Suara dentuman berat dari gerbang besi tempa utama kediaman Menteng bergema nyaring di penjuru halaman, menandakan sebuah perubahan status yang sangat drastis bagi Arga di dalam rumah keluarganya sendiri. Menyadari bahwa ancaman finansial, pemecatan asisten, hingga tekanan psikologis sama sekali tidak mampu meluluhkan tekad putranya, Fardhan Fardiansyah memutuskan untuk menggunakan cara terakhir yang paling ekstrem dan otoriter: mengurung Arga di dalam kompleks kediaman utama sebagai tahanan rumah.
Pukul empat sore, ketika Arga berniat melangkah keluar melalui pintu gerbang samping untuk menemui Gazhi yang menunggu di mobil sewaan, empat orang petugas keamanan bertubuh besar langsung berdiri memblokade jalan. Kepala Keamanan Utama, Pak Yuda, maju dua langkah dengan ekspresi kaku tanpa senyuman sedikit pun.
"Maafkan kami, Tuan Muda Arga," ucap Pak Yuda dengan nada formal yang terdengar dingin dan mutlak. "Instruksi langsung dari Tuan Besar Fardhan sangat jelas. Mulai sore ini, seluruh akses keluar masuk gerbang kediaman Menteng ditutup total untuk Anda. Anda tidak diizinkan meninggalkan area rumah hingga hari pertemuan besar keluarga di Hotel Mulia Jakarta tiba pekan depan."
Arga mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam ke arah kepala keamanan dengan amarah yang membara di dalam dadanya. "Kalian tidak punya hak untuk menahan saya! Ini tindakan penculikan dan perampasan kebebasan pribadi!"
"Kami hanya menjalankan perintah atasan, Tuan Muda," balas Pak Yuda tenang namun tegas, memberi isyarat kepada para penjaga untuk menutup kembali gerbang besi rapat-rapat. "Silakan kembali ke dalam paviliun. Segala kebutuhan makanan dan keperluan harian Anda akan diantarkan langsung ke kamar."
Dengan langkah berat penuh kemarahan, Arga terpaksa memutar balik tubuhnya berjalan kembali ke arah paviliun belakang. Pintu paviliun dikunci dari luar oleh para penjaga, dan dua orang pengawal ditempatkan tepat di bawah koridor jendela kamarnya untuk memastikan tidak ada celah bagi Arga untuk melarikan diri.
Malam harinya, suasana di dalam kamar paviliun terasa sangat menyesakkan. Arga berdiri kaku di balik kaca jendela kamarnya yang berjeruji besi tipis, menatap lurus ke arah langit malam Jakarta yang dihiasi kerlip bintang di kejauhan. Di dalam keheningan pekat itu, pikiran Arga menerobos jarak ribuan kilometer kembali ke Surabaya—membayangkan sosok Kirana yang mungkin sedang duduk sendiri di meja kerjanya, menatap layar komputer sambil memikirkan kapan mereka bisa bertemu kembali. Kerinduan yang mendalam menghantam dada Arga bagaikan gelombang laut yang menghantam karang, membuat hatinya terasa ngilu dan perih luar biasa.
Di tengah rasa frustrasi dan kerinduan yang menggunung akibat pengurungan total tersebut, Arga menyadari bahwa dirinya tidak boleh tinggal diam meratapi nasib di dalam ruangan sempit ini. Ayahnya mengira bahwa dengan mengunci pintu dan menempatkan penjaga di setiap sudut, Arga akan melemah dan menyerah pada takdir perjodohan bisnis yang telah dirancang. Namun, Fardhan salah besar. Pengurungan fisik ini justru mempertajam fokus dan membentuk strategi perlawanan yang jauh lebih telak di dalam kepala Arga.
Pukul sebelas malam lewat sepuluh menit, ketika suasana di sekitar paviliun belakang mulai sunyi dan para penjaga keamanan bergeser mengganti pos jaga di gerbang depan, sebuah suara ketukan pelan terdengar dari kaca jendela kamarnya.
Tok... tok... tok.
Arga yang sedang duduk di tepi tempat tidur langsung bangkit berdiri dengan sigap. Ia melangkah cepat mendekati jendela kaca bercat putih, membuka sedikit gorden penutupnya, dan mendapati siluet bayangan seorang pria berdiri di balik teralis luar.
"Arga... ini aku, Daffa," bisik suara tertahan dari balik kaca jendela.
Mendengar nama tersebut, Arga buru-buru membuka kunci jendela geser dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara decitan yang bisa menarik perhatian pengawal. Begitu jendela terbuka selebar tiga puluh sentimeter, wajah Daffa yang tampak kelelahan namun penuh tekad muncul di balik kegelapan malam.
"Daffa! Bagaimana kamu bisa masuk ke area paviliun belakang tanpa ketahuan para penjaga utama?" bisik Arga terkejut, menarik tangan asisten setianya itu mendekat ke arah jendela.
"Lewat jalur saluran utilitas pembuangan air di bawah tembok belakang taman, Bos," jawab Daffa berbisik cepat, mengatur napasnya yang terengah-engah. "Gazhi mengalihkan perhatian dua penjaga utama di gerbang depan dengan memesan lima porsi nasi goreng porsi raksasa dan berpura-pura menjadi pengantar makanan, sementara aku menyelinap masuk lewat sisi barat."
Arga tersenyum tipis, merasa terharu sekaligus bangga dengan kenekatan dan kesetiaan luar biasa yang ditunjukkan oleh asisten pribadinya itu. "Kamu benar-benar nekat, Daf. Kalau sampai ketahuan Pak Yuda, kamu bisa diseret keluar dengan tuduhan penyusupan."
"Aku tidak peduli," balas Daffa mantap, merogoh saku jaket hitamnya. Dengan gerakan cepat, Daffa mengeluarkan sebuah gawai komunikasi darurat berukuran kecil—ponsel pintar cadangan yang tidak terdeteksi oleh sistem pelacakan korporasi—berserta kartu SIM lokal baru, lalu menyelundupkannya lewat celah teralis jendela ke tangan Arga. "Ini gawai darurat untukmu. Gazhi dan aku sengaja membelinya agar kita tetap punya jalur komunikasi di tengah pengurungan ini."
Arga menerima gawai darurat tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Benda kecil itu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan secercah harapan dan jembatan penghubung antara dirinya dengan dunia luar, serta yang paling penting, penghubung dengan Kirana di Surabaya.
"Terima kasih, Daf," bisik Arga tulus, menggenggam erat gawai tersebut di telapak tangannya. "Kalian benar-benar mempertaruhkan banyak hal demi membantuku."
"Kami tidak akan membiarkanmu dikurung dan dipatahkan begitu saja oleh ayahmu, Arga," ucap Daffa dengan sorot mata serius di balik temaram cahaya malam. "Lalu, apa rencana selanjutnya? Apakah kita harus menyusun pelarikan malam ini juga sebelum penjagaan semakin diperketat?"