Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #103

Dikte Tradisi Ibu Ghoniyah

Cahaya lampu kamar hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Pusat itu memancarkan temaram keemasan yang menenangkan, namun suasana di dalam ruangan justru terasa begitu mencekam bagi Kirana. Di atas tempat tidur berukuran king size dengan seprai putih bersih, Kirana duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah kembali, membasahi punggung tangannya yang gemetar. Di sisinya, Ibu Ghoniyah duduk dengan anggun dalam balutan busana muslimah berwarna pastel, menatap putri bungsunya dengan tatapan penuh keibuan namun menyiratkan ketegasan yang tidak bisa ditawar.

Udara dingin dari pendingin ruangan berembus pelan, seolah ikut membekukan gejolak emosi di dalam dada Kirana yang merasa terpojok oleh kenyataan hidup. Perjalanan panjang dari Surabaya ke ibu kota atas mandat dewan komisaris ternyata tidak membawanya pada kebebasan, melainkan menyeretnya langsung ke dalam pusat pusaran tradisi keluarga yang menuntut kepatuhan mutlak.

"Menangislah sepuas hatimu, Kirana," ucap Ibu Ghoniyah dengan suara yang sangat lembut, begitu tenang, namun justru menghujam lebih dalam ke relung jiwa putrinya. "Umi tahu beban yang kamu pikul saat ini terasa sangat berat. Tapi cobalah tenangkan pikiranmu dan dengarkan Umi."

Kirana mendongakkan kepalanya perlahan. Matanya yang sembab menatap sang ibu dengan sejuta rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dadanya. "Umi... mengapa semuanya harus berakhir seperti ini? Mengapa takdir seolah memaksa Kirana untuk memilih antara kebahagiaan hati dan bakti kepada keluarga?" tanya Kirana dengan suara parau.

Ibu Ghoniyah mengulurkan tangannya, mengelus lembut rambut Kirana yang terbalut kerudung instan sederhana. Sentuhan itu penuh kasih sayang, namun kata-kata yang keluar berikutnya seketika meremukkan sisa-sisa pertahanan mental sang gadis.

"Janji perjodohan ini bukan sekadar adat istiadat biasa, Kirana," ucap Ghoniyah lembut namun tegas. "Ini adalah bentuk rasa syukur dan ikatan persaudaraan yang suci bagi Ayahmu. Menolaknya berarti kamu meruntuhkan kehormatan Ayahmu yang sudah menjaga muruahmu sejak kecil."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir ibunya, menusuk tajam ke dalam ego Kirana sebagai seorang anak perempuan yang selama ini dikenal paling patuh dan berbakti di dalam keluarga besar Zhafran.

Kirana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, meredam isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Setiap kata yang diucapkan oleh ibunya bagaikan palu berat yang menghantam dinding pertahanan batinnya. Bayangan wajah sang ayah, Pak Zhafran, yang selalu bekerja keras membanting tulang demi masa depan keluarga, berkelebat di dalam kepalanya.

"Apakah cinta yang Kirana rasakan pada Rian adalah sebuah kesalahan besar, Umi?" bisik Kirana di sela-sela isakannya, menyuarakan jeritan hatinya yang paling dalam.

Ibu Ghoniyah menarik napas panjang, menatap lurus ke arah jendela kamar hotel yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta di luar sana. "Cinta tidak pernah salah, Nak. Tapi cara kita menyikapinya di tengah ikatan moral dan sosial lah yang sering kali menguji kedewasaan kita. Umi ingin kamu mengingat kembali masa-masa sulit keluarga kita belasan tahun lalu."

Kirana terdiam sejenak, mendengarkan ucapan ibunya dengan napas yang memburu.

"Kamu mungkin masih terlalu kecil untuk mengingatnya secara utuh," lanjut Ghoniyah mengenang masa lalu. "Ketika usaha konstruksi Abahmu di Surabaya hampir bangkrut total akibat penipuan rekan bisnis, dan kita kehilangan segalanya hingga hampir terusir dari rumah... siapa yang datang menolong tanpa pamrih? Keluarga besar Fardhan dari Jakarta lah yang mengulurkan tangan, memberikan suntikan dana raksasa, dan menyelamatkan nama baik Abahmu dari kehormatan yang terancam runtuh."

Mendengar kisah masa lalu yang baru pertama kali diceritakan secara mendalam oleh ibunya itu, Kirana tertegun. Beban moral yang dipikul keluarganya ternyata jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan selama ini.

"Bantuan itu bukan sekadar urusan materi, Kirana," tambah Ghoniyah dengan nada suara yang semakin melembut namun penuh penekanan emosional. "Itu adalah utang budi dan janji persaudaraan yang diikat di atas komitmen masa depan kedua keluarga. Abahmu mempertaruhkan seluruh harga dirinya agar kita bisa berdiri tegak seperti sekarang. Dan kini, ketika Tuan Besar Fardhan menagih janji suci itu melalui perjodohanmu dengan putra mahkota mereka, bagaimana mungkin kamu tega memalingkan muka dan berkata tidak?"

Pertanyaan retoris dari ibunya itu menghantam dada Kirana bagaikan hantaman ombak besar yang menyapu karang. Kirana merasa seolah-olah seluruh pencapaian akademisnya di Al-Azhar, seluruh gelar profesionalnya sebagai direktur muda, dan seluruh ketulusan cintanya pada Rian runtuh seketika di hadapan tuntutan bakti seorang anak kepada orang tua.

Di dalam kamar hotel yang hangat itu, keheningan sempat mendera beberapa saat setelah Ibu Ghoniyah mengakhiri kalimatnya. Kirana meresapi setiap makna di balik cerita masa lalu tersebut. Ia menyadari sepenuhnya bahwa posisinya saat ini bukanlah korban dari kejamnya takdir semata, melainkan bagian dari rantai sejarah keluarga yang harus ia bayar dengan pengorbanan perasaan pribadinya.

Lihat selengkapnya