Cahaya lampu temaram menembus celah jendela kaca berjeruji besi di kamar paviliun belakang rumah besar keluarga Danendra di kawasan Menteng, Jakarta. Udara di dalam ruangan itu terasa pengap, bercampur aroma tembakau cerutu mahal yang samar-samar terbawa angin dari lantai bawah. Arga Danendra duduk di atas tepi tempat tidur ukuran king size dengan kepala tertunduk lesu. Kedua telapak tangannya menangkup wajahnya yang tampak tirus dan dipenuhi oleh bulu-bulu halus yang mulai tumbuh tidak beraturan di sekitar rahangnya.
Sudah seminggu penuh ia dikurung di dalam kamar isolasi tersebut atas perintah mutlak sang ayah, Pak Fardhan. Tidak ada televisi, tidak ada komputer jinjing, dan yang paling menyiksanya, ponsel pintar utamanya telah disita dan dikunci di dalam brankas besi di ruang kerja lantai bawah.
"Tuan Muda, makanan malam Anda sudah saya letakkan di meja kecil dekat pintu," suara berat seorang pengawal terdengar dari balik daun pintu kayu jati yang tebal dan terkunci rapat dari luar.
Arga sama sekali tidak merespons. Ia bahkan tidak menoleh ke arah nampan berisi sup hangat dan daging panggang yang masih mengepulkan uap tipis. Nafsu makannya telah mati sejak hari pertama ia dipaksa meninggalkan Surabaya dan dipisahkan secara paksa dari wanita yang paling dicintainya. Di dalam kepalanya, bayangan Kirana yang sedang menangis sendirian di pos logistik proyek terus-menerus berputar, menciptakan rasa bersalah yang teramat sangat dan menggerogoti kewarasannya detik demi detik.
"Sial..." desis Arga pelan, lalu melemparkan tinjunya dengan keras ke atas kasur empuk di sampingnya. Rasa frustrasi itu membakar dadanya, membuatnya merasa tidak berdaya di hadapan tembok kekuasaan keluarganya sendiri.
°˖✧✿✧˖°
Di tempat lain, berjarak beberapa kilometer dari kawasan Menteng, suasana megah sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta sama sekali tidak mampu meredakan badai batin yang sedang dirasakan oleh Kirana. Gadis itu berdiri terpaku di depan dinding kaca besar kamar hotel di lantai dua puluh tiga, menatap ke arah lautan lampu kendaraan bermotor yang merayap di jalan raya ibu kota bagai aliran lava pijar.
Kirana baru saja menyelesaikan sesi pembongkaran koper dan menata dokumen-dokumen audit proyek penting di atas meja kerja hotel. Perjalanan dari bandara tadi siang hingga proses check-in sore ini dilalui dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Namun, keletihan fisik itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan beban hampa yang menghimpit rongga dadanya.
"Kirana, kamu sudah makan malam?" suara lembut Ibu Ghoniyah terdengar dari ambang pintu kamar tidur yang menghubungkan ruang suite tersebut. Ibu angkatnya melangkah masuk sambil membawa segelas teh chamomile hangat.
Kirana membalikkan badan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang tampak pucat. "Belum terlalu lapar, Bu. Mungkin nanti saja kalau dokumen rekapitulasi datanya sudah selesai saya periksa ulang untuk rapat besok pagi."
Ibu Ghoniyah meletakkan gelas teh tersebut di atas meja kecil, lalu menatap bawahannya dengan pandangan penuh selidik dan keibuan. "Jangan terlalu memforsir diri, Nak. Kamu terlihat sangat lelah sejak dari Surabaya kemarin. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu selain urusan pekerjaan proyek ini?"
Mendengar pertanyaan itu, tenggorokan Kirana mendadak terasa tercekat. Bagaimana ia bisa menceritakan bahwa alasan utama kehancuran batinnya bukanlah urusan kantor, melainkan sosok seorang pria bernama Arga—pria yang mengaku sebagai pekerja kasar di proyek namun ternyata merupakan putra mahkota dari keluarga besar yang akan mereka temui dalam jamuan makan malam besok malam?
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya sedikit penyesuaian dengan cuaca dan suasana Jakarta saja," jawab Kirana berdusta, menundukkan pandangannya untuk menghindari tatapan tajam namun penuh kasih dari Ibu Ghoniyah.
"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah yang cukup setelah ini. Besok pagi kita harus tampil prima di hadapan para petinggi Danendra Group," pesan Ibu Ghoniyah sebelum akhirnya berpamitan keluar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
°˖✧✿✧˖°
Sepeninggal Ibu Ghoniyah, kesunyian malam kembali merayap masuk ke dalam kamar hotel yang ber-AC dingin itu. Kirana kembali melangkah mendekati meja rias, tempat ia meletakkan ponsel pribadinya di atas permukaan marmer putih.
Ia meraih benda pipih tersebut dengan jemari yang sedikit gemetar. Layar ponsel menyala terang, menampilkan indikator baterai yang sudah terisi penuh setelah ia tancapkan ke stopkontak tadi. Tanpa sadar, jempolnya bergerak membuka aplikasi pesan singkat, menekan kontak bernomor baru yang diberikan oleh Rian sebelum pria itu menghilang secara misterius dari Surabaya.
Arga... apakah pesan ini akan sampai kepadamu malam ini? batin Kirana bertanya-tanya dengan dada yang bergemuruh hebat.
Ia mulai mengetik sebuah pesan panjang, meluapkan seluruh rasa rindu, cemas, dan kebingungan yang selama ini ia pendam sendirian. Namun, baru separuh kalimat tertulis, keraguan mendadak menghantam kepalanya. Apakah benar nomor itu milik Rian yang tulus? Atau jangan-jangan selama ini ia hanya dipermainkan oleh sebuah skenario rumit dari orang-orang berpengaruh di belakang layar?
Dengan napas tersengal, Kirana menghapus kembali seluruh tulisan tersebut. Ia merasa seperti orang bodoh yang berbicara pada dinding kosong. Selama berhari-hari ia mengirimkan pesan yang tidak pernah dibaca, menelepon nomor yang selalu dijawab oleh suara robot operator seluler yang menyatakan bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan.
Sementara itu, di kamar paviliun Menteng, situasi tidak kalah mencekam. Di tengah kegelapan malam, pintu kamar Arga tiba-tiba berderit pelan dari luar. Sebuah celah terbuka selebar lengan, dan sesosok tangan menyelinapkan sebuah benda kecil berwarna hitam ke lantai kamar.
Arga yang sedang berbaring menatap langit-langit langsung bangkit dengan gerakan cepat. Ia merangkak di atas lantai karpet, meraih benda tersebut. Itu adalah sebuah ponsel pintar cadangan berukuran kecil—gawai darurat yang sengaja diselundupkan oleh Daffa, sepupunya yang masih memihak dan iba padanya.
"Gunakan ini dengan hati-hati, Arga. Ayah memasang alat pengacak sinyal di rumah utama, tapi di sudut kamar ini mungkin ada sedikit celah jaringan," pesan singkat yang tertera di layar ponsel darurat itu membuat jantung Arga berdegup kencang.