
Suara deburan angin malam yang berembus pelan di luar jendela kamar tidur Kirana terdengar begitu sayup, seolah ikut meresapi keheningan yang menyelimuti seluruh sudut ruangan. Jam dinding antik berukir kayu jati di sudut kamar menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit dini hari. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh temaram lampu tidur berwarna kuning keemasan itu, Kirana duduk bersimpuh di atas sehelai sajadah berbulu lembut berwarna hijau tua. Udara malam Surabaya yang sejuk merasuk ke dalam pori-pori kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak batin yang sejak beberapa hari terakhir terus mengaduk-ngaduk isi dadanya.
Kepala Kirana tertunduk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh permukaan sajadah. Isak tangis yang tertahan sejak sore tadi akhirnya pecah dalam kesunyian malam, menggetarkan bahunya yang terbalut mukena putih bersih. Air matanya menetes satu persatu, membasahi kain sajadah tempat ia bersujud pasrah. Di sepertiga malam yang sunyi ini, tidak ada lagi tempat bagi Kirana untuk mengadu selain kepada Sang Pencipta. Beban emosional yang menumpuk akibat pertentangan batin antara bakti kepada orang tua dan ketulusan cinta yang ia labuhkan pada Rian—pria yang kini ia ketahui bernama asli Arga—telah mencapai titik didih yang paling menyesakkan dada.
"Ya Allah, Zat yang Maha membolak-balikkan hati..." bisik Kirana lirih di antara sela-sela isak tangisnya yang tertahan. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan kerapuhan seorang wanita muda yang terjebak dalam dilema moral yang teramat berat. "Hamba mohon, tunjukkanlah jalan keluar-Mu. Hamba tidak ingin menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua yang telah merawat dan mendidik hamba dengan penuh kasih sayang. Namun hamba juga tidak kuasa menahan rasa cinta dan kekaguman yang Engkau tumbuh di dalam hati hamba terhadapnya."
Pergulatan batin ini bukanlah hal yang sederhana bagi Kirana. Sebagai seorang lulusan universitas Islam terkemuka yang mendalami ilmu-ilmu keislaman, ia memegang teguh prinsip bahwa rida Allah terletak pada rida orang tua. Nilai-nilai luhur yang ia serap dari bangku kuliah mengajarkan betapa agungnya kedudukan seorang ayah dan ibu dalam Islam, serta betapa besarnya dosa seorang anak yang membangkang atau mengecewakan mereka. Namun di sisi lain, ikatan hati yang terjalin antara dirinya dan Rian bukanlah ikatan main-main. Rian telah membuktikan kesetiaan, pengorbanan, dan integritas moral yang luar biasa ketika ia rela melepaskan seluruh harta warisan duniawi demi memperjuangkan prinsip hidup yang bersih dan memantaskan diri untuk meminang Kirana secara terhormat.
Kirana mengangkat kepalanya perlahan dari sajadah, duduk bertumpu pada kedua kakinya. Ia menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu meraih tas kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. Dengan jemari yang masih sedikit bergetar, ia membuka dompet kulit kecil berwarna cokelat tua miliknya. Dari dalam lipatan dompet tersebut, Kirana mengeluarkan beberapa lembar secarik kertas catatan kecil yang sudah sedikit kusut di bagian pinggirnya—kertas-kertas yang menyimpan kenangan berharga dari masa-masa awal mereka bekerja bersama di proyek Surabaya.
Di bawah cahaya temaram lampu tidur, Kirana membuka lipatan kertas catatan kecil tersebut dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah barang paling rapuh di dunia. Tulisan tangan yang tegas namun rapi terukir jelas di atas kertas tersebut—bait-bait puisi sederhana yang pernah ditulis oleh Rian di tengah kesibukan mereka mengawasi proyek konstruksi lapangan berbulan-bulan lalu.
