Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #94

Pengakuan Jujur di Hadapan Ayah

Suara dengung bisik-bisik dari ratusan pasang mata yang memadati Ballroom Utama Hotel Mulia Jakarta mendadak mereda menjadi kesunyian yang mencekam. Lampu sorot utama panggung bergeser tajam, menyinari sosok Arga yang berdiri tegak di samping Kirana dengan rangkulan tangan yang hangat di bahu wanita itu. Di hadapan mereka berdua, Fardhan Fardiansyah tampak berdiri kaku, rahangnya mengetat keras menahan amarah yang hampir meledak akibat pembangkangan terbuka yang dilakukan oleh darah dagingnya sendiri di tengah jamuan makan malam elit korporasi nasional.

"Arga!" suara Fardhan bergetar berat, memecah kesunyian ruangan dengan nada penuh ancaman terselubung. "Berani sekali kamu melanggar perintah pengurungan di rumah dan datang ke tempat ini hanya untuk membuat kekacauan di hadapan para mitra bisnis kita!"

Arga tidak sedikit pun menunjukkan gentar. Ia melangkah maju setengah langkah untuk melindungi Kirana yang berada tepat di sisi kanannya, menatap lurus ke mata sang ayah tanpa ada keraguan sedikit pun di sorot matanya. "Aku tidak sedang membuat kekacauan, Ayah. Aku hanya datang untuk menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan sejak awal: menghentikan sandiwara perjodohan paksa ini secara langsung di hadapan publik."

Pak Zhafran, yang duduk di kursi kehormatan bersama istrinya, menarik napas dalam-dalam. Sorot matanya menatap tajam ke arah Arga dan putrinya bergantian. Sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi Kirana, Pak Zhafran tidak pernah menduga bahwa situasi rumit ini akan berujung pada konfrontasi publik yang sangat dramatis. Ia tahu betul betapa keras kepala putrinya, namun melihat bagaimana Arga rela melepaskan seluruh hak waris dan mendobrak pintu pengurungan demi berdiri di sisi Kirana, membuat hati nurani sang pengusaha senior itu bergetar hebat.

"Tuan Fardhan," suara Pak Zhafran akhirnya memecah ketegangan, bernada tenang namun penuh wibawa seorang kepala keluarga Zhafran. Ia berdiri dari tempat duduknya, merapikan jas formal yang dikenakannya lalu melangkah mendekati meja utama. "Sebaiknya kita tidak memperpanjang ketegangan ini di hadapan para tamu undangan yang terhormat. Putri saya, Kirana, sudah menyampaikan sikapnya dengan sangat jelas. Dan tampaknya, Tuan Muda Arga memiliki pendirian yang sama."

Fardhan menoleh tajam ke arah mitra bisnis lamanya itu. "Pak Zhafran! Anda tidak bisa begitu saja membiarkan anak-anak ini mempermainkan rencana besar yang telah kita susun selama bertahun-tahun demi masa depan korporasi!"

"Masa depan korporasi tidak bisa dibangun di atas penderitaan dan penindasan perasaan anak-anak kita, Fardhan," jawab Pak Zhafran dengan suara dingin yang mematikan argumen sang konglomerat senior. Ia kemudian mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Kirana, putri bungsunya yang berdiri tegak dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketegasan. "Kirana... kemarilah, Nak. Berbicaralah pada Abah. Apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu?"

Suasana di dalam ballroom mendadak semakin hening. Ratusan tamu undangan menahan napas, menantikan kata-kata apa yang akan diucapkan oleh gadis asal Surabaya tersebut di hadapan ayah kandungnya sendiri.

Kirana melepaskan diri secara perlahan dari rangkulan Arga, melangkah maju dua langkah mendekati sang ayah yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik namun sarat akan kasih sayang seorang orang tua. Ibu Ghoniyah turut berdiri dari kursinya, menyusul suaminya dan memegang tangan Kirana dengan lembut untuk memberikan ketenangan batin.

"Abah... Umi..." suara Kirana bergetar halus, namun perlahan-lahan mendapatkan kekuatan penuh seiring ia menarik napas panjang. Ia menatap lurus ke dalam mata Pak Zhafran tanpa ada sedikit pun rasa takut untuk menyembunyikan kebenaran. "Selama ini, Kirana selalu berusaha menjadi anak yang patuh, menjalankan tugas profesional di perusahaan keluarga dengan dedikasi penuh, dan menghormati setiap keputusan bisnis yang Abah ambil demi kebaikan bersama."

Pak Zhafran mengangguk pelan, mengusap bahu putrinya dengan penuh kelembutan. "Abah tahu kamu selalu menjadi anak yang membanggakan, Kirana."

