Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #100

Tekad Baja Sang Mutiara Al-Azhar

Kabin pesawat komersial berbadan lebar itu berdengung halus, membelah angkasa di atas hamparan awan putih yang membentang luas bagai samudera kapas. Kirana duduk di kursi kelas ekonomi deretan tengah, terjepit di antara lorong kabin dan jendela kecil yang memperlihatkan teriknya cahaya matahari di atas ketinggian 35.000 kaki.

Di sampingnya, Ibu Ghoniyah tengah memejamkan mata, mencoba melepas penat setelah proses keberangkatan yang cukup melelahkan di Surabaya tadi pagi. Sementara di kursi barisan depan, Pak Zhafran tampak sibuk membaca lembaran dokumen laporan keuangan proyek yang tersusun rapi di dalam folder kulit berwarna cokelat.

Suasana kabin yang tenang itu kontras dengan badai yang tengah berkecamuk di dalam batin Kirana. Jemari lentiknya meraba permukaan kaca jendela pesawat yang terasa dingin, lalu turun menyentuh sisi saku mantelnya. Di dalam sana, tersimpan rapat sebuah dompet kecil yang berisi lipatan kertas usang—puisi tulisan tangan Rian yang selama ini menjadi jimat pelindung di setiap langkah beratnya.

"Aku tidak boleh terus-terusan meratap," bisik Kirana pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di balik deru mesin jet pesawat.

Pandangan mata yang tadinya sayu dan dipenuhi genangan air mata, perlahan berubah menjadi sorot yang tajam. Sisa-sisa kesedihan akibat kehilangan kontak dengan Rian kini melebur menjadi sebuah energi baru, mendesak rasa putus asa itu mundur teratur dan digantikan oleh kobaran tekad yang membaja.

°˖✧✿✧˖°

Ingatan Kirana tiba-tiba melayang jauh melintasi ruang dan waktu, kembali ke masa-masa ketika ia masih menempuh pendidikan tinggi di Kairo, Mesir. Ia teringat pada lorong-lorong perpustakaan universitas yang megah, tumpukan kitab klasik, serta ceramah-ceramah inspiratif dari para ulama dan dosen yang mengajarkan arti kemandirian seorang wanita muslimah.

"Seorang mukmin yang kuat tidak akan pernah menyerah pada keadaan, melainkan mengubah keadaan itu dengan keberanian dan hikmah," ucap salah seorang dosen pembimbingnya dulu, kalimat yang kini bergemanya begitu kuat di dalam kepala Kirana.

Selama bertahun-tahun merantau di negeri orang, jauh dari pelukan hangat kedua orang tuanya, Kirana telah ditempa untuk menjadi wanita yang mandiri, tahan banting, dan tidak mudah tunduk pada tekanan sosial maupun tradisi yang mengekang hak asasi seseorang dalam menentukan masa depannya. Gelar sarjana dan tempaan mental dari Al-Azhar bukanlah sekadar hiasan ijazah di dinding kamar, melainkan prinsip hidup yang mendarah daging.

"Kirana, apa kamu butuh selimut tambahan? Udara di kabin sepertinya agak dingin," suara Ibu Ghoniyah tiba-tiba memecah lamunannya, membuat Kirana langsung menoleh dan tersenyum tipis.

"Ah, tidak perlu, Bu. Saya sudah cukup hangat kok," jawab Kirana ramah, merapikan letak jilbab syar'i-nya agar kembali tampak rapi.

"Baiklah. Kalau lelah, istirahatlah sebentar. Perjalanan masih sekitar setengah jam lagi sebelum kita mendarat di Soekarno-Hatta," tambah Ibu Ghoniyah sebelum kembali memejamkan matanya.

Kirana mengangguk pelan. Ia tahu, waktu istirahat yang tersisa ini harus ia gunakan sebaik mungkin untuk menyusun strategi mental. Setibanya di Jakarta nanti, ia bukan sekadar datang untuk urusan audit proyek pembangunan gedung, melainkan memasuki arena pertempuran diplomatik keluarga yang telah dirancang secara diam-diam oleh orang tuanya.

Pak Zhafran sempat menyinggung beberapa kali tentang pertemuan makan malam formal dengan rekan bisnis lamanya di Jakarta—sebuah pertemuan yang ternyata menyembunyikan agenda terselubung: menjodohkan Kirana dengan anak tunggal dari mitra strategis tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah lingkaran keluarga besar Danendra.

°˖✧✿✧˖°

Di dalam kepalanya yang bekerja cepat, Kirana mulai merancang tahapan demi tahapan strategi perlawanannya secara terhormat. Ia tidak akan mengamuk, tidak akan membanting barang, dan tidak pula berteriak histeris layaknya anak kecil yang kehilangan mainan. Cara-cara bar-bar seperti itu justru akan merendahkan martabatnya dan mempermalukan kedua orang tuanya di hadapan para kaum elit ibu kota.

"Aku akan tetap bersikap sopan, santun, dan profesional," gumam Kirana dalam hati, merumuskan prinsip dasarnya. "Aku akan menghormati sahabat ayahku, menyapa mereka dengan senyum terbaik, dan menjalankan tugasku sebagai staf profesional dalam audit proyek."

Namun, di balik kesopanan topeng luar itu, prinsip dasarnya tidak bisa ditawar. Begitu momen penyampaian restu atau pembicaraan mengenai perjodohan itu dilontarkan di atas meja makan hotel megah di Jakarta nanti, Kirana sudah berketetapan hati untuk mengambil langkah tegas.

Ia akan berdiri dari kursi makannya, menegakkan punggungnya, dan berbicara dengan nada yang tenang namun tegas di hadapan semua orang terpandang tersebut. Ia akan menyatakan secara jujur bahwa ia menolak perjodohan itu dengan penuh kehormatan, karena hatinya telah tertambat pada seorang pria pejuang di lapangan—seorang pria bernama Rian atau Arga yang mengajarkannya arti ketulusan cinta di tengah kerasnya dunia konstruksi.

"Bagaimana kalau ayah marah besar? Bagaimana kalau beliau mengusirku atau mencabut dukungannya?" bisik sebuah suara ragu di dalam benak Kirana, mencoba menggoyahkan keyakinannya.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mengusir keraguan itu seketika. "Biarlah. Aku siap menerima segala konsekuensi, kemarahan, atau sanksi sosial apa pun dari keluargaku. Yang terpenting, aku tidak mengkhianati nuraniku sendiri dan tidak menjual kesucian cinta yang kuberikan untuk Rian."

Tekad baja itu kini telah mengakar kuat di dalam dadanya. Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut. Kirana merasa dirinya menjelma menjadi sosok mutiara yang meskipun terendam di dalam lumpur cobaan, kilaunya tidak akan pernah pudar oleh tekanan tekanan duniawi.

°˖✧✿✧˖°

Sementara Kirana sibuk merajut strategi perlawanannya di angkasa, dinamika yang jauh lebih panas sedang terjadi di daratan Jakarta, tepatnya di ruang kerja pribadi milik Pak Fardhan Danendra.

Lihat selengkapnya