Denting gesekan sendok perak yang beradu dengan permukaan piring porselen buatan tangan terasa begitu nyaring dan memekakkan telinga di dalam ruang makan utama kediaman keluarga Fardhan di Menteng. Suasana malam itu jauh dari kata hangat; alih-alih menjadi ajang melepas rindu setelah berbulan-bulan terpisah, meja makan terpanjang berlapis kayu mahoni antik tersebut justru menjelma menjadi medan perang psikologis yang dipenuhi oleh ketegangan kelas tinggi. Lampu gantung kristal Austria yang memantulkan cahaya kuning temaram seolah turut membekukan udara di sekeliling meja, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan penuh perhitungan.
Fardhan Fardiansyah duduk tegak di ujung meja utama, mengenakan kemeja formal berkerah kaku meskipun hari sudah larut malam. Pria paruh baya itu sama sekali belum menyentuh hidangan wagyu panggang yang tersaji di hadapannya. Sebaliknya, kedua matanya yang tajam seperti elang terus mengawasi setiap gerak-gerik Arga, putranya, yang duduk tenang di sisi kanan meja. Di seberang mereka, Ibu Samaira duduk dengan gelisah, memegang serbet sutra erat-erat di pangkuannya sementara pandangannya berganti-ganti menatap suami dan anak tunggalnya dengan kecemasan yang luar biasa.
"Makanannya tidak sesuai dengan seleramu, Arga?" suara bariton Fardhan memecah keheningan malam, terdengar dingin, datar, dan penuh intimidasi yang terselubung rapi di balik kesopanan aristokrat. "Atau kamu masih terbiasa memakan makanan murahan di warung-warung pinggir jalan Surabaya selama pelarian konyolmu itu?"
Arga meletakkan garpu dan pisau makannya perlahan di atas piring, menjaga gerakannya tetap terkontrol dan berwibawa. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata ayahnya tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar. "Makanan ini sangat lezat, Ayah. Hanya saja, ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar menu makan malam yang ingin saya bicarakan malam ini."
Fardhan mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. Ia mengambil serbet untuk menyeka bibirnya sebelum kembali menatap putranya dengan tatapan meremehkan. "Hal penting? Jika yang ingin kamu bicarakan adalah laporan audit proyek abal-abal yang kamu letakkan di meja tadi sore, simpan saja omong kosong itu untuk rapat pleno dewan komisaris besok pagi. Malam ini, kita memiliki agenda keluarga yang jauh lebih krusial."
Ibu Samaira menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak melonjak tajam. "Fardhan... biarkan Arga bernapas dulu. Dia baru saja tiba dari perjalanan panjang, tidakkah sebaiknya kita membicarakan urusan keluarga besok saja setelah—"
"Tidak, Samaira," potong Fardhan tegas tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Arga. "Justru karena dia sudah kembali ke rumah ini, sudah saatnya ia diingatkan kembali pada posisinya dan masa depannya sebagai pewaris sah Fardiansyah Corp."
Fardhan menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur seorang penguasa imperium bisnis yang sedang mendikte nasib bawahannya. Ia tahu betul bagaimana cara menekan mental putranya, memanfaatkan tradisi dan kewajiban keluarga sebagai rantai besi yang tidak bisa diputus begitu saja.
"Persiapan pertemuan besar antara keluarga besar kita dengan keluarga Zhafran dari Surabaya sudah matang seratus persen," ucap Fardhan dengan nada suara penuh penekanan di setiap suku katanya. "Acara jamuan makan malam resmi itu akan digelar di ballroom hotel bintang lima mewah di pusat kota Jakarta dalam waktu dekat, sekaligus untuk meresmikan perjodohan masa kecilmu dengan Kirana Zhafran."
Mendengar nama Kirana disebut secara tiba-tiba di tengah meja makan keluarga, jantung Arga berdegup kencang seketika. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak siaga. Selama ini, di balik penyamarannya sebagai pengawas logistik bernama Rian di Surabaya, ia memang mengetahui bahwa Kirana adalah putri tunggal dari mitra bisnis penting ayahnya, namun ia tidak pernah menyangka bahwa ikatan perjodohan masa kecil itu sudah dirancang sedemikian rupa tanpa pernah meminta persetujuannya secara langsung.
Di ujung meja, Ibu Samaira tampak terkejut, namun ia memilih diam karena tahu campur tangan suaminya dalam urusan bisnis dan keluarga tidak bisa diganggu gugat.
"Perjodohan?" ulang Arga dengan suara tenang, namun sorot matanya mulai menyiratkan bara api perlawanan yang selama ini terpendam. "Apakah Ayah mengira hidup saya adalah aset perusahaan yang bisa diperjualbelikan atau dijodohkan demi kepentingan ekspansi bisnis keluarga?"
Fardhan menyipitkan matanya, rahangnya mengeras mendengar nada bicara putranya yang dianggap mulai lancang. "Jaga nada bicaramu, Arga! Perjodohan antara keluarga Fardiansyah dan Zhafran bukan sekadar urusan cinta kekanak-kanakan. Itu adalah aliansi strategis dua korporasi besar yang sudah disepakati oleh kakekmu sejak kalian masih anak-anak. Kirana adalah gadis terdidik dari keluarga terpandang, dan dia adalah satu-satunya wanita yang layak mendampingi pewaris tahta Fardiansyah Corp."
Arga mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Bayangan tentang wajah cantik Kirana yang tersenyum di bawah rintik gerimis Surabaya, air mata penyesalan gadis itu, serta ketulusan cinta yang mereka bangun di tengah debu proyek mendadak berkelebat di benaknya. Ironis sekali, pikir Arga. Ayahnya berniat menjodohkannya dengan wanita yang sama—wanita yang justru telah berhasil mencuri hatinya bukan karena status sosial atau perjodohan bisnis, melainkan karena cinta sejati yang tumbuh secara alami di lapangan.
"Kirana adalah wanita yang luar biasa," ucap Arga dengan suara pelan namun penuh makna yang mendalam, menatap tajam ke arah ayahnya. "Tetapi bukan karena alasan aliansi bisnis atau perjodohan masa kecil yang Ayah inginkan."
Fardhan mengerutkan keningnya, menangkap kejanggalan dalam cara putra tunggalnya merespon penyebutan nama Kirana. "Apa maksudmu? Kamu belum pernah bertemu langsung dengan Kirana secara resmi dalam kapasitas setara, jadi jangan berbicara seolah-olah kamu sudah mengenal wanita itu dengan baik."
"Siapa bilang saya tidak mengenalnya?" balas Arga tenang, menampilkan senyuman tipis penuh misteri di bibirnya. "Selama berbulan-bulan saya berada di Surabaya, saya tidak hanya duduk diam di ruang ber-AC, Ayah. Saya bekerja tepat di sampingnya, melihat bagaimana dia memimpin divisi operasional dengan integritas tinggi, dan mengenalnya jauh melampaui selembar resume bisnis yang ada di atas meja Ayah."