Suasana pagi hari di kediaman keluarga besar Zhafran di Surabaya terasa begitu tenang dan syahdu. Sinar matahari pagi merangsek perlahan melalui celah-celah gorden jendela kamar tidur Kirana, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permadani lantai yang bersih. Udara sejuk sisa embun pagi masih terasa menyelimuti ruangan bernuansa putih pastel tersebut, berpadu harmonis dengan aroma wangi uap teh chamomile hangat yang baru saja diseduh.
Di atas tempat tidur berukuran queen size, Kirana masih duduk bersila mengenakan mukena berwarna putih bersih setelah ia menunaikan salat dhuha di sepertiga pagi ini. Wajahnya tampak begitu lelah dan menyiratkan beban batin yang teramat berat. Matanya terlihat sedikit sembab akibat malam-malam panjang yang dihabiskannya untuk merenungkan kepergian Rian ke Jakarta, sekaligus menghadapi tekanan psikologis dari rencana perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh dewan komisaris dan ayahnya. Hatinya terasa tercabik-cabik antara rasa patuh kepada orang tua dan kerinduan mendalam terhadap sang buruh logistik yang kini entah di mana keberadaannya.
Pintu kamar berukuran sedang itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun. Ibu Ghoniyah, wanita paruh baya dengan keanggunan khas seorang ibu yang mengenakan gamis abu-abu muda dan kerudung senada, melangkah masuk dengan hati-hati. Di tangan kanannya, beliau membawa sebuah nampan kecil beralaskan serbet kain putih yang menopang secangkir teh hangat serta sepiring kue kering tradisional buatan rumah. Ibu Ghoniyah menatap iba ke arah putrinya yang tampak rapuh dari balik ambang pintu kamar.
Ibu Ghoniyah berjalan mendekati tepi ranjang tidur Kirana, lalu meletakkan nampan teh hangat tersebut di atas nakas kayu di sebelah tempat tidur. Tanpa banyak bicara, beliau duduk perlahan di sisi ranjang, merapatkan posisi tubuhnya ke dekat Kirana. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu, tangan beliau yang terasa hangat terulur untuk mengelus puncak kepala Kirana yang masih tertutup kain mukena putih.
Kirana merasakan sentuhan lembut penuh keibuan itu menyentuh sekujur saraf ketegangannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk matanya seketika tumpah membasahi pipinya. Ia menengadahkan wajahnya, menatap lurus ke dalam bola mata ibunya yang memancarkan keteduhan dan empati yang sangat mendalam.
"Ibu..." bisik Kirana tertahan, suaranya parau menahan isak tangis yang mulai membuncah di tenggorokannya. "Kirana lelah... Kirana merasa seperti terjebak di dalam sangkar emas yang sengaja dibangun oleh ambisi korporasi."
Ibu Ghoniyah tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kesabaran yang selalu mampu meredakan badai kemarahan di dalam rumah tangga mereka. Beliau menyapu lembut air mata di pipi putrinya menggunakan ujung jemarinya yang lembut.
"Sssst... tenanglah, anakku," ucap Ibu Ghoniyah dengan suara lembut dan menenangkan, merengkuh bahu Kirana agar bersandar di dadanya. "Ibu datang ke sini bukan untuk memaksa kehendakmu, Kirana. Ibu ke sini ingin mendengarkan isi hatimu... mari kita bicarakan semuanya dari hati ke hati sebagai seorang ibu dan anak."
°˖✧✿✧˖°
Kirana membenamkan wajahnya sejenak di pelukan sang ibu, meluapkan segala sesak dan ketakutan yang menghimpit dadanya selama berminggu-minggu menghadapi intrik dewan komisaris dan perjodohan paksa dengan keluarga Hartono. Setelah beberapa saat, ia menegakkan kembali tubuhnya, merapikan letak mukenanya, lalu menatap lekat-lekat wajah ibunya dengan sorot mata penuh permohonan agar ibunya mau memahami isi hatinya yang sesungguhnya.
"Ibu tahu betul betapa berat beban yang harus Kirana pikul di proyek Grand Syariah Residence," lanjut Ibu Ghoniyah memulai pembicaraan dengan nada suara yang sangat terukur dan bijaksana. Beliau meraih cangkir teh hangat dari nakas lalu menyerahkannya kepada Kirana. "Minumlah sedikit teh hangat ini agar dadamu lebih longgar, Kirana. Ibu ingin kamu mendengarkan penjelasan dari sudut pandang seorang ibu."
Kirana menerima cangkir teh tersebut dengan tangan sedikit gemetar, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia mengangguk pelan, mempersilakan ibunya melanjutkan kalimat.
"Ayahmu tidak bermaksud kejam atau ingin menghancurkan masa depanmu dengan perjodohan ini, anakku," tutur Ibu Ghoniyah dengan suara yang sarat akan pengalaman hidup. "Kami hanya ingin memastikan bahwa masa depanmu berada di tangan pria yang tepat, dari kalangan yang sepadan, yang mampu melindungi dan menjamin kestabilan posisi keluarga kita di tengah bursa saham Jakarta. Pemuda dari keluarga Fardhan di Jakarta itu... kabarnya adalah anak yang sangat berbakti, cerdas, dan memegang kendali penuh atas perusahaan besar."
Kirana mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut ibunya dengan seksama. Hatinya bergemuruh hebat, bukan karena tergiur dengan nama besar keluarga Fardhan, melainkan karena ia menyadari betapa jauh jurang perbedaan antara realitas dunia bisnis yang diidamkan ayahnya dengan realitas ketulusan hati yang ia temukan di lapangan bersama Rian.
"Apakah bagi Ayah dan dewan komisaris, kebahagiaan Kirana hanya bisa dinilai dari seberapa besar saham yang bisa digabungkan melalui pernikahan ini, Bu?" tanya Kirana dengan nada suara yang mulai bergetar, mencerminkan kekecewaan yang mendalam terhadap pola pikir kaum elit korporasi.
Ibu Ghoniyah menghela napas panjang, menatap cangkir teh di tangannya sebelum kembali memandang manik mata putrinya. "Dunia bisnis memang terkadang kejam dan tidak memiliki ruang bagi perasaan, Kirana. Namun di balik itu semua, ibumu ini tetaplah seorang perempuan yang ingin melihat anaknya hidup dalam ketenangan lahir dan batin."
°˖✧✿✧˖°
Mendengar kata-kata ibunya yang menyebut nama keluarga Fardhan dan standar kalangan elit korporasi, Kirana menggelengkan kepalanya perlahan. Rasa tidak terima dan ketidakadilan atas standar sosial tersebut bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia meletakkan kembali cangkir teh di tangannya ke atas nakas dengan gerakan pelan namun tegas.