Suara deru mesin mobil sedan hitam sederhana yang membawa Arga baru saja meninggalkan pelataran parkir kediaman Menteng ketika atmosfer di area servis belakang rumah megah itu berubah menjadi sangat mencekam. Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal—yang merupakan anggota divisi pengamanan internal khusus keluarga Fardiansyah—tiba-tiba melangkah cepat dan menghadang laju Gazhi serta Daffa yang tengah membereskan sisa barang bawaan di bagasi mobil operasional mereka.
"Tunggu dulu, kalian berdua," suara bariton yang berat dan dingin milik Kepala Keamanan Utama Fardhan Group, Pak Yuda, menghentikan langkah Gazhi seketika. Pria paruh baya berwajah kaku dengan bekas luka tipis di pelipis kiri itu menatap tajam ke arah dua asisten pribadi Arga dengan sorot mata mengintimidasi. "Tuan Besar Fardhan memanggil kalian berdua ke ruang interogasi lantai dasar sekarang juga. Jangan coba-coba untuk menghindar."
Gazhi menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang seketika. Meskipun ia dan Daffa terbiasa menghadapi berbagai situasi rumit di dunia korporasi, dipanggil secara khusus oleh kepala keamanan atas perintah langsung sang konglomerat senior di saat Arga baru saja menolak seluruh hak waris adalah pertanda buruk yang sangat nyata.
"Baik, Pak Yuda. Kami akan ikut," jawab Gazhi berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan terkontrol, meskipun lututnya terasa sedikit lemas. Ia melirik sekilas ke arah Daffa yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah kaku, datar, dan tanpa ekspresi, menunjukkan benteng pertahanan mental yang siap menghadapi segala kemungkinan terburuk.
Tanpa banyak bicara, kedua asisten setia itu digiring melewati koridor samping menuju ruang keamanan bawah tanah kediaman Menteng—sebuah ruangan tertutup kedap suara yang biasa digunakan untuk evaluasi internal dan penanganan krisis korporasi. Begitu pintu besi tebal itu tertutup rapat, bayang-bayang tekanan finansial dan ancaman karier langsung menyambut mereka berdua di dalam ruangan yang diterangi lampu putih terang benderang.
Di ujung meja logam panjang, Pak Yuda duduk menyilangkan kaki, sementara dua anak buahnya berdiri tegap di samping pintu. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu menekan, seolah oksigen di sekeliling mereka ditarik perlahan-lahan untuk mematahkan mental siapa pun yang berada di sana.
"Duduk," perintah Pak Yuda singkat dengan nada suara yang tidak membantah. Gazhi dan Daffa langsung menarik kursi besi di hadapan kepala keamanan tersebut dan mendudukkan diri dengan postur tubuh tegap.
"Kalian berdua tahu persis alasan kenapa Tuan Besar memerintahkan saya untuk membawa kalian ke sini," buka Pak Yuda langsung tanpa basa-basi, menatap tajam bergantian ke arah Gazhi dan Daffa. "Selama berbulan-bulan Arga menghilang di Surabaya, kalian berdua adalah orang-orang kepercayaan yang mendampinginya setiap hari. Kalian tahu semua gerak-geriknya, rahasianya, dan tentu saja... wanita yang telah membuat pewaris tunggal Fardiansyah Corp itu menjadi pembangkang."
Tekanan psikologis mulai dilepaskan secara perlahan namun mematikan oleh sang kepala keamanan. Pak Yuda mencondongkan tubuhnya ke depan meja logam, menatap lurus ke dalam mata Gazhi yang mulai berkeringat dingin di pelipisnya.
"Tuan Besar Fardhan sangat murka," lanjut Pak Yuda dengan suara berat penuh ancaman. "Beliau tidak ingin ada lagi rahasia yang disembunyikan di bawah atap Fardiansyah Corp. Saya beri kalian kesempatan terakhir sekarang: sebutkan siapa identitas lengkap gadis Surabaya yang menjadi pilihan Tuan Muda Arga, dan berikan semua laporan rinci tentang apa saja yang mereka lakukan selama penyamaran di sana."