Kirana mendekatkan kertas itu ke dadanya, lalu mulai membaca kembali barisan kalimat yang sudah dihafalnya di luar kepala:
Bait-bait puisi sederhana itu mendadak menjelma menjadi belati tajam yang menusuk perih ke dalam hatinya, sekaligus tetesan embun sejuk yang menenangkan jiwa. Rian, atau yang kini dikenal sebagai Arga Fardiansyah, adalah sosok pria yang tidak pernah pandai merangkai kata-kata manis gombalan murahan. Ia adalah pria tindakan—pria yang membuktikan perasaannya melalui keringat di bawah terik matahari, melalui perlindungan nyata saat Kirana menghadapi tekanan eksternal, dan melalui keberanian luar biasa berdiri di hadapan sang ayah kandung di Hotel Mulia Jakarta demi memutus rantai perjodohan transaksional yang mengekang mereka.
"Di mana kamu sekarang, Rian..." gumam Kirana pelan, memejamkan matanya erat-erat sambil membayangkan wajah pria itu. "Kamu sedang berjuang di Jakarta, membanting tulang membangun segalanya dari nol tanpa fasilitas keluarganya... sementara aku di sini terbelenggu oleh rasa bersalah di hadapan Abah dan Umi."
Konflik batin yang dirasakan Kirana semakin menghimpit rongga dadanya ketika ia mengingat kembali percakapannya dengan Pak Zhafran dan Ibu Ghoniyah sore tadi usai salat Ashar. Meskipun kedua orang tuanya telah memberikan restu secara lisan di hadapan publik Jakarta tempo hari, di dalam keseharian di rumah Surabaya ini, bayang-bayang kekhawatiran ibunya masih sering terlihat jelas di balik senyuman teduh Ibu Ghoniyah. Ibu Ghoniyah sempat merisaukan masa depan materiil Arga yang kini telah melepaskan seluruh hak waris korporasi raksasa Fardiansyah Corp. Sebagai seorang ibu, wajar jika ada rasa cemas melihat putrinya kelak hidup mendampingi seorang pria yang harus memulai perjuangan ekonomi dari titik nol.
Kirana sangat memahami kekhawatiran ibunya. Restu yang diberikan Abah dan Umi bukanlah berarti jalan mereka kini telah bebas dari segala duri. Restu itu lahir dari rasa kasihan dan kekaguman atas ketulusan Arga, namun di balik itu semua, tanggung jawab moral Kirana sebagai anak kandung untuk tidak mengecewakan harapan besar orang tuanya tetap menghantam nuraninya setiap detik. Ia berada di persimpangan jalan yang sangat dilematis: memilih berbakti secara mutlak dengan mengikuti apa pun keinginan orang tua, atau mempertahankan ikatan suci cinta yang dibangun di atas fondasi akidah dan perjuangan moral bersama Rian.
"Ya Allah... apakah aku telah menjadi anak yang durhaka karena mencintai seseorang yang ditentang oleh keluarganya di awal?" rintih Kirana dalam hati, memeluk erat kertas puisi berharga itu di dadanya. Air mata hangat kembali meleleh membasahi pipinya, tumpah tanpa bisa terbendung lagi di atas mukena putih yang ia kenakan.
Keheningan malam semakin larut, namun mata Kirana sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kantuk. Pikirannya terus berputar mengkaji ulang setiap lembar perjalanan hidup yang telah ia lalui bersama Rian sejak hari pertama pria itu datang ke Surabaya sebagai seorang pengawas lapangan misterius berpenampilan sederhana. Ingatan tentang bagaimana Rian membantunya mengangkat tumpukan berkas audit di kantor cabang, bagaimana pria itu berdiri melindungi keselamatan fisiknya dari preman lokal proyek, hingga bagaimana tangan kokoh Rian menggenggam jemarinya di tengah riuhnya Ballroom Hotel Mulia Jakarta berputar ulang di kepalanya bagaikan rekaman film dokumenter yang sangat jernih.
Setiap kenangan itu memperkuat keyakinan hatinya bahwa Rian bukan sekadar persinggahan sesaat dalam hidupnya. Pria itu adalah belahan jiwa yang telah Allah takdirkan untuk menguji kesabaran, keimanan, dan ketulusan cintanya. Namun, ujian itu terasa begitu berat ketika Kirana mengingat ajaran-ajaran agama yang ia pelajari di bangku kuliah Al-Azhar—bahwa rida orang tua adalah syarat mutlak untuk mendapatkan keberkahan dalam berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan akan mendatangkan sakinah, mawaddah, dan rahmah jika ia harus melangkah di atas rasa cemas dan kekhawatiran di wajah ibunya?