Langit Surabaya sore itu mendung gantung, memantulkan warna kelabu pekat di atas kubangan air sisa hujan di area proyek pembangunan gedung baru. Kirana berdiri terpaku di dekat pos logistik yang sepi. Angin berhembus kencang, membawa debu halus dan aroma khas semen basah yang menusuk hidung. Di tangan kanannya, ponsel pintar berukuran sedang itu tergenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Layar benda pipih tersebut menyala redup, menampilkan satu nama yang kini berubah wujud menjadi hantu maya: Rian.
Sudah lima hari penuh tidak ada satu pun kabar dari pria itu. Lima hari yang terasa seperti ribuan tahun bagi batin Kirana yang kian terkoyak oleh sunyi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Suara operator seluler yang datar dan berulang itu berdering di telinganya, meskipun sebenarnya ia sedang tidak memutar panggilan detik ini. Suara itu berputar otomatis di dalam kepalanya, menghantui setiap detik kesendiriannya. Kirana menghela napas panjang, mencoba menepis rasa sesak yang kian menghimpit rongga dadanya.
"Rian... di mana kamu sebenarnya?" gumam Kirana pelan, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam di tengah deru angin sore dan suara bising mesin derek dari kejauhan.
Ia kembali menatap layar ponsel, membuka aplikasi pesan singkat. Jari telunjuknya yang gemetar mengetik sebuah kalimat sederhana, sebuah rutinitas yang ia lakukan sejak tiga hari lalu: Arga, kamu baik-baik saja? Kabari aku kalau pesan ini masuk. Aku khawatir.
Ia menekan tombol kirim. Tanda centang satu berwarna abu-abu muncul di sebelah pesan tersebut. Tidak ada perubahan. Pesan itu tidak pernah terkirim ke server tujuan. Ponsel Rian benar-benar mati, atau lebih tepatnya, disengaja untuk dibungkam.
°˖✧✿✧˖°
Ingatan Kirana melayang mundur ke beberapa hari sebelum kepergian Rian. Pria itu—yang selama ini ia kenal dengan nama Arga—telah berdiri di hadapannya dengan senyum tipis yang menyembunyikan sejuta beban berat. Saat itu, Arga sempat menyerahkan sebuah nomor ponsel baru.
"Simpan nomor ini, Kirana. Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu butuh aku, hubungi nomor ini," ucap Arga kala itu dengan tatapan mata yang begitu dalam, seolah menyiratkan perpisahan yang panjang.
Kirana mengingat bagaimana jemari hangat Arga sempat menyentuh punggung tangannya, memberikan ketenangan yang seketika melenyapkan rasa lelah setelah seharian bekerja di lapangan. Arga adalah tempatnya pulang di tengah hiruk-pikuk dunia konstruksi yang keras dan penuh intrik. Pria itu tidak pernah mengeluh meski harus turun tangan mengangkat material berat, berdiri di bawah terik matahari, atau bahkan melindunginya dari kemarahan para mandor kasar.
Namun kini, sosok tegap itu lenyap begitu saja tanpa jejak.
Kirana melangkah pelan meninggalkan pos logistik. Kakinya membimbingnya menuju sudut area proyek tempat tumpukan besi dan kantong-kantong semen tersusun rapi. Tempat di mana beberapa minggu lalu, Rian pernah berdiri tegap memegang sekop, melindungi Kirana dari jatuhnya serpihan kayu kaso yang hampir mencelakakannya.
"Kamu jangan terlalu dekat ke tepi kalau mandor lagi angkat material atas," suara bariton Rian terngiang jelas di telinganya.
Kirana berhenti tepat di samping tumpukan besi ulir. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan besi yang dingin dan berkarat. Sentuhan itu terasa kontras dengan kehangatan genggaman Rian di masa lalu. Rindu dan cemas kini bercampur menjadi satu, mengaduk-aduk perutnya dan menciptakan rasa mual yang menyiksa batin.
"Kenapa sesulit ini, Arga?" bisik Kirana pada angin.
Di tempat lain, ribuan kilometer jauhnya di sebuah rumah mewah berarsitektur klasik di kawasan Menteng, Jakarta, kenyataan pahit sedang mengepung Rian—atau yang bernama asli Arga Danendra. Pria itu mondar-mandir di dalam kamar tidurnya yang luas namun terasa seperti penjara. Pintu kayu jati berukuran besar itu terkunci dari luar. Dua orang penjaga berbadan tegap berdiri berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada celah bagi pewaris tunggal keluarga Danendra itu untuk melarikan diri.
Ponsel milik Arga tergeletak di atas meja rias, dalam kondisi baterai yang sengaja dilepas atas perintah sang ayah, Pak Fardhan.
"Kamu sudah melangkah terlalu jauh, Arga," suara dingin Pak Fardhan saat menyekapnya di rumah itu kembali terngiang. "Kembali ke Surabaya dan mengejar wanita dari kalangan biasa itu hanya akan menghancurkan masa depan perusahaan keluarga kita. Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar dari rumah ini sampai pertunanganmu dengan Jessica diumumkan."
Arga mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Kemarahan dan rasa frustrasi bergolak di dalam dadanya. Ia tidak peduli pada harta, tahta, atau perjodohan bisnis yang diatur keluarganya. Yang ada di dalam kepalanya saat ini hanya satu: Kirana. Wanita itu pasti sedang kebingungan mencarinya di Surabaya. Kirana pasti menangis seorang diri, merasa dibuang oleh pria yang berjanji akan melindunginya.
°˖✧✿✧˖°
Kembali ke Surabaya, mentari perlahan tenggelam, menyisakan bias jingga dan merah keunguan di ufuk barat. Kirana masih duduk di sebuah bangku kayu panjang di dekat kantor site manager. Ia membuka kembali galeri ponselnya, mencari-cari foto candid yang diam-diam ia ambil saat Rian sedang tersenyum menatap cetak biru bangunan proyek.
Wajah pria itu terlihat tenang, namun sorot matanya menyimpulkan ketulusan yang luar biasa. Kirana mengusap layar ponselnya perlahan, seolah sedang menyentuh pipi pria yang sangat dirindukannya itu.
"Oase hidupku..." gumam Kirana lirih, mengulang sebuah frasa yang sering ia ucapkan dalam hati setiap kali bayangan Rian hadir.
Kehadiran Rian di proyek itu dulunya adalah mata air di tengah padang pasir kehidupan Kirana yang kering dan penuh tekanan. Sebagai pengawas lapangan wanita di dunia konstruksi yang didominasi pria, Kirana seringkali dipandang sebelah mata, diremehkan, dan ditekan dari berbagai sisi. Namun, sejak Rian hadir—menyamar sebagai pekerja biasa demi menyelidiki proyek yang dicurigai bermasalah—Kirana merasa memiliki pelindung yang kokoh.
Kini, setelah oase itu tiba-tiba mengering dan lenyap tanpa penjelasan, Kirana merasa jiwanya mengalami keletihan yang amat sangat. Rasanya bukan lagi sekadar lelah fisik karena berdiri delapan jam di lapangan, melainkan keletihan jiwa yang merasuk hingga ke sumsum tulang belakang.
"Kirana, belum pulang?"
Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Pak Joko, kepala pengawas lapangan yang sudah paruh baya, berjalan mendekat sambil membawa gulungan kertas rencana kerja. Pria tua itu menatap Kirana dengan pandangan iba. Ia tahu betul bagaimana kedekatan antara Kirana dan pekerja baru bernama Arga dalam beberapa bulan terakhir.
"Belum, Pak Joko. Masih menunggu laporan harian dari mandor struktur," jawab Kirana cepat, berusaha menepis nada gemetar dalam suaranya. Ia segera merapikan duduknya dan menyeka sudut matanya yang sempat basah.