Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #102

Ultimatum Malam dari Fardhan



Jarum pendek jam dinding antik di sudut kamar paviliun baru saja merayap menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit pagi. Suasana di dalam kamar isolasi itu begitu pekat oleh keheningan malam yang mencekam. Arga Danendra duduk bersila di atas lantai karpet tebal, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang dingin. Matanya menyalang menatap langit-langit ruangan yang gelap, tanpa sedikit pun rasa kantuk yang bergelayut di pelupuk matanya setelah pesan terakhir dari Kirana berputar-putar tanpa henti di kepalanya.

Tiba-tiba, suara derit engsel pintu besi yang berat memecah keheningan malam. Suara itu terdengar begitu nyaring, memantul di dinding-dinding kamar yang sempit.

Arga langsung menoleh tajam ke arah pintu. Daun pintu kayu jati berukuran besar itu terdorong terbuka lebar dari luar. Di ambang pintu, berdirilah sesosok figur yang sangat ia kenal sekaligus ia takuti—Pak Fardhan Danendra. Sang ayah berdiri tegap dengan balutan jubah tidur sutra warna hitam, memegang sebatang cerutu yang belum dinyalakan di tangan kanannya. Wajah pria paruh baya itu tampak dingin, tanpa ekspresi, memancarkan aura kekuasaan mutlak yang sanggup meremukkan mental siapa pun yang berdiri di hadapannya.

"Belum tidur juga, Arga?" suara bariton Pak Fardhan memecah kesunyian, bernada rendah namun sarat akan intimidasi yang tajam.

Arga tidak langsung menjawab. Ia perlahan bangkit dari lantai, merapikan sedikit pakaiannya, lalu menatap tajam ke arah sang ayah tanpa rasa gentar sedikit pun di matanya. "Bagaimana aku bisa tidur kalau Ayah memperlakukanku seperti tahanan di rumah sendiri?" balas Arga dingin, suaranya parau namun penuh penekanan.

°˖✧✿✧˖°

Pak Fardhan melangkah masuk ke dalam kamar paviliun itu dengan langkah pelan namun pasti. Sepatu rumahnya bergesekan pelan dengan permukaan karpet mahal. Di tangan kirinya, ia menenteng sebuah map tebal berwarna biru tua yang diikat dengan pita kain satin hitam—sebuah simbol birokrasi keluarga yang selalu mendahului urusan bisnis di atas segalanya.

"Kamu pikir aku senang mengurung anak kandungku sendiri di tempat sempit seperti ini?" Pak Fardhan mendengus pelan, lalu melempar map biru itu tepat di atas meja rias kecil di dekat tempat tidur Arga. "Semua ini terjadi karena ulah keras kepalamu yang memalukan. Kamu kabur ke Surabaya, menyamar menjadi buruh kasar, dan bermain-main dengan kehidupan rendahan yang sama sekali tidak selevel dengan silsilah keluarga kita."

Arga mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. "Jangan pernah rendahkan kehidupan orang lain, Yah! Mereka bekerja dengan keringat dan kejujuran mereka sendiri, jauh lebih mulia daripada hidup di atas topeng kemunafikan dan manipulasi saham keluarga kita!"

"Jaga mulutmu, Arga!" bentak Pak Fardhan, sorot matanya menajam bagai bilah pisau belati. "Kamu adalah pewaris tunggal imperium Danendra Group. Seluruh masa depan perusahaan ini bergantung pada nama baik dan stabilitas keluarga kita. Pernikahanmu dengan Jessica, putri dari mitra strategis kita, adalah harga mati. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar!"

Pak Fardhan mendekati meja rias, lalu membuka pita map biru tersebut. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen cetak tebal berisi draf perjanjian kerja sama bisnis baru yang akan ditandatangani esok hari bersama rombongan dari Zhafran Group—perusahaan mitra yang membawahi proyek tempat Kirana bekerja di Surabaya.

"Baca ini, Arga," perintah Pak Fardhan sambil menunjuk barisan klausul hukum di dalam dokumen tersebut. "Ini adalah draf kontrak kerja sama jangka panjang bernilai ratusan miliar rupiah yang akan ditandatangani besok malam di hotel pusat kota. Perusahaan Zhafran Group adalah mitra kunci kita di wilayah Jawa Timur."

°˖✧✿✧˖°

Arga melirik sekilas ke arah lembaran kertas yang ditunjuk oleh ayahnya. Dahinya berkerut dalam. Ia membaca nama perusahaan kontraktor utama yang tercantum di bagian lembar lampiran: PT Zhafran Konstruksi Utama.

Seketika itu juga, aliran darah di sekujur tubuh Arga seperti berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Zhafran Group? Itu adalah perusahaan tempat Kirana bekerja sebagai pengawas lapangan dan staf administrasi kepercayaan pimpinan utama!

"Kenapa...? Kenapa perusahaan mereka yang jadi mitra?" tanya Arga dengan suara tertahan, ada nada kepanikan yang mendadak lolos dari celah bibirnya.

Pak Fardhan tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis penuh kemenangan yang membuat darah Arga mendidih. "Terkejut? Dunia bisnis itu sempit, Arga. Perusahaan kecil tempat gadis Surabaya yang kamu gilai itu bekerja ternyata adalah salah satu sub-kontraktor penting di bawah naungan jaringan proyek yang kita Danendra Danai."

"Jangan libatkan Kirana dalam urusan bisnis keluarga kita, Yah!" teriak Arga marah, melangkah mendekati ayahnya dengan dada naik turun menahan amarah yang meledak-ledak. "Kalau Ayah punya masalah denganku, selesaikan langsung padaku! Jangan sentuh pekerjaannya, jangan ganggu hidupnya!"

"Aku tidak perlu mengganggunya secara langsung jika kamu bersikap kooperatif," potong Pak Fardhan dengan nada suara yang kembali tenang namun mematikan. "Besok malam, dalam jamuan makan malam resmi di hotel, perwakilan dari Zhafran Group akan hadir lengkap bersama staf administrasi mereka. Dan di hadapan mereka semua, pertunanganmu dengan Jessica akan diumumkan secara terbuka."

Pak Fardhan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam bola mata putranya dengan tatapan mengintimidasi yang meremukkan nyali.

Lihat selengkapnya