Gazhi menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam rasa gugup yang bergejolak di dalam dadanya. Sebagai asisten yang paling lama mendampingi Arga, ia tahu betul konsekuensi besar dari apa yang sedang ia pertaruhkan. Di satu sisi, ancaman terhadap karier dan masa depannya di Jakarta terpampang sangat nyata di hadapannya; namun di sisi lain, rasa loyalitas, persahabatan, dan kekaguman yang mendalam kepada Arga membuat Gazhi tidak mungkin menjual rahasia tuannya begitu saja kepada tangan kanan sang konglomerat.
"Maafkan kami, Pak Yuda," jawab Gazhi dengan suara yang diusahakan selantang dan setenang mungkin, meskipun ada sedikit getaran halus di ujung kalimatnya. "Selama di Surabaya, tugas utama kami adalah mendampingi Tuan Muda Arga dalam hal logistik proyek operasional lapangan dan memastikan keselamatan fisiknya dari gangguan eksternal. Kami sama sekali tidak mencampuri urusan pribadi atau kehidupan asmara beliau."
Pak Yuda menyipitkan matanya, tidak langsung mempercayai jawaban diplomatis tersebut. "Jangan mencoba bermain-main kata dengan saya, Gazhi! Kalian pikir saya tidak tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang mengatur jadwal pertemuan rahasia mereka? Jika kalian terus menutup-nutupi informasi ini, Tuan Besar tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi terberat."
"Sanksi apa lagi yang lebih berat dari ancaman pemecatan?" sela Daffa tiba-tiba dengan suara dingin, datar, dan sangat menusuk, memotong ucapan kepala keamanan tanpa rasa takut sedikit pun.
Pak Yuda mengalihkan pandangannya tajam kepada Daffa, terkejut dengan keberanian asisten muda yang terkenal paling pendiam di antara tim Arga.
"Daffa, jaga nada bicara dan sikapmu di hadapan saya!" bentak Pak Yuda memperingatkan.
"Saya hanya berbicara berdasarkan fakta, Pak," ucap Daffa tenang, melipat kedua tangannya di atas meja logam dengan postur tubuh yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. "Tugas kami dipekerjakan di bawah divisi khusus Tuan Muda Arga adalah melayani dan menjaga kepentingan beliau. Loyalitas kami terikat langsung kepada Arga Fardiansyah, bukan kepada instruksi sepihak dari dewan keamanan pusat yang mencoba mencampuri ranah privat bos kami."
Mendengar jawaban tegas dan pembangkangan terang-terangan dari Daffa, rahang Pak Yuda mengeras menahan amarah. Suasana di dalam ruang interogasi bawah tanah itu mendadak menjadi sangat panas, seolah bara api tersulut di antara mereka.
"Kalian benar-benar sudah tertular sifat pembangkang Tuan Muda Arga!" geram Pak Yuda sambil bangkit berdiri dari kursinya, menepuk meja logam dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman nyaring di ruangan kedap suara tersebut. "Kalian pikir loyalitas buta seperti itu bisa menyelamatkan masa depan karier kalian di ibu kota? Dengarkan baik-baik ultimatum saya!"
Pak Yuda berjalan mengitari meja, berdiri tepat di belakang kursi tempat Gazhi dan Daffa duduk.
"Jika dalam waktu lima menit ke depan kalian tetap membangkang dan menolak membocorkan identitas gadis Surabaya itu, saya akan memastikan nama kalian berdua masuk ke dalam daftar hitam (blacklist) korporasi nasional! Tidak akan ada satu pun perusahaan besar, bank, atau instansi elit di seluruh wilayah Jakarta dan Indonesia yang mau menerima kalian bekerja sebagai asisten atau eksekutif!" ancam Pak Yuda dengan suara berbisik penuh intimidasi tepat di dekat telinga Gazhi.
Ancaman daftar hitam karier seumur hidup adalah mimpi buruk bagi siapa pun profesional muda di ibu kota. Bagi Gazhi, ancaman itu membuat jantungnya berdegup kencang ketakutan; membayangkan masa depannya hancur berkeping-keping, tidak memiliki penghasilan, dan ditolak di setiap perusahaan karena melawan titah sang konglomerat utama.