Suasana malam di dalam paviliun mewah milik keluarga besar Fardhan Group di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk kota metropolitan yang tak pernah tidur. Di dalam kamar tidur utamanya yang luas, sunyi senyap mencengkeram setiap sudut ruangan tanpa ampun. Tanpa kehadiran Daffa dan Gazhi yang sedang ditugaskan menjaga pergerakan dokumen audit di kantor pusat, paviliun itu mendadak terasa begitu hampa, dingin, dan asing bagi Arga. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan bias cahaya remang-remang dari lampu taman luar yang menembus celah gorden beludru tebal. Di atas lantai marmer putih yang membeku, Arga duduk bersila seorang diri, memeluk lututnya dalam kegelapan batin yang pekat.
Pewaris tunggal imperium bisnis Fardhan Group itu menundukkan kepala, lalu mengangkat tangan kanannya tepat di bawah temaram cahaya. Telapak tangan yang dulu mulus kini dipenuhi oleh garis-garis kapalan tebal, sisa dari hari-hari panjang mengangkat sak semen, memegang sekop berkarat, dan mengaduk adonan beton di bawah teriknya matahari Surabaya. Ia memandangi tangannya sendiri dengan tatapan kosong yang menyiratkan kepedihan mendalam. Di tempat mewah ini, di mana udara dingin AC merasuk hingga ke tulang sumsum, tangan kasar itu terasa seperti sebuah anomali—sebuah bukti nyata bahwa ia sempat hidup di dunia yang sama sekali berbeda, dunia di mana ia menemukan satu-satunya alasan terkuat untuk tetap bernapas.
"Apakah semua perjuangan ini benar-benar ada artinya, atau aku hanya sedang membakar diri dalam api kebodohan sendiri?" bisik Arga pada keheningan kamarnya, suaranya parau dan bergetar hebat.
°˖✧✿✧˖°
Pikiran Arga berkecamuk hebat tanpa kendali, berputar-putar dalam lingkaran keraguan yang sangat melelahkan. Bayangan wajah Kirana—wanita berkerudung pastel dengan sorot mata lembut yang selalu meneduhkan hatinya—terus berkelebat di dalam benaknya. Namun, bayangan manis itu kini perlahan-lahan mulai digantikan oleh ketakutan-ketakutan hitam yang mencabik-cabik kewarasannya. Bagaimana jika Kirana, yang kini sendirian menghadapi tekanan luar biasa dari keluarganya di Surabaya, akhirnya menyerah pada keadaan? Bagaimana jika perjodohan paksa dengan keluarga Hartono itu pada akhirnya berhasil mematahkan pertahanan terakhir wanita yang sangat dicintainya?
"Tidak... Kirana tidak akan menyerah semudah itu," gumam Arga mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meskipun hatinya sendiri mulai berteriak melemah.
Namun, logika dingin seorang pebisnis lulusan universitas terkemuka di Turki mulai menghantam kesadarannya tanpa ampun. Arga adalah seorang pria yang terbiasa memperhitungkan risiko, dan malam ini, ia melihat jurang kehancuran yang teramat nyata di hadapannya. Ancaman sang ayah tadi sore di ruang kerja utama masih terngiang-ngiang jelas di telinganya, bagaikan tetesan asam sulfat yang membakar harga dirinya. Sang ayah dengan tegas menyatakan bahwa jika Arga tetap bersikeras menolak perjodohan bisnis keluarga dan mengejar wanita dari anak perusahaan yang bermasalah, maka seluruh kekuatan Fardhan Group akan dikerahkan untuk menghancurkan proyek Grand Syariah Residence hingga tak tersisa.
"Jika ayah benar-benar menghancurkan proyek itu..." air mata hangat tanpa disadari menetes jatuh dari pelupuk mata Arga, membasahi punggung tangannya yang kasar. "...maka aku bukan lagi penyelamat bagi Kirana. Aku justru akan menjadi racun paling mematikan yang menghancurkan karier, masa depan, dan sisa kebahagiaannya di Zhafran Group."