"Tetapi untuk urusan hati dan masa depan hidup Kirana sendiri... Kirana tidak bisa membiarkan diri Kirana diperjualbelikan sebagai alat tukar dalam kontrak korporasi antara dua keluarga besar," ucap Kirana dengan suara lantang yang menggema ke setiap sudut ruangan ballroom. Ia menoleh sekilas ke arah Arga, lalu kembali menatap ayahnya dengan sorot mata yang dipenuhi ketulusan yang mendalam. "Dan alasan terbesar kenapa Kirana menolak perjodohan ini bukan semata-mata karena Kirana membenci perusahaan Fardiansyah Corp... melainkan karena hati Kirana sudah memilih."

Mendengar kata-kata tersebut, alis Fardhan Fardiansyah terangkat tinggi, sementara Pak Zhafran mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Memilih? Apa maksudmu, Nak?" tanya Pak Zhafran dengan nada penasaran bercampur cemas.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dadanya untuk membuat pengakuan paling jujur di hadapan ayah kandungnya dan di hadapan seluruh petinggi korporasi ibu kota.

"Selama berbulan-bulan kami bekerja bersama di lapangan proyek Surabaya dalam kesunyian dan penyamaran... Kirana tidak mengenal Arga sebagai seorang pewaris takhta korporasi yang angkuh dan sombong," ungkap Kirana dengan suara bergetar penuh emosi. "Kirana mengenal Rian—pria yang turun langsung mengawasi semen dan besi di bawah terik matahari, pria yang melindungi timnya dari kecurangan, dan pria yang rela kehilangan seluruh kekayaan serta fasilitas keluarganya demi mempertahankan prinsip kebenaran."

Air mata hangat akhirnya menetes di pipi Kirana, namun senyuman tipis menghiasi bibirnya. "Di situlah... di tengah kerasnya debu proyek dan kesederhanaan hidup di Surabaya, Kirana jatuh cinta kepada Arga. Bukan sebagai pewaris Fardiansyah Corp, tetapi sebagai pria sejati yang telah mencuri seluruh hati Kirana."

Pengakuan jujur dan terbuka yang meluncur dari bibir Kirana di hadapan ratusan tamu undangan itu berhasil menciptakan gelombang keterkejutan yang luar biasa besar di dalam ballroom Hotel Mulia. Beberapa tamu wanita tampak terharu menutup mulut mereka dengan tangan, sementara para eksekutif senior berbisik-bisik membicarakan keberanian gadis muda tersebut yang berani mendeklarasikan cinta sejatinya di tengah pusaran konflik bisnis keluarga konglomerat.

Fardhan Fardiansyah mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya memerah padam menahan rasa malu dan amarah yang meluap-luap. "Cinta? Omong kosong apa ini?! Kalian berdua benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Hubungan percintaan murahan seperti itu tidak memiliki nilai apa pun di hadapan lembar saham dan perjanjian strategis korporasi nasional!" bentak Fardhan dengan suara menggelegar yang memecah keheningan ruangan.

Arga langsung melangkah maju ke depan Kirana, menatap tajam kepada sang ayah tanpa membiarkan bentakan itu melukai wanita yang dicintainya. "Bagi Ayah, segalanya mungkin hanya dinilai dari angka, saham, dan kekuasaan! Tapi bagiku dan Kirana, ketulusan dan kejujuran perasaan adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan Fardhan Group!" sergah Arga dengan suara bariton yang sama sekali tidak kalah tegas dan berwibawa.

Pak Zhafran terdiam seribu bahasa. Ia memandang putrinya lekat-lekat, melihat kilatan ketulusan yang begitu murni di mata Kirana. Sebagai seorang ayah yang bijaksana, Pak Zhafran menyadari bahwa uang sebanyak apa pun di dunia tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati putrinya jika ia dipaksa menikah tanpa cinta. Kemarahan Fardhan tidak lagi menjadi hal yang ditakutkan oleh Pak Zhafran; yang ia pedulikan saat ini adalah keselamatan dan masa depan kebahagiaan anak bungsunya.

"Fardhan," ucap Pak Zhafran dengan suara rendah namun sangat menusuk kesadaran sang konglomerat senior. Ia melangkah maju mensejajarkan diri dengan Arga dan Kirana. "Selama puluhan tahun kita bersahabat dan membangun relasi bisnis bersama, aku selalu mengira kamu adalah seorang pemimpin yang memahami arti sebuah keluarga. Tapi malam ini, aku melihat sendiri bagaimana ambisimu telah membutakan nuranimu sebagai seorang ayah."

Lihat selengkapnya