Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #90

Boikot Hak Waris dan Ancaman Bisnis

Pagi hari di kawasan Menteng datang membawa terik matahari yang menyengat kaca-kaca jendela besar kediaman utama keluarga Fardiansyah. Pukul delapan tepat, derap langkah sepatu kulit mengkilap menggema tegas di koridor lantai dua menuju ruang kerja pribadi Fardhan Fardiansyah—sebuah ruangan luas berlapis kayu jati tua yang dipenuhi lemari buku arsip raksasa dan aroma tembakau cerutu mahal. Arga melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan punggung tegap dan dagu terangkat tinggi, tanpa menyisakan secercah pun rasa gentar di dalam dadanya.

Di balik meja kerja mahoni berukuran besar yang tampak angker, Fardhan duduk tegak mengenakan setelan jas kelabu gelap berdasi sutra. Di samping sang kepala keluarga, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal berbalut setelan formal hitam—Pak Hendra, kepala penasihat hukum sekaligus notaris kepercayaan korporasi Fardhan Group. Di atas meja kerja yang bersih itu, sebuah dokumen tebal berlogo resmi perusahaan terhampar terbuka, memuat deretan pasal-pasal hukum mengenai pencabutan hak kuasa dan aset warisan.

"Kamu datang tepat waktu, Arga," suara bariton Fardhan membuka keheningan ruangan dengan nada dingin yang langsung membekukan udara di sekelilingnya. "Duduklah. Kita tidak punya banyak waktu untuk bermain-main dengan drama keluarga pagi ini."

Arga tidak langsung menarik kursi di hadapan ayahnya. Ia berdiri dengan tenang, menatap lurus ke arah sang ayah tanpa sedikit pun rasa sungkan. "Saya tidak sedang bermain-main, Ayah. Apa alasan pemanggilan mendadak ini ke ruang kerja pribadi Ayah sebelum rapat pleno dewan komisaris dimulai?"

Fardhan mendengus pelan, melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur angkuh seorang penguasa mutlak. Ia memberi isyarat kepada penasihat hukum di sampingnya. Pak Hendra membuka lembaran dokumen di hadapannya dan mendorong map tersebut mendekati tepi meja.

"Tuan muda Arga Fardiansyah," ucap Pak Hendra dengan nada formal yang kaku. "Berdasarkan instruksi langsung dari Tuan Besar Fardhan selaku pemegang saham mayoritas dan pendiri korporasi, kami telah menyiapkan surat pernyataan resmi mengenai restrukturisasi kepemilikan aset dan pencabutan hak waris."

Arga melirik sekilas ke arah tumpukan kertas bermeterai tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan. "Restrukturisasi atau ancaman finansial untuk membungkam saya?" sindir Arga tajam, membuat rahang Fardhan mengeras seketika.

Fardhan bangkit dari kursi kerjanya, berjalan pelan mendekati putranya dengan tatapan mata setajam elang. "Jangan sombong dulu, Arga! Kamu pikir kemandirian pura-pura yang kamu pelajari selama berbulan-bulan di Surabaya itu membuatmu kebal terhadap kenyataan hidup? Kamu hidup bergelimang kemewahan sejak lahir karena fasilitas dan kekayaan yang kubangun dari nol!"

"Dan sekarang Ayah ingin mengambil semuanya kembali hanya karena saya menolak perjodohan bisnis yang Ayah rancang?" balas Arga dengan suara tenang namun tegas.

"Bukan hanya mengambil kembali," potong Fardhan dengan senyuman sinis yang mengerikan. "Hari ini, di hadapan notaris hukum keluarga, ultimatum resmi akan dijatuhkan. Jika kamu tetap bersikeras memilih gadis Surabaya pilihanmu itu, maka seluruh aset pribadi, kartu kredit korporasi, apartemen mewah di SCBD, fasilitas kendaraan, dan seluruh hak waris atas anak perusahaan Fardhan Group akan dicabut saat itu juga. Kamu akan dikeluarkan dari Kartu Keluarga dan menjadi orang asing bagi imperium ini!"

Ancaman finansial skala masif itu meluncur begitu saja dari bibir Fardhan dengan sangat mudah, seolah-olah ikatan darah seorang anak kandung bisa diputus semudah membalikkan telapak tangan demi mempertahankan gengsi dan kekuasaan korporasi. Pak Hendra, sang notaris keluarga, menundukkan pandangannya, merasa canggung menyaksikan konflik terbuka antara ayah dan anak tersebut namun tidak memiliki kuasa untuk ikut campur.

Arga menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan menguasai ruangan kerja yang megah itu selama beberapa detik. Di dalam dadanya, badai emosi sempat bergejolak hebat, namun akal sehat dan keteguhan prinsip yang ia tempa di bawah terik matahari proyek Surabaya membuatnya mampu mengendalikan diri dengan sempurna.

"Silakan, Ayah," ucap Arga dengan suara datar tanpa getar sedikit pun, menatap lurus ke dalam sepasang mata sang ayah. "Cabut semua fasilitas itu. Cabut kartu kredit, apartemen, dan hak waris atas nama saya. Jika harga dari kekayaan keluarga ini adalah kebebasan hidup dan kebahagiaan hati saya, maka saya dengan senang hati melepaskan semuanya."

Fardhan terperanjat kecil mendengar jawaban di luar dugaan tersebut. Ia mengira ancaman pencabutan seluruh fasilitas mewah itu akan membuat putranya berlutut memohon ampun dalam hitungan detik, namun ketenangan Arga justru memukul telak ego sang konglomerat senior.

"Jangan berbicara omong kosong, Arga!" bentak Fardhan dengan nada suara yang mulai meninggi, menahan gejolak amarah yang tersulut. "Kamu tidak tahu apa artinya hidup di luar sana tanpa sepeser pun uang dari Fardhan Group! Kamu akan kelaparan, hidup merana, dan menyadari betapa bodohnya tindakan pemberontakanmu ini!"

"Saya sudah hidup berbulan-bulan di Surabaya, Ayah," balas Arga mantap, mengangkat sedikit dagunya. "Saya tidur di kasur lipat sederhana, makan di warung pinggir jalan, dan bekerja sebagai buruh logistik kasar di lapangan. Dan tahukah Ayah? Itu adalah bulan-bulan paling bermakna dalam hidup saya, jauh lebih bernilai dibanding seluruh fasilitas mewah yang Ayah berikan di sangkar emas ini."

Fardhan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu benar-benar keras kepala! Kamu mengira perlawananmu ini hebat?"

Sebelum Arga sempat merespon, Fardhan melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya menjadi sebuah bisikan penuh ancaman mengerikan yang langsung menyasar titik paling rentan di dalam dada Arga.

"Kamu mungkin siap kehilangan harta dan fasilitas mewah, Arga," desis Fardhan dengan senyuman iblis di sudut bibirnya. "Tetapi apakah gadis pilihanmu di Surabaya itu juga siap menghadapi akibat dari perbuatanmu?"

Mendengar penyebutan 'gadis pilihanmu', seluruh saraf di tubuh Arga mendadak tegang. Sorot matanya yang tadinya tenang berubah tajam bagaikan bilah pisau yang siap menebas apa saja. "Apa maksud Ayah?"

Fardhan menyeringai puas melihat perubahan ekspresi di wajah putranya, menyadari bahwa ia telah menemukan titik lemah yang paling ampuh untuk menghancurkan pertahanan mental Arga.

Lihat selengkapnya