Dentuman keras gemerincing pecahan kristal gelas air yang jatuh membentur lantai marmer putih kediaman Menteng bagaikan letusan petir pertama di tengah malam yang pekat. Suara itu menggema ke seluruh sudut ruang makan utama, memecah keheningan aristokrat yang sejak tadi membeku oleh ketegangan psikologis antara ayah dan anak. Ibu Samaira terperanjat dari kursi peraknya, kedua tangannya menutup mulut yang menganga, sementara air mata ketakutan meluncur deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Suasana di sekitar meja mahoni panjang itu mendadak terasa begitu pengap, seolah seluruh oksigen di dalam ruangan tersedot habis oleh kemurkaan luar biasa yang tengah membakar dada sang kepala keluarga.
Fardhan Fardiansyah tidak lagi mampu menahan amarah yang menggelegak di dalam rongga dadanya. Pria paruh baya berwibawa tinggi itu bangkit berdiri secara kasar dari kursi utamanya hingga kursi tersebut terdorong mundur dan hampir roboh ke belakang. Dengan mata melotot tajam penuh amarah, Fardhan menghantamkan kepalan tangan kanannya ke atas permukaan meja makan mahoni dengan kekuatan penuh. Gebrakan itu membuat piring-piring porselen mewah, alat makan perak, dan vas bunga hiasan di tengah meja bergetar hebat, nyaris melompat dari tempat duduknya.
"Kurang ajar!" bentak Fardhan dengan suara menggelegar yang memenuhi seluruh ruangan, urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak emosi yang tak terkendali. "Berani sekali kamu membentak ayahmu dan menentang keputusan mutlak keluarga demi seorang wanita yang bahkan baru kamu kenal di pinggiran proyek kotor Surabaya!"
Arga, yang baru saja hendak membalikkan badan untuk meninggalkan ruangan, menghentikan langkahnya. Pemuda itu perlahan-lahan memutar tubuhnya kembali menghadap sang ayah. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa sungkan di wajahnya; yang tersisa hanyalah tatapan mata setajam elang yang memancarkan keteguhan baja seorang pria dewasa yang siap mempertahankan prinsip hidupnya hingga titik darah penghabisan.
"Arga tidak pernah bermaksud kurang ajar kepada Ayah," jawab Arga dengan nada suara rendah, tenang, namun penuh penekanan yang menusuk tajam. "Tetapi ada batas di mana seorang anak harus berdiri di atas kakinya sendiri dan menentukan kebahagiaan hidupnya, bukan terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang dikte dan ambisi bisnis orang tuanya."
Fardhan mendengus keras, tertawa sinis dengan nada mengejek yang penuh penghinaan. "Dikte dan ambisi bisnis? Kamu menyebut kerja keras kakekmu dan ayahmu membangun imperium Fardiansyah Corp selama puluhan tahun ini sebagai ambisi kosong?! Kamu disekolahkan setinggi-tingginya hingga jenjang strata dua di universitas bergengsi di Istanbul, Turki, dibekali ilmu manajemen tingkat tinggi, dipersiapkan untuk memegang kendali korporasi raksasa—dan sekarang kamu dengan mudahnya membuang semua itu demi membela seorang wanita asing?!"
"Dia bukan wanita asing, Ayah!" potong Arga dengan suara yang mulai meninggi, tak lagi mampu menahan gejolak di dadanya. "Dia adalah wanita terhormat yang memimpin divisi operasional dengan integritas luar biasa, wanita yang mengajarkan saya arti kesederhanaan, ketulusan, dan kerja keras yang sesungguhnya di lapangan!"
"Integritas? Kesederhanaan?" Fardhan mendengus semakin keras, melangkah mendekati putranya dengan langkah menghentak lantai. "Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta monyet yang murahan, Arga! Kamu tersesat dalam ilusi romantisme kelas pekerja hingga kamu lupa siapa dirimu dan dari keluarga mana kamu berasal!"
Ibu Samaira berlari kecil menghampiri suaminya, meremasi lengan kemeja Fardhan dengan penuh memohon. "Fardhan, sudah! Jangan teruskan kata-kata itu. Tolong redakan amarahmu, dengarkan penjelasan Arga dengan kepala dingin..."
