Setelah berbulan-bulan lamanya hidup dalam kesederhanaan mutlak di perkampungan buruh proyek Surabaya—tidur di atas kasur lipat tipis, mencium bau debu semen setiap hari, dan mengenakan kemeja flanel lusuh—kembalinya Arga ke sangkar emas ini justru mendatangkan perasaan asing yang teramat sangat di dalam dadanya.
"Kita sudah sampai, Tuan Arga," ucap sopir sewaan taksi bandara itu dengan nada hormat, mematikan mesin mobil tepat di depan gerbang utama yang langsung terbuka otomatis begitu sensor mengenali pelat nomor kendaraan tersebut.
Gazhi dan Daffa, yang duduk di kursi belakang bersama Arga, ikut merapikan jas formal mereka. Meskipun keduanya terbiasa dengan fasilitas mewah perusahaan, atmosfer di kediaman utama keluarga Fardhan selalu memiliki aura ketegangan tersendiri yang mampu membekukan lidah siapa pun yang datang berkunjung. Gerbang besar itu terbuka lebar, memperlihatkan halaman luas beraspal batu koral putih dengan air mancur bergaya klasik di tengahnya.
Arga menarik napas dalam-dalam, merasakan udara Jakarta yang terasa jauh lebih berat dan pengap dibandingkan angin laut Surabaya yang menyengat. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar mengenakan sepatu pantofel hitam mengkilap yang sudah lama tersimpan di dalam koper. Di ambang pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati tua berukir, puluhan pelayan berpakaian seragam rapi sudah berbaris rapi menyambut kedatangan sang pewaris tunggal dengan membungkuk khidmat.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan Arga," sapa kepala pelayan rumah tangga, Pak Broto, dengan suara bergetar tertahan penuh rasa hormat.
Sebelum Arga sempat membalas sapaan tersebut, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggema dari dalam foyer marmer yang luas. Sosok wanita paruh baya dengan balutan selendang sutra lembut melangkah cepat menembus barisan pelayan. Wajahnya tampak sembab, dan matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat sosok pemuda yang selama berbulan-bulan menghilang dari rumah tanpa kabar berita yang pasti.
"Arga... ya Allah, anakku!" jerit Samaira, ibunda tercinta Arga, langsung berlari menerjang jarak di antara mereka dan memeluk erat tubuh bidang putranya tanpa memedulikan status sosial ataupun martabat keluarga.
Arga langsung merengkuh tubuh ibunya ke dalam dekapan hangatnya, memejamkan mata erat-erat sambil mencium puncak kepala sang ibu yang gemetar karena tangis haru. "Ibu... Arga pulang, Bu. Maafkan Arga karena sudah membuat Ibu khawatir selama ini."
Pelukan hangat di teras depan kediaman Menteng itu berlangsung selama beberapa menit dalam kesunyian yang sarat emosi. Para pelayan, Gazhi, dan Daffa memilih menundukkan pandangan, memberikan ruang privasi bagi ibu dan anak yang terpisah oleh jarak dan konflik keluarga yang cukup panjang. Bagi Samaira, kepulangan Arga adalah jawaban atas doa-doa malam yang ia panjatkan selama berbulan-bulan tanpa henti.
"Kamu ini benar-benar anak nakal, Arga!" ucap Ibu Samaira di sela-sela tangisannya, melepaskan pelukan sebentar untuk menangkup kedua pipi putranya dengan telapak tangannya yang halus. "Pergi begitu saja tanpa pamit yang jelas, tinggal di kota orang tanpa fasilitas, membuat jantung ibumu hampir copot karena cemas setiap malam!"
Arga tersenyum lembut, menghapus sisa air mata di pipi ibunya dengan ibu jarinya. "Arga harus pergi untuk belajar hidup mandiri, Bu. Kalau Arga tidak keluar dari rumah ini dan merasakan sendiri kerasnya dunia bawah, Arga selamanya hanya akan menjadi anak manja di bawah bayang-bayang Ayah."
"Tapi tidak dengan cara menghilang ke proyek konstruksi kotor di Surabaya, Arga!" seru Samaira, meskipun nada suaranya terdengar jauh lebih lembut karena rasa rindu yang teramat sangat. "Ayo masuk ke dalam. Rumah ini terasa begitu dingin dan mati sejak kamu pergi meninggalkannya."
Gazhi dan Daffa melangkah mengikuti di belakang, membawa koper-koper pakaian Arga masuk ke dalam foyer megah berlantai marmer putih mengkilap yang memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa buatan Austria. Kontras pemandangan itu begitu telak. Jika di Surabaya Arga terbiasa dengan dinding triplek pos logistik yang pengap dan suara bising deru molen semen, kini ia dikelilingi oleh lukisan-lukisan maestro bernilai miliaran rupiah, sofa kulit impor berkualitas tinggi, dan keheningan aristokrat yang mencekam.
Samaira terus menggandeng tangan Arga erat-erat seolah takut putranya akan kembali menghilang ke udara tipis. Namun, saat mereka melangkah masuk ke bawah sorot lampu terang ruang tamu utama, langkah sang ibu tiba-tiba terhenti. Sorot mata Samaira berubah dari kebahagiaan menjadi kekhawatiran yang mendalam saat ia mengamati setiap detail perubahan fisik yang terjadi pada diri putranya.
"Arga... ya Tuhan," bisik Samaira tertahan, menyentuh lengan Arga yang kini tampak jauh lebih kekar namun dipenuhi oleh guratan-guratan kecokelatan akibat tersengat terik matahari tropis Surabaya. "Kulitmu... kulitmu jadi jauh lebih gelap, Arga. Dan tanganmu..."
Samaira meraih telapak tangan Arga yang terulur. Ia terkesiap kecil saat merasakan permukaan kulit telapak tangan putranya yang dulu lembut kini terasa kasar, keras, dan dipenuhi oleh bekas-bekas kapalan tebal akibat mengangkat material besi beton dan memegang peralatan berat di lapangan proyek.
"Tangan ini dulunya adalah tangan seorang direktur muda yang hanya memegang pulpen mahal dan menekan tombol persetujuan di atas meja kantor ber-AC," ucap Samaira dengan suara bergetar, menatap nanar ke arah telapak tangan putranya. "Kenapa kamu harus menyiksa dirimu seperti ini, Arga? Apa sebenarnya yang ingin kamu buktikan kepada ayahmu?"
Arga menarik napas perlahan, menarik kembali tangannya dengan senyuman tenang yang menyiratkan kedewasaan luar biasa. "Arga tidak sedang menyiksa diri, Bu. Arga sedang belajar menghargai setiap keringat manusia yang bekerja di bawah perusahaan kita. Tangan yang kasar ini membuktikan bahwa Arga tahu persis bagaimana rasanya menjadi buruh paling bawah sebelum memimpin mereka dari atas."