Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

Air Mata Ibu Samaira

Suara ketukan pintu kayu jati paviliun belakang kediaman Menteng terdengar begitu lirih di tengah keheningan malam yang pekat. Arga, yang sedang duduk termenung di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong menatap cangkir kopi dingin di atas meja kecil, tidak sedikit pun berniat untuk beranjak atau membukakan pintu. Setelah pertengkaran hebat dan penuh kemarahan di ruang makan utama bersama sang ayah—yang berujung pada ancaman pencabutan nama besar keluarga Fardhan—Arga memilih untuk mengasingkan diri ke paviliun terpencil yang dulunya merupakan tempat peristirahatan sang kakek. Di ruangan yang jauh dari kemegahan rumah utama itu, ia mengunci rapat pintu, membiarkan pikirannya melayang menerobos jarak ribuan kilometer kembali ke Surabaya, ke sudut-sudut sederhana proyek konstruksi tempat ia menemukan arti hidup yang sebenarnya.

"Arga... ini Ibu, Nak," suara lembut namun bergetar tertahan terdengar dari balik pintu kayu yang tebal.

Mendengar suara wanita yang melahirkannya itu, pertahanan emosional Arga mendadak bergeming. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang kasar berkapalan sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah pelan membuka daun pintu paviliun.

Di ambang pintu, di bawah temaram lampukoridor kuning keemasan, sosok Ibu Samaira berdiri dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Selendang sutra lembutnya tampak sedikit kusut, mata indahnya sembap dan memerah akibat menangis tanpa henti sepanjang malam, dan di tangan kanannya, ia membawa sebuah nampan kecil berisi secangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan uap tipis.

"Ibu... kenapa belum tidur? Ini sudah sangat larut malam," bisik Arga dengan suara serak, merasa hatinya dihujam rasa bersalah yang teramat sangat saat melihat kerapuhan di wajah sang ibu tercinta.

Samaira tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah putranya lekat-lekat, menyusuri setiap inci garis ketegasan yang kini tercetak jelas di rahang Arga sebelum akhirnya melangkah masuk melewati putranya tanpa menunggu izin. "Ibu tidak mungkin bisa tidur tenang, Arga, setelah melihat anak tunggal dan suami Ibu saling menghunus pedang di meja makan tadi," ucap Samaira lirih, meletakkan nampan teh di atas meja sudut ruangan.

Arga menutup pintu kembali dengan perlahan, menguncinya rapat-rapat, lalu mengikuti langkah ibunya yang duduk di atas sofa beludru hijau tua di sudut paviliun. Samaira menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar putranya duduk mendekat. Tanpa ragu, Arga mendudukkan diri di sisi sang ibu, membiarkan wanita paruh baya itu meraih kedua tangannya yang kasar dan keras akibat jerih payah di lapangan proyek Surabaya.

Samaira menggenggam jemari Arga erat-erat, meraba setiap jengkal kulit yang menebal dan bekas-bekas luka kecil akibat gesekan material besi beton. Air mata yang sempat surut kembali menggenang di pelupuk mata sang ibu, mencerminkan kepedihan batin yang mendalam melihat transformasi fisik anak kesayangannya.

"Tangan ini..." bisik Samaira dengan suara bergetar halus, membawa telapak tangan Arga mendekat ke dadanya. "Dulu tangan ini begitu lembut, hanya memegang buku-buku tebal universitas dan pena mahal. Sekarang... tangan ini penuh dengan bekas luka dan kapalan kasar. Kenapa kamu harus menyiksa dirimu sejauh ini, Arga? Kenapa kamu harus pergi minggat ke kota orang hanya untuk membuktikan sesuatu kepada ayahmu?"

Arga menatap ibunya dengan tatapan penuh kelembutan, membalas genggaman tangan Samaira menggunakan tangannya yang lain. "Arga tidak sedang menyiksa diri, Bu. Arga sedang mencari jati diri. Selama hidup di rumah utama Menteng ini, Arga merasa hidup dalam sangkar emas yang membuat Arga lupa bagaimana cara bertahan hidup sebagai seorang pria sejati. Di Surabaya, di bawah terik matahari dan debu proyek, Arga belajar menghargai setiap tetes keringat manusia."

"Tapi bukan dengan cara menentang ayahmu secara membabi buta, Arga," potong Samaira lembut namun tegas, mengusap punggung tangan putranya dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Kamu tahu persis bagaimana watak Fardhan. Beliau adalah pria yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga dan hierarki bisnis di atas segalanya. Ancaman pencabutan nama keluarga yang beliau ucapkan tadi malam bukanlah lelucon... beliau benar-benar bisa melakukannya jika kamu tidak melunak."

"Biarlah Ayah mencabut nama itu jika memang itu harga yang harus dibayar untuk kebebasan hidup Arga," jawab Arga tenang, tanpa ada secercah pun rasa gentar atau penyesalan di dalam suaranya.

Samaira menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya menetes membasahi punggung tangan Arga. "Jangan bicara seperti itu, Nak. Ibu adalah ibumu, dan Ibu tahu betapa besar kasih sayang ayahmu kepadamu di balik sikap dingin dan kerasnya itu. Beliau hanya ingin kamu menjadi penerus tahta imperium yang kokoh, bukan malah menghancurkan semuanya demi sebuah pemberontakan masa muda."

"Ini bukan pemberontakan kekanak-kanakan, Bu," balas Arga dengan sorot mata yang menyiratkan kedewasaan luar biasa. "Ini adalah prinsip hidup. Arga tidak bisa membiarkan masa depan dan hati Arga ditentukan oleh selembar kontrak perjodohan bisnis yang tidak memiliki dasar cinta."

Samaira menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata putranya dengan tatapan penuh permohonan yang menyayat hati. "Dengarkan Ibu, Arga... coba pikirkan kembali keputusanmu ini dengan kepala dingin. Keluarga Zhafran di Surabaya adalah orang-orang yang sangat terhormat, baik, dan terpandang. Dan anak perempuan mereka—gadis yang lulusan universitas terkemuka di Mesir—adalah wanita yang luar biasa anggun, berpendidikan tinggi, dan sangat salihah."

Mendengar deskripsi tentang latar belakang gadis tersebut, Arga terdiam sejenak. Ia tahu betul siapa yang sedang dibicarakan oleh ibunya. Kirana, wanita yang telah merebut seluruh hatinya di bawah rintik gerimis Surabaya, memang memiliki latar belakang pendidikan agama dan umum yang luar biasa cemerlang. Namun ironisnya, wanita salihah dan anggun yang dipuji setinggi langit oleh ibunya itu justru adalah wanita yang sama yang hendak dipaksakan dalam perjodohan bisnis oleh ayahnya.

"Ibu benar," ucap Arga dengan suara pelan dan berhati-hati. "Kirana memang wanita yang sangat anggun, berpendidikan tinggi, dan salihah. Dia adalah wanita luar biasa."

Samaira terkejut sejenak mendengar putranya menyebut nama tersebut secara langsung dengan begitu akrab. "Kamu... kamu sudah memanggil namanya secara langsung? Berarti benar apa yang dikatakan ayahmu tadi malam... kamu sudah mengenal gadis itu selama di Surabaya?"

Lihat selengkapnya