"Diam, Samaira!" sergah Fardhan tanpa melirik istrinya sedikit pun, telunjuknya terus menuding tepat ke arah dada Arga. "Kamu selalu memanjakannya sejak kecil hingga ia tumbuh menjadi pemuda pembangkang yang tidak tahu diuntung seperti ini! Dia pergi dari rumah berminggu-minggu tanpa kabar, hidup dalam penyamaran konyol yang memalukan, dan sekarang berani pulang membawa ancaman untuk menghancurkan perjodohan strategis keluarga kita dengan keluarga Zhafran!"
Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh amarah di dalam dadanya agar argumen yang ia sampaikan tetap berada dalam koridor akal sehat dan nilai-nilai luhur yang ia yakini. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata ayahnya yang menyala-nyala karena murka.
"Ayah terus saja membanggakan perjodohan strategis itu seolah-olah hidup saya adalah lembar saham yang bisa diperjualbelikan di lantai bursa," ucap Arga dengan suara berat yang bergetar menahan emosi. "Tahukah Ayah apa arti sebuah ikatan pernikahan dalam pandangan agama dan moralitas yang benar? Pernikahan bukan sekadar alat ekspansi bisnis untuk melipatgandakan kekayaan korporasi!"
Fardhan menatap putranya dengan pandangan tak percaya, seolah-olah Arga sedang berbicara dalam bahasa asing yang tidak masuk akal. "Jangan ajari aku soal agama dan moralitas, Arga! Di dunia nyata tempat kita hidup, aliansi bisnis dan perjodohan darah bangsawan korporasi adalah fondasi yang menjaga kestabilan imperium ini! Tanpa kerja sama dengan keluarga Zhafran, posisi kita di pasar regional Jawa Timur akan terancam oleh para kompetitor busuk!"
"Biarkan pasar itu terancam!" seru Arga tegas, membuat Fardhan tertegun sesaat mendengar keberanian mutlak tersebut. "Biarkan korporasi ini kehilangan separuh asetnya jika memang harus dibayar dengan kebahagiaan seumur hidup saya! Saya tidak peduli dengan tahta atau kekayaan Fardiansyah Corp jika saya harus menghabiskan sisa umur saya di samping wanita yang tidak saya cintai!"
"Kamu... kamu benar-benar anak durhaka!" cibir Fardhan dengan suara bergetar hebat, wajahnya memerah padam menahan amarah yang hampir meledakkan batinku. "Kamu berbicara seolah-olah kekayaan dan fasilitas mewah yang kamu nikmati sejak lahir itu turun begitu saja dari langit tanpa ada cucuran keringat ayahmu!"
"Arga sangat menghargai kerja keras Ayah!" balas Arga membela diri dengan tatapan tajam. "Tetapi Arga tidak pernah meminta untuk dibeli masa depannya dengan imbalan kontrak pernikahan bisnis! Dan yang paling penting... wanita yang Ayah jadikan objek perjodohan paksa itu, wanita yang Ayah rendahkan dengan sebutan 'wanita asing dari pinggiran proyek', adalah mutiara sejati yang sudah lama saya pilih dengan seluruh kesadaran jiwa saya."
Fardhan menyipitkan matanya, menatap putranya dengan sorot penuh selidik dan curiga. "Mutiara sejati kamu bilang? Gadis yang bekerja di proyek Surabaya itu? Jangan membuatku tertawa, Arga! Kamu menyamar sebagai buruh logistik rendahan selama berbulan-bulan di sana, jadi bagaimana mungkin kamu bisa tahu latar belakang wanita itu secara mendalam?"
Arga menegakkan bahunya semakin gagah, menatap ayahnya dengan pandangan penuh kebanggaan. "Karena saya mengenalnya bukan dari resume birokrasi di atas meja kerja Ayah, melainkan dari interaksi nyata setiap hari. Wanita yang Arga pilih adalah mutiara sejati, Ayah! Dia salihah, terdidik, bermartabat tinggi, dan menjaga kehormatannya di tengah kerasnya dunia konstruksi."
"Salihah? Bermartabat?" Fardhan mendengus sinis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur meremehkan. "Kalau dia memang gadis terhormat dari keluarga terpandang seperti yang kamu katakan, lalu kenapa dia mau menerima cinta dari seorang buruh logistik kusam bernama Rian yang tidak punya apa-apa di lapangan? Tidakkah kamu berpikir jernih, Arga?"