Ketakutan terbesar itu menghantam dada Arga seketika, membuat napasnya terasa sesak. Selama ini ia percaya bahwa cintanya yang sedalam lautan dan sekokoh gunung mampu melindungi Kirana dari segala badai. Namun malam ini, di titik nadir emosional yang paling gelap, ia mulai meragukan kekuatannya sendiri. Apakah cinta yang ia bangun dengan susah payah di atas debu proyek justru menjadi beban terberat yang merenggut senyum dari bibir wanita pujaannya?
°˖✧✿✧˖°
Krisis kepercayaan diri yang melanda Arga bukanlah ketakutan akan kehilangan harta warisan atau posisi direktur utama di Fardhan Group. Yang ia takuti adalah kehancuran mutlak dari martabat Kirana. Di dunia korporasi yang kejam, skandal antara seorang direktur operasional dengan buruh logistik lapangan—yang ternyata adalah pewaris saingan—akan menjadi bahan santapan media yang sangat kejam. Kirana akan dihakimi, disudutkan, dan mungkin diusir dari keluarganya sendiri karena dianggap telah mencoreng nama baik Zhafran Group.
"Tuhan... mengapa takdir harus berjalan sekeruh ini?" rintih Arga pelan, memejamkan mata erat-erat saat gelombang rasa bersalah merayap naik mencekik lehernya.
Ia teringat kembali pada bait-bait puisi terakhir yang ia tuliskan di atas kertas putih kekuningan sebelum meninggalkan Surabaya: Besarnya gunung tak sebesar cintaku padamu. Dalam lautan tak sedalam cintaku padamu. Bait-bait puitis itu mendadak terasa begitu naif di hadapan tembok beton kekuasaan korporasi dan ego orang tua yang tidak punya hati. Cinta yang suci, tulus, dan dibalut dengan penghormatan tertinggi itu kini terasa seperti sebuah dosa besar yang menyeret wanita yang ia cintai ke dalam bahaya besar.
Pintu kamar paviliunnya tertutup rapat, mengisolasi dirinya dari dunia luar. Di luar sana, lampu-lampu jalanan Menteng berpendar indah, namun di dalam dada Arga, yang ada hanyalah reruntuhan abu dari harapan yang mulai padam. Apakah ia harus mengalah? Apakah pilihan paling bijaksana saat ini adalah merelakan Kirana, melepaskan seluruh rasa yang telah tumbuh subur di dadanya, dan membiarkan wanita itu menjalani takdir perjodohan bisnis demi keselamatannya sendiri?
"Mengalah demi keselamatanmu, Kirana..." ucap Arga terbata-bata di tengah isak tangis tertahannya, "...apakah itu bentuk cinta yang paling sempurna, atau justru bentuk pengkhianatan terbesar terhadap sumpah hatiku sendiri?"
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban di udara kamar yang dingin. Arga merasa dirinya terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama menghancurkan: terus maju dan melihat Kirana hancur dihantam oleh amarah keluarganya dan Fardhan Group, atau mundur secara terhormat namun membiarkan jiwa mereka berdua mati perlahan dalam kepedihan seumur hidup.
°˖✧✿✧˖°
Tekanan mental yang menghimpit kepala Arga semakin menjadi-jadi ketika ia teringat kembali percakapan sengitnya dengan sang ayah di ruang kerja utama beberapa jam yang lalu. Ayahnya berdiri di dekat meja mahoni besar dengan tatapan mata yang dingin, menghujani Arga dengan kalimat-kalimat ultimatum yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk bernapas.
"Kamu pikir cinta picisan di proyek murahan itu bisa memberi makan perusahaan kita, Arga?!" bentak sang ayah dengan suara menggelegar yang mengguncang dinding ruang kerja. "Pilihannya cuma ada dua: kembali ke jalur perjodohan dengan keluarga Hartono, atau saksikan bagaimana aku meratakan seluruh aset Zhafran Group hingga anak perusahaannya jatuh bangkrut dalam waktu kurang dari sebulan!"