Sinar matahari sore menembus celah-celah tirai kayu ruang keluarga kediaman keluarga Zhafran di Surabaya, memantulkan bayangan garis-garis emas di atas lantai marmer yang bersih. Suasana di dalam rumah terasa begitu tenang, namun menyimpan ketegangan yang amat pekat di udara. Di atas sofa kulit bergaya klasik berwarna cokelat tua, Pak Zhafran duduk dengan punggung tegak, memegang sehelai dokumen resmi berlogo korporasi Fardiansyah Corp yang baru saja tiba melalui kurir ekspres khusus dari Jakarta. Di sampingnya, Ibu Ghoniyah duduk mendampingi sambil melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menatap cemas ke arah pintu masuk ruang makan tempat anak gadis mereka sedang menyiapkan teh sore.
"Surat resmi dari Jakarta sudah tiba pagi tadi, Bu," ucap Pak Zhafran dengan suara bariton yang berat, memecah keheningan sore itu. Ia meletakkan amplop tebal tersebut di atas meja kopi kayu jati di hadapannya. "Pihak keluarga Fardiansyah, melalui dewan komisaris utama, telah menetapkan jadwal resmi untuk jamuan makan malam akbar dan pertemuan keluarga besar di Hotel Mulia Jakarta pekan depan."
Ibu Ghoniyah menghela napas panjang, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Pekan depan? Begitu cepat, Pak? Bagaimana dengan Kirana? Anak itu bahkan belum tahu menahu mengenai surat undangan resmi dari Jakarta ini. Kita tahu sendiri bagaimana kerasnya penolakan Kirana terhadap perjodohan bisnis ini sejak awal ia kembali dari proyek lapangan."
Pak Zhafran mengangguk pelan, mengusap pelipisnya yang mulai ditumbuhi uban. Sebagai seorang ayah sekaligus mitra bisnis lama Fardhan Fardiansyah, ia berada di posisi yang sangat dilematis. Di satu sisi, ia sangat menghormati hubungan persahabatan bisnis yang telah terjalin selama puluhan tahun dengan keluarga Fardiansyah; namun di sisi lain, sebagai ayah kandung, ia tidak sanggup melihat putri bungsunya harus tersiksa di dalam ikatan pernikahan transaksional yang tidak berdasarkan cinta.
"Kita tidak bisa terus-menerus menunda pembicaraan ini, Bu," kata Pak Zhafran serius, menoleh ke arah istrinya. "Pihak Jakarta mendesak kepastian sikap dari keluarga kita. Terutama setelah kabar simpang siur mengenai Arga yang dikabarkan berseteru dengan ayahnya sendiri akibat memilih jalan hidupnya di Surabaya."
Tepat pada saat itu, langkah kaki ringan terdengar mendekati ruang keluarga. Kirana Zhafran muncul dari arah dapur dengan membawa sebuah nampan kecil berisi tiga cangkir teh hangat dan sepiring kue lapis legit buatan rumah. Gadis berbalut blouse sederhana berwarna biru muda itu tersenyum manis, berusaha menyembunyikan kelelahan fisik dan mental setelah seharian berkutat dengan laporan audit proyek konstruksi di kantor cabang Surabaya.
"Maaf menunggu lama, Abah, Umi," sapa Kirana lembut, meletakkan nampan di atas meja kopi di hadapan kedua orang tuanya. Ia langsung menyadari ada ketegangan yang tidak biasa di wajah ayah dan ibunya. Sorot mata mereka menatap ke arah amplop tebal berlogo korporasi yang terhampar di atas meja. "Ada apa, Abah? Sepertinya ada dokumen penting dari Jakarta yang datang hari ini."
Kirana menarik sebuah kursi tunggal bergeser mendekati meja, lalu duduk dengan postur tubuh yang anggun namun waspada. Ia menatap bergantian ke arah Pak Zhafran dan Ibu Ghoniyah.
"Dokumen itu adalah undangan resmi dari keluarga besar Fardiansyah Corp di Jakarta, Nak," buka Pak Zhafran dengan nada suara yang sangat hati-hati, mencoba menyusun kalimat agar tidak mengejutkan putri kesayangannya secara berlebihan. "Pihak sana telah menetapkan jadwal pelaksanaan jamuan makan malam keluarga besar dan peresmian agenda perjodohan kita di Hotel Mulia Jakarta pada minggu depan."
Mendengar kata 'perjodohan' dan 'Hotel Mulia Jakarta', senyuman di wajah Kirana lenyap seketika. Jantungnya berdegup kencang, dan darahnya mendadak berdesir hebat. Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, menahan gejolak emosi yang langsung membuncah di dalam dadanya.
"Abah..." suara Kirana terdengar bergetar halus namun penuh ketegasan. "Kirana sudah bilang berkali-kali sejak hari pertama kita membicarakan hal ini. Kirana tidak akan pernah mau menghadiri acara perjodohan konyol itu. Kirana tidak mau menikah atas dasar kontrak bisnis dan ambisi kekuasaan keluarga lain!"
Ibu Ghoniyah langsung mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Kirana yang dingin dengan penuh kelembutan keibuan. "Dengarkan Abah dan Umi dulu, Kirana sayang. Kami tidak sedang memaksa kehendakmu. Tapi surat resmi ini datang langsung dari pimpinan tertinggi Fardiansyah Corp, dan situasinya di Jakarta sana sedang sangat rumit."
"Rumit bagaimana, Umi?" potong Kirana cepat, menatap lurus ke mata ibunya dengan sorot mata yang menyala-nyala. "Apa lagi yang mereka lakukan di Jakarta? Apakah mereka mencoba menekan Arga lagi seperti yang mereka lakukan selama ini?"
Pak Zhafran mengangguk perlahan, membenarkan dugaan putrinya. "Informasi yang kami terima dari jaringan mitra bisnis di ibu kota menyebutkan bahwa Arga baru saja berseteru hebat dengan ayahnya sendiri, Fardhan Fardiansyah. Arga bahkan dikabarkan rela mencopot seluruh hak waris, fasilitas mewah, dan keluar dari daftar aset korporasi demi mempertahankan prinsip hidupnya... dan demi melindungi seseorang di Surabaya."
Mendengar nama Arga disebut dalam konteks pertikaian hebat dengan sang ayah demi dirinya, pertahanan emosional Kirana nyaris runtuh seketika. Air mata hangat mendesak naik ke pelupuk matanya, namun ia menahannya kuat-kuat dengan menggigit bibir bawahnya. Di dalam hatinya, rasa cinta, khawatir, dan kekaguman yang luar biasa besar kepada Arga bergejolak menjadi satu.
"Arga melakukan itu semua demi aku..." bisik Kirana lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan ruang keluarga. "Dan sekarang keluarga mereka ingin memaksa kita datang ke Jakarta untuk meresmikan sandiwara perjodohan ini di atas penderitaan Arga?"
"Tentu saja tidak semudah itu, Kirana," sambung Pak Zhafran dengan suara tegas berwibawa, menunjukkan wibawa seorang kepala keluarga yang tidak akan tinggal diam melihat putrinya dipermainkan. "Abah tidak pernah berniat menjual kebahagiaanmu demi kontrak bisnis korporasi apa pun. Namun, surat undangan ini memberi kita kesempatan emas untuk datang langsung ke Jakarta dan menyelesaikan semuanya secara terbuka di hadapan dewan komisaris Fardiansyah Corp."
Kirana mengerutkan keningnya, menatap lekat-lekat ke arah sang ayah. "Menyelesaikan semuanya secara terbuka, Abah? Maksud Abah... kita harus pergi ke Jakarta?"
"Ya," jawab Pak Zhafran mantap, mengetukkan jarinya pelan di atas meja kopi. "Sebagai mitra bisnis lama, keluarga kita memiliki hak moral untuk hadir dalam pertemuan besar tersebut. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di Surabaya dan membiarkan Fardhan Fardiansyah bertindak sewenang-wenang menentukan masa depan hidupmu. Kita akan berangkat ke Jakarta pekan depan, menghadiri jamuan makan malam di Hotel Mulia, dan di sanalah... di hadapan seluruh petinggi korporasi dan keluarga besar mereka, kita akan menyatakan penolakan resmi secara terhormat."
Ibu Ghoniyah mengangguk menyetujui rencana suaminya, meskipun raut wajahnya tetap menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Umi rasa itu adalah langkah yang paling bijaksana, Nak. Daripada kita terus diteror oleh ketidakpastian surat-surat ancaman dari Jakarta, lebih baik kita datang dengan kepala tegak dan menunjukkan bahwa keluarga kita tidak bisa diinjak-injak begitu saja."
Kirana terdiam seribu bahasa. Pikirannya melayang jauh menembus jarak ratusan kilometer antara Surabaya dan Jakarta. Ia tahu bahwa mendatangi sarang singa di Hotel Mulia Jakarta berarti menghadapi kemarahan langsung dari Fardhan Fardiansyah—seorang konglomerat kejam yang terkenal tidak memiliki belas kasihan kepada siapapun yang menentang kekuasaannya. Namun, di sisi lain, gagasan untuk pergi ke Jakarta juga berarti memberikan kesempatan baginya untuk bertemu kembali dengan Arga setelah berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan tembok pengurungan.