Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #106

Surat Kepasrahan Kirana

Suasana pagi hari di kamar suite mewah sebuah hotel berbintang lima di pusat Kota Jakarta terasa begitu menyesakkan dada. Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela kaca besar tidak mampu menghangatkan suasana ruangan yang mendadak terasa dingin bagi Kirana. Di depan meja rias berbingkai lampu-lampu kristal yang berpendar terang, Kirana duduk termenung seorang diri. Pantulan di cermin besar memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dengan mata yang bengkak dan memerah akibat menangis sepanjang malam tanpa henti. Di sekelilingnya, kesibukan persiapan acara pertemuan keluarga besar—yaitu pertemuan antara keluarga Fardhan, ayah Arga dari Jakarta, dengan keluarga Zhafran dari Surabaya—sudah mulai terdengar dari luar pintu kamar, namun Kirana merasa dirinya bagaikan hidup di dunia yang berbeda—dunia yang hancur lebur tanpa sisa.

"Non Kirana, apakah penata rias dari salon sudah boleh masuk sekarang?" tanya seorang staf hotel paruh baya dengan nada suara sangat hati-hati, mengetuk pintu kamar perlahan dari luar.

Kirana menarik napas panjang dengan susah payah, berusaha menelan ludahnya yang terasa pahit di tenggorokan. Ia merapikan ujung kerudung pashmina hitam yang menutupi bahunya sebelum menjawab dengan suara parau. "Sebentar lagi, Mbak. Tolong beri saya waktu sepuluh menit sendirian di dalam."

"Baik, Non. Jangan terlalu lama, karena Tuan Zhafran, Tuan Fardhan, serta keluarga besar sudah bersiap di ruang tunggu utama lantai bawah," balas staf tersebut sebelum langkah kakinya perlahan menjauh meninggalkan depan pintu.

°˖✧✿✧˖°

Begitu suasana kembali sunyi, pandangan Kirana tertunduk lesu menatap permukaan meja rias yang dipenuhi oleh berbagai macam produk kosmetik mahal. Di antara deretan botol parfum mewah dan kotak perhiasan berlian pemberian keluarga Fardhan, tergeletak selembar kertas surat hotel berwarna putih bersih dan sebatang pulpen bertinta hitam. Jantung Kirana berdegup kencang, bukan karena debar cinta, melainkan karena rasa sakit luar biasa yang mencabik-cabik rongga dadanya. Ia tahu betul bahwa waktu yang dimilikinya untuk bernapas lega telah habis. Hari ini adalah hari penentuan—hari di mana ia dipaksa mengenakan topeng kepatuhan dan menyerahkan seluruh sisa kebebasan hidupnya di atas altar perjodohan bisnis yang keji antara dua raksasa korporasi.

Dengan jemari yang bergetar hebat hingga nyaris tidak sanggup memegang pulpen, Kirana menarik kertas surat hotel itu mendekat ke hadapannya. Ia menatap kosong ke arah kertas putih tersebut selama beberapa detik, sementara bayangan wajah Rian—pria berrompi buruh logistik yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia mengadu dan menemukan ketenangan—kembali berkelebat di dalam benaknya. Janji manis tentang kepastian yang pernah diucapkan oleh Rian sebelum pergi ke Jakarta kini terasa bagaikan mimpi yang jauh dan mustahil untuk digapai.

"Mas Rian..." bisik Kirana lirih di dalam kamar yang sunyi, air mata hangatnya kembali menetes membasahi permukaan meja rias. "...maafkan aku yang ternyata tidak sekuat yang kamu bayangkan."

Tanpa bisa menahan bendungan air matanya lagi, Kirana mulai menorehkan tinta hitam di atas kertas surat tersebut. Setiap goresan huruf yang ia tuliskan ditulis dengan cucuran air mata dan isak tangis tertahan yang merobek relung jiwanya. Ia tahu surat ini adalah garis akhir dari kisah cinta terlarang mereka—sebuah pengakuan jujur atas kekalahannya melawan takdir keluarga besar Zhafran dan Fardhan.

°˖✧✿✧˖°

"Mas Rian, maafkan saya yang terpaksa memilih bakti daripada cinta kita," tulis Kirana dengan tangan yang terus bergetar hebat, merangkai bait demi bait perpisahan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. "Ujian ini terlalu besar bagi jiwa saya yang rapuh. Tekanan dari Ayah, air mata Ibu, serta bayang-bayang keluarga besar Fardhan dari Jakarta telah mematahkan seluruh sisa sayap yang saya miliki untuk terbang mengejar kebebasan."

Kirana berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum melanjutkan tulisannya. Ia tahu betul betapa besar pengorbanan dan ketulusan yang telah diberikan oleh Rian selama berada di proyek Grand Syariah Residence. Pria itu datang membawa secangkir teh melati madu dan bait-bait puisi suci yang mengangkat kembali derajat martabatnya sebagai seorang wanita. Namun, apa daya, takdir berkata lain. Pertemuan mereka dibatasi oleh dinding tebal kasta korporasi dan rantai perjodohan keluarga yang tidak bisa diputuskan begitu saja tanpa menghancurkan kedua belah pihak.

"Pergilah dan temukan mutiara hidupmu yang lain," lanjut Kirana menuliskan kalimat demi kalimat kepasrahan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. "Wanita lain yang jauh lebih baik, yang tidak perlu melukai hati kedua orang tuanya, dan yang hidupnya tidak terikat oleh rantai emas korporasi seperti diriku. Jangan cari aku lagi, dan anggaplah pertemuan kita di bawah debu proyek kemarin hanyalah angin lalu yang singgah sebentar lalu berlalu."

Ia menutup surat perpisahan itu dengan sebuah tanda tangan kecil dan tanggal hari ini, lalu melipat kertas putih tersebut dengan sangat rapi menjadi tiga bagian. Hatinya terasa mati rasa. Selama berbulan-bulan ia mencoba bertahan, merajut harapan di sela-sela kesibukan proyek, dan mempercayai bahwa cinta tulus mampu meruntuhkan segala rintangan dunia. Namun pada akhirnya, ia hanyalah seorang anak perempuan yang harus bertekuk lutut di hadapan tuntutan keluarga dan nama besar Zhafran Group.

°˖✧✿✧˖°

Ketukan pelan kembali terdengar di daun pintu kamar suite hotel, kali ini disusul oleh suara lembut Zhafira yang memanggil dari luar. "Mbak Kirana... apakah Kakak sudah siap? Ibu menyuruhku memanggil Kakak karena rombongan keluarga besar Zhafran dan keluarga Fardhan dari Jakarta sudah tiba di ruang jamuan utama."

Kirana dengan cepat menyeka sisa air matanya menggunakan tisu, lalu memasukkan surat perpisahan yang sudah dilipat rapi itu ke dalam sebuah tas kecil berwarna senada dengan gaunya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menata suaranya agar tidak terdengar habis menangis ketika menjawab adiknya. "Iya, Zhaf, sebentar lagi aku keluar. Masuklah!"

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Zhafira melangkah masuk dengan mengenakan pakaian muslimah bernuansa pastel yang elegan. Namun, begitu manik mata Zhafira menangkap wajah kakaknya yang tampak sangat pucat dengan mata sembab, senyuman di bibir gadis muda itu seketika memudar. Zhafira langsung menutup pintu dan bergegas mendekati meja rias dengan rasa cemas yang jelas terlihat di wajahnya.

Lihat selengkapnya