Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #99

Keberangkatan Menuju Jakarta

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan wujudnya di ufuk timur Surabaya, namun udara di dalam rumah keluarga Zhafran sudah dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Suara roda koper bergesekan dengan lantai keramik terdengar berulang kali, menciptakan gema kecil yang menusuk telinga Kirana. Hari yang paling ia takutkan, hari di mana jarak dan takdir seolah bersekongkol untuk memisahkan dunianya dari segala kepastian, akhirnya tiba tanpa ampun.

Kirana berdiri di ambang pintu kamarnya, menatap pantulan dirinya di cermin dinding. Hari ini ia mengenakan gaun panjang berwarna hitam pekat, dipadu dengan jilbab syar'i berwarna senada yang membungkus tubuhnya. Pakaian itu bukan sekadar busana perjalanan; itu adalah simbol duka yang nyata, cerminan dari hatinya yang sedang berkabung atas karamnya kapal cinta yang baru saja ia labuhkan bersama Arga.

"Kirana, apa semua barang bawaanmu sudah masuk ke dalam tas utama?" suara lembut Ibu Ghoniyah terdengar dari ujung koridor, memecah kesunyian batin yang melanda gadis itu.

Kirana mengerjap, menarik napas panjang untuk menstabilkan rongga dadanya yang terasa sesak. "Sudah, Bu. Semua sudah beres," jawab Kirana dengan suara parau, berusaha menyembunyikan getaran ketidakpastian yang menguasai jiwanya.

Di ruang tamu, Pak Zhafran tampak berdiri tegap dengan balutan jas formal berwarna abu-abu gelap. Wajah pria paruh baya itu menyuratkan ketegasan sekaligus guratan lelah. Sebagai kepala keluarga yang menjunjung tinggi tanggung jawab profesional dan kekeluargaan, perjalanan dinas mendadak ke Jakarta ini adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. Dan kehadiran Kirana sebagai asisten serta bagian dari keluarga yang mendampingi urusan administrasi proyek menjadi syarat mutlak yang diminta oleh pihak mitra di ibu kota.

"Jangan ada yang tertinggal, dokumen proyek penting dan rekapitulasi data lapangan sudah dipegang kan?" tanya Pak Zhafran memastikan saat ia merapikan letak jam tangan mewahnya.

"Sudah, Pak. Semuanya ada di dalam tas kerja saya," balas Kirana seraya melangkah mendekati ruang keluarga, menenteng sebuah tas tangan kulit berwarna hitam yang terasa begitu berat di tangannya.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di luar rumah terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk persiapan di dalam. Mobil SUV hitam berukuran besar telah terparkir rapi di halaman depan, dengan bagasi belakang yang menganga lebar menunggu muatan terakhir. Sang sopir keluarga, Pak Joko—yang kebetulan ikut dikaryakan membantu perjalanan luar kota ini—tengah sibuk menata koper-koper besar milik keluarga Zhafran dengan teliti.

"Biar saya bantu angkat tas yang itu, Pak Zhafran," ujar Kirana sigap ketika melihat Pak Zhafran hendak mengangkat sebuah koper tambahan.

"Tidak usah, Kirana. Kamu simpan tenagamu saja. Perjalanan hari ini akan melelahkan," cegah Pak Zhafran sambil tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan di tengah atmosfer pagi yang muram. "Kamu terlihat sangat pucat. Apakah tidurmu semalam tidak nyenyak?"

Kirana hanya bisa membuang muka sejenak, menghindari tatapan menyelidik dari pimpinan sekaligus orang yang sangat dihormatinya itu. Bagaimana ia bisa tidur nyenyak jika sepanjang malam bayangan Rian—atau Arga Danendra, pria yang kini disekap keluarganya di Menteng—terus berkelebat di dalam kepalanya? Ponselnya masih mati total, kehabisan daya tanpa ada kesempatan untuk diisi ulang sejak malam kelam di pos logistik proyek.

"Hanya agak lelah karena persiapan kemarin, Pak," dusta Kirana pelan, merapatkan mantel hitamnya untuk menahan terpaan angin pagi Surabaya yang cukup menusuk tulang.

Ibu Ghoniyah berjalan mendekat, merangkul pundak Kirana dengan penuh kasih sayang. Ibu paruh baya itu bisa merasakan betapa kaku tubuh gadis di sampingnya. Sebagai wanita yang peka, Ibu Ghoniyah tahu betul ada badai besar yang sedang disembunyikan oleh Kirana di balik senyum tipis yang dipaksakan.

"Kirana, dengar kata Ibu," bisik Ibu Ghoniyah lembut tepat di telinga gadis itu. "Apa pun beban yang sedang kamu pikul di hatimu saat ini, cobalah lepaskan sejenak. Jakarta mungkin kota yang bising dan penuh intrik, tapi siapa tahu di sana kamu bisa menemukan jawaban atas apa yang selama ini kamu cari."

Kata-kata itu justru membuat air mata Kirana hampir tumpah. Jawaban apa? batin Kirana menjerit. Pertemuan di Jakarta justru akan membawanya ke kandang macan, ke sarang keluarga Danendra yang memandang rendah orang-orang dari kalangan biasa sepertinya.

"Terima kasih, Bu," jawab Kirana lirih, menundukkan pandangannya ke lantai paving halaman rumah.

°˖✧✿✧˖°

Pintu bagasi mobil akhirnya ditutup dengan bunyi gedebuk yang pelan namun tegas. Pak Joko memutar langkah menuju kursi pengemudi, sementara Pak Zhafran membukakan pintu tengah untuk istri dan bawahannya. Satu per satu, anggota rombongan kecil itu mulai memasuki kabin kendaraan yang sejuk dan beraroma kopi panggang.

Namun, sebelum kakinya benar-benar melangkah masuk ke dalam perut mobil, Kirana menghentikan gerakannya.

Ia mendadak menoleh tajam ke arah ujung jalan perumahan yang sunyi. Matanya menatap lekat-lekat aspal jalanan basah yang memantulkan cahaya lampu jalan pagi. Di dalam hatinya yang paling dalam, terselip secercah harapan yang tidak masuk akal—sebuah keajaiban kecil di mana mobil sport hitam milik Arga tiba-tiba muncul dari tikungan, mengebut kencang, lalu berhenti tepat di hadapannya untuk menggagalkan keberangkatan ini.

Datanglah, Arga... Tolong katakan kalau kamu berhasil lolos, teriak batin Kirana penuh keputusasaan.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Tidak ada suara deru mesin kencang. Tidak ada sosok tegap berwajah tegas yang melompat keluar dari kendaraan. Jalanan itu tetap sepi, lengang, dan dingin. Yang terdengar hanyalah suara angin pagi yang menderu pelan di antara rimbunnya pohon mangga di tepi jalan.

"Kirana?" panggil Pak Zhafran lembut dari dalam mobil, menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya. "Ada apa? Kenapa melamun di situ? Ayo masuk, kita tidak boleh terlambat mengejar jadwal penerbangan di Bandara Juanda."

Kirana menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia mengerjap beberapa kali, membuang jauh-jauh halusinasi semu yang baru saja singgah di kepalanya. Dengan gerakan lesu, ia membungkukkan badan dan melangkah masuk ke dalam mobil, menduduki kursi di sebelah Ibu Ghoniyah.

"Maaf, Pak. Saya hanya merasa agak penat," sahut Kirana pelan, lalu menarik sabuk pengaman dan memasangnya melintang di dada.

Pak Zhafran menutup pintu mobil dari luar sebelum berpindah ke kursi depan samping sopir. "Penerbangan pagi ini cukup padat. Kita harus tiba di bandara tepat waktu agar proses check-in tidak terganggu. Dokumen dari mitra Jakarta sangat krusial untuk kelanjutan proyek konstruksi kita bulan ini."

"Baik, Pak. Saya sudah siapkan semua berkasnya di dalam map biru di tas saya," jawab Kirana profesional, meskipun pikirannya melayang sejauh ratusan kilometer ke arah barat, tempat di mana seorang pria bernama Arga sedang mendekam dalam kurungan rumah mewah keluarganya.

Lihat selengkapnya