Sinar matahari pagi yang hangat menyinari halaman luas kediaman keluarga besar Zhafran di kawasan elit Surabaya. Suasana di dalam rumah tersebut terasa agak kontras dengan keindahan pagi di luar, terutama di dalam kamar tidur utama Kirana. Sejak pagi buta, gadis berkerudung abu-abu itu memilih untuk tidak berangkat ke kantor proyek Grand Syariah Residence. Keputusan Kirana untuk mengambil cuti darurat ini langsung memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan rekan-rekan terdekatnya, terutama bagi dua sahabat setianya yang paling peka terhadap perubahan suasana hati Kirana.
Tepat pukul sembilan pagi, bel pintu depan kediaman Zhafran berbunyi nyaring. Ibu Ghoniyah yang membukakan pintu menyambut kedatangan Zhafira dan Gamila dengan senyuman tipis yang menyiratkan kelegaan. Tanpa perlu menunggu waktu lama, kedua gadis berhijab itu langsung melangkah masuk menuju lantai atas tempat kamar Kirana berada. Di tangan Gamila, terdapat sebuah kantong kertas berisi makanan penutup kesukaan Kirana, sementara Zhafira membawa sekotak buah segar dengan ekspresi wajah yang tampak sangat khawatir.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai atas dengan langkah tergesa-gesa. Begitu pintu kamar diketuk pelan dan dibuka oleh Ibu Ghoniyah yang keluar memberikan ruang, Zhafira dan Gamila langsung mendapati Kirana sedang duduk termenung di dekat jendela kamar. Wajah Kirana tampak begitu layu, memancarkan sisa-sisa kelelahan mental setelah berhari-hari menghadapi tekanan perjodohan bisnis dari dewan komisaris serta kepergian Rian yang mendadak ke Jakarta. Tanpa banyak bicara, Gamila dan Zhafira langsung meletakkan bawaan mereka di atas meja rias, lalu menghampiri tempat duduk sahabat karib mereka itu dengan penuh rasa empati.
"Kirana... ya ampun, kamu benar-benar tidak masuk kantor hari ini?" sapa Zhafira dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran yang teramat sangat. Ia langsung menarik sebuah kursi kecil, duduk tepat di hadapan Kirana, lalu menggenggam kedua jemari sahabatnya yang terasa dingin. "Ibu tadi bilang kamu mengurung diri di kamar sejak semalam. Ada apa lagi? Apakah dewan komisaris pusat kembali membuat ulah setelah kasus penggelapan kemarin?"
Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, mengangkat wajahnya yang tampak pucat, lalu menatap sayu ke arah kedua sahabat setianya itu. Bibirnya tersenyum tipis, sebuah senyuman lemah yang justru membuat hati Zhafira dan Gamila semakin merasa iba.
"Bukan masalah dewan komisaris atau kasus penggelapan kantor lagi, Zhafira, Gamila," jawab Kirana dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Ia menarik napas panjang untuk menstabilkan debar di dadanya. "Ayah dan dewan komisaris... mereka semakin mendesakku untuk segera menerima jadwal pertemuan resmi dengan keluarga besar Hartono di Jakarta minggu depan. Mereka ingin mempercepat acara pertunangan bisnis itu."
Mendengar nama keluarga Hartono disebut, ekspresi wajah Gamila seketika berubah menjadi geram. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, lalu mendengus kesal. "Astaghfirullahal'azim! Padahal keterlibatan oknum mereka di proyek kemarin sudah jelas-jelas mencoreng nama baik perusahaan. Kenapa Ayahmu masih saja berniat menjodohkanmu dengan keluarga licik seperti itu?"
°˖✧✿✧˖°
Zhafira mengusap lembut punggung tangan Kirana untuk menyalurkan kekuatan moral yang sangat dibutuhkan oleh sahabatnya itu. Sejak ia mendengar cerita dari Gazhi tempo hari mengenai perjuangan luar biasa Rian di balik layar proyek, rasa hormat Zhafira kepada sang buruh logistik telah berubah menjadi dukungan penuh yang membaja. Ia tidak rela jika sahabat baiknya harus menjadi korban dari ambisi politik bisnis para petinggi korporasi.
"Kirana, dengarkan aku," ucap Zhafira dengan nada suara yang sangat tegas dan penuh penekanan. "Kalau memang Mas Rian itu pergi ke Jakarta untuk memperjuangkan sesuatu dan membuktikan keseriusannya, kamu harus tegar menghadapi tekanan ini. Kita semua tahu pria itu tidak main-main dalam melindungimu."
Kirana menundukkan pandangannya, menatap pangkuannya sendiri dengan perasaan yang semakin berkecamuk hebat. "Tapi aku tidak tahu apa yang sedang dia usahakan di Jakarta sekarang, Zhafira. Dia pamit dengan alasan urusan keluarga yang mendesak... tanpa memberikan kepastian kapan dia akan kembali ke Surabaya."
Gamila ikut merapatkan duduknya di sisi kanan Kirana, menatap lurus ke dalam bola mata sahabatnya dengan sorot mata penuh keyakinan yang membara. "Justru karena ketidakpastian itulah kamu tidak boleh menyerah begitu saja, Kirana. Kamu harus ingat, Rian sudah mempertaruhkan segalanya untuk membersihkan namamu. Sekarang giliranmu untuk menunjukkan keteguhan hatimu."
Kirana mengangkat wajahnya, menatap bergantian ke arah Zhafira dan Gamila. Ada setitik cahaya terang yang mulai menembus awan mendung di dalam hatinya. "Tapi apa yang bisa kulakukan di hadapan Ayah dan dewan komisaris pusat? Mereka memegang kendali penuh atas struktur operasional perusahaan."
"Kendalikan takdirmu sendiri, Kirana," potong Zhafira dengan suara penuh keyakinan. "Jangan biarkan mereka memperlakukanmu seperti boneka porselen yang bisa dipindahkan ke tangan siapa saja demi kepentingan saham."
°˖✧✿✧˖°
"Menunjukkan keteguhan bagaimana maksudmu, Gamila?" tanya Kirana dengan kening berkerut, menatap sahabatnya dengan penuh rasa ingin tahu di balik kabut kesedihannya.
Gamila menarik napas dalam-dalam, lalu menyusun kalimatnya dengan sangat terstruktur. "Ikuti saja dulu semua agenda pertemuan resmi yang diatur oleh Ayahmu di Jakarta minggu depan. Jangan langsung menolak mentah-mentah di depan dewan komisaris Surabaya sebelum kamu berangkat ke